Cerita Pejalan

Uka-Uka Jangkung

1

Ketika tiba di Desa Jangkung, Kecamatan Tanjung, Tabalong, Kalimantan Selatan, matahari sedang garang-garangnya bersinar. Namun hari yang terik bukanlah waktu yang tepat untuk sunbathing dan meneguk kelapa hijau muda di tepi pantai, setidaknya demikian bagi lelaki-lelaki penambang pasir itu.

Bagi mereka hari yang terik adalah saatnya bekerja keras, mengumpulkan sebanyak mungkin pasir yang dapat diangkut ke dalam truk-truk bercat kuning. Semakin banyak pasir yang dapat mereka kumpulkan, tentu semakin baik. Sebab jatah makan hari itu amat bergantung pada jumlah pasir yang dapat dikumpulkan.

“Kita ini uka-uka, Mbak.” kata salah seorang dari mereka sembari tertawa geli. Saya menanggapinya dengan ekspresi kebingungan. Dari televisi, saya mengenal uka-uka sebagai salah satu makhluk antagonis yang tak sedap dipandang mata. Seorang lainnya akhirnya menjelaskan bahwa Uka merupakan kependekan dari Usaha Karangan. Karangan dalam bahasa Banjar berarti pasir. Begitulah para penambang pasir itu menyebut diri mereka. Maka, selamat datang di salah satu tepian Sungai Tabalong, tempat uka-uka gigih bekerja!

Mengumpulkan pasir ke dalam truk

Untuk tiba di Desa Jangkung, butuh waktu sekitar 30-40 menit bermotor dari pusat kota Tabalong. Atau sekitar 230 km dari kota Banjarmasin. Sepanjang perjalanan, saya hampir tidak menemukan kendaraan umum. Fasilitas kendaraan umum hanya travel antar kota dan angkutan umum yang hanya terbatas di pusat kota Tabalong, itu pun hanya beroperasi pada jam sekolah, mengingat penggunanya memang didominasi anak-anak usia sekolah. Selebihnya, kebanyakan masyarakat Tabalong menggunakan kendaraan pribadi.

Penambangan pasir Desa Jangkung ini boleh dibilang masih semi-tradisional. Satu-satunya mesin yang digunakan dalam proses penambangan hanyalah generator. Selebihnya masih dikerjakan secara manual.

Terdapat enam bak untuk menampung air sungai sekaligus pasir yang ikut terbawa bersama air. Dengan bantuan pipa, air dan pasir yang berasal dari Sungai Tabalong disedot dan ditampung di bak-bak penampungan tersebut. Generator sebagai sumber energi bagi pipa penyedot diletakkan di tepi sungai. Dan seorang lelaki yang jauh sekali dari usia muda harus berdiri di atas rakit nyaris sepanjang hari untuk mengatur posisi pipa penyedot.

Pak Tua, Pengatur pipa penyedot pasir

Air sungai dan pasir itu disedot dan dialirkan ke salah satu bak, lalu pasir dibiarkan mengendap. Jika dirasa pasir-pasir sudah mengendap, air akan disedot dan dialirkan kembali ke sungai, sedang pasir tetap tinggal di dasar bak. Pasir-pasir yang tinggal itulah yang kemudian dikumpulkan dan diangkut dengan truk.

“Kadang diangkut ke perusahaan semen, kadang pesanan warga aja,” tutur Bang Oval – salah satu dari penambang pasir di sana – menjelaskan pada saya hendak dibawa ke mana pasir-pasir itu.

Bak penampungan pasir itu dinaungi pohon-pohon rindang, membuat saya ingin sejenak duduk bersama beberapa orang dari para penambang pasir yang tengah beristirahat. Sekadar bertukar cerita sederhana dan berfoto bersama, sekaligus mengumpulkan tenaga sebelum melanjutkan perjalanan menuju Kalimantan Tengah.

Saya menyaksikan mereka menyebut salah satu merek rokok sebagai rokok yang keren sekali. Jujur saja, saya kembali heran, bukankah rokok-rokok itu begitu-begitu saja? Apa yang membuat merek tertentu jadi tampak demikian keren di mata mereka?

Ternyata merek rokok yang mereka maksud dianggap sangat mahal. Hampir tidak ada di antara para penambang itu yang terbiasa menghisap merek rokok tersebut. Wajar saja, untuk empat kubik pasir yang berhasil mereka kumpulkan, mereka memperoleh upah sebesar Rp 40.000. Bukan berarti per orang menerima Rp 40.000, sebab untuk memenuhi kuota empat kubik pasir biasanya dikerjakan oleh sekitar 4-6 orang. Artinya, upah sebesar Rp 40.000 itu masih harus dibagi lagi dengan jumlah orang yang mengerjakannya.

Photo session

Obrolan masih terus berlanjut. Mereka masih terus berkelakar dalam Bahasa Banjar. Sementara saya sudah mendekam dalam bianglala di kepala, menginsafi betapa semesta memberkati saya sedemikian rupa. Saya masih berkesempatan untuk menerima upah kerja berkali lipat dari yang mereka terima.

Begitulah perjalanan, membawa kita melihat banyak ke luar untuk berdialog lebih banyak ‘ke dalam’. Tabik!

 

Icha Planifolia
Perempuan dengan bianglala di kepala, penggemar cotton candy.

    Rejang Asak

    Previous article

    Museum Taman Prasasti

    Next article

    1 Comment

    1. :”;) saya juga senang kalau dalam perjalanan bisa dapat banyak kisah. cerita yang menarik tentang uka-uka, kak!

    Leave a reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    [+] kaskus emoticons nartzco