Rinjani, Sunrise dan Eddie Vedder

4

When I walk beside her, I am the better man
When I look to leave her, I always stagger back again
Once I built an ivory tower so I could worship from above
When I climbed down to be set free, she took me in again
(Hard Sun, by Peterson, G. (1989) / Recorded by Eddie Vedder – OST Into the Wild)

Pada kedatangan kedua kalinya saya di Lombok, kesempatan untuk mendaki Rinjani terwujud. Jumat pagi saya dan Lisa, solo traveller asal Jerman yang menjadi teman pendakian, sudah sampai di Terminal Mandalika, Mataram, untuk mencari tumpangan mobil bak-terbuka ke Sembalun, desa di kaki Gunung Rinjani. Setelah mengitari pasar di belakang terminal, akhirnya saya mendapatkan tumpangan menuju Sembalun dengan membayar Rp 70.000 untuk berdua.

Selepas salat Jumat kami tiba di kantor Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) untuk melakukan registrasi. Saya membayar Rp 25.000 untuk rencana pendakian selama lima hari dan Lisa membayar Rp 150.000 untuk satu kali pendakian. Di kantor TNGR kami bertemu satu rombongan pendaki asal Lombok yang juga akan naik siang itu dari Jalur Bawak Nao. “Boleh numpang, Pak?” tanya saya kepada salah satu dari mereka. Lalu kami menaikkan barang-barang ke mobil semi-terbuka itu, kemudian duduk di belakang sambil menikmati angin sejuk khas pengunungan.

Pendakian dari Jalur Bawak Nao dimulai tepat pada pukul setengah dua siang. Perjalanan awal menyusuri rumah-rumah penduduk, kebun sayur dan sawah, lalu masuk hutan. Lima menit menyusuri hutan, perut saya terasa kembung dan napas menjadi berat. Saya berusaha mengejar Lisa yang sudah duluan, tapi dia sudah terlalu jauh. Saya paksakan terus berjalan sampai tiba-tiba muntah di tengah perjalanan.Carrier [rucksack] dilepaskan begitu saja, saya hempaskan tubuh ke tanah, keringat dingin keluar dari pori-pori.

Saya kembali berjalan dan terus memelihara pikiran-pikiran baik. Saya tidak ingin kesempatan mendaki Rinjani ini hilang karena sakit yang datang tiba-tiba. Setelah berhasil menyusul Lisa, saya diberi balsem untuk meringankan rasa kembung. Kami kembali melanjutkan perjalanan dan perlahan rasa kembung mulai hilang dan napas saya kembali normal.

Perjalanan menembus hutan disambut oleh sabana yang memanjakan mata. Jalan tanah yang mengarah ke sisi timur Rinjani membelah sabana yang hijau. Terlihat berkelok dan menanjak di kejauhan. Di tengah perjalanan hujan turun sejenak, menciptakan bau yang khas dari tanah dan rumput basah. Menjelang Pos 1 kami melewati beberapa jembatan beton yang menghubungkan lembah-lembah kecil di tengah sabana. Betapa menarik mendapati bangunan buatan manusia seperti ini ada di alam bebas.

Satu setengah jam perjalanan dari Bawak Nao kami sampai di Pos 1. Beristirahat sejenak untuk minum dan mengambil foto. Perjalanan menuju Pos 2 dilanjutkan, menempuh sabana yang tak bosan-bosan dipandang serta menikmati anggunnya Puncak Rinjani yang timbul-tenggelam di balik kabut. Tidak hanya pemandangan di depan mata yang indah, di belakang ada kampung dan rumah-rumah penduduk, kebun dan bukit-bukit yang mengitarinya, serta hutan dan sabana yang telah dilewati seakan berlomba-lomba menghadirkan keindahan bagi mata para pendaki.

Kabut tebal menyelimuti Pos 2 saat kami sampai di sana, sekitar satu jam berikutnya. Saya menunaikan salat Ashar di sini, setelah itu kami melanjutkan perjalanan menuju Pos 3. Kabut tebal masih menyelimuti sabana di awal perjalanan, seakan para pendaki yang berada di depan lenyap ditelan kabut karena jarak pandang yang terbatas. Kami terus berjalan dan kabut mulai menghilang. Awan membentuk garis-garis halus di langit biru. Perjalanan kurang lebih satu setengah jam menuju Pos 3 jadi begitu tidak terasa. Mata tidak pernah lelah menikmati salah satu karya terindah Tuhan di Pulau Lombok ini.

Jam setengah enam kami sampai di Pos 3 Ekstra, lokasi yang berada sekitar lima menit perjalanan sebelum Pos 3 yang sebenarnya. Di sini kami mendirikan tenda karena mendengar kabar di Pos 3 sudah begitu padat. Langit malam itu diterangi cahaya bulan yang hampir bulat seutuhnya, serta ribuan bintang yang berkelip. Di kejauhan tampak beberapa cahaya kecil dari senter para pendaki yang bergerak perlahan. Malam pertama di Rinjani begitu indah dibanjiri oleh cahaya.

Langit berwarna ungu diselingi segaris warna kuning keputihan saat saya bangun. Udara sejuk langsung terasa memenuhi rongga dada di tengah dingin yang menyergap. Barisan tenda warna-warni mulai bergeliat. Seseorang melantunkan adzan dengan syahdu di tengah ketenangan alam pagi itu. Lisa menyiapkan oat untuk sarapan dan saya mengambil air bersih ke sungai kecil yang tidak begitu jauh dari tenda. Jam setengah delapan kami mulai berjalan ke Pelawangan Sembalun, memulai lebih pagi agar mendapat cuaca sejuk selama perjalanan melewati Bukit Penyesalan.

Cerita-cerita tentang Bukit Penyesalan yang akan dilewati mencegah saya untuk tidak terjebak oleh pandangan mata dan harapan yang diciptakannya. Di atas bukit ada bukit, bukit lainnya baru akan terlihat setelah menyelesaikan bukit sebelumnya. Jika ekspektasi mengikuti apa yang dilihat oleh mata, maka kamu akan menyesal. Karena bukit yang dikira hanya satu atau dua masih terus bersambung dengan bukit-bukit lainnya, dan tentu saja jalannya terus menanjak—dari sinilah berasal nama Bukit Penyesalan. Rasa sesal, dan mungkin juga kesal, memang lahir dari ekspektasi yang tidak sesuai dengan kenyataan.

Kami sampai di Pelawangan Sembalun jam sebelas siang, disambut oleh barisan tenda warna-warni memagari punggung bukit yang menjadi pos terakhir sebelum puncak. Di sini kami akan menghabiskan setengah hari lebih untuk beristirahat dan bercerita hangat dengan para pendaki. Kabut tebal masih betah menyelimuti sekeliling Pelawangan. Sekitar jam empat sore kabut menghilang, dan saya baru menyadari ternyata Segara Anak berada di bawah kami, tampak tenang dan menggoda untuk disambangi.

Menjelang Magrib saya mengambil air bersih yang jaraknya cukup jauh dari tenda. Selain memenuhi botol minum saya menyempatkan diri mencuci kaki, tangan, dan muka di sini. Sesampai di tenda, bagian kulit yang kena air terasa perih. Saya menderita demam ringan. Berhubung tengah malamnya akan melakukan pendakian ke puncak, saya langsung memakai pakaian lengkap. “Don’t die before we go up,” kata Lisa berkelakar saat melihat saya masuk ke dalam sleeping bag dengan jaket, kaos kaki, sarung tangan dan mengikat kepala denganscarf. Lisa memberi saya sebutir obat yang sangat kecil untuk diletakkan di bawah lidah. Dia mengatakan hanya memakan obat itu saat benar-benar butuh energi. Entah jenis apa obat yang dia berikan, saya tidur cepat malam itu.

Tengah malam saya terbangun. Terdengar desauan angin meniup-niup tenda. Jam menunjukkan pukul satu. Saya melongokkan kepala ke luar tenda. Langit biru terang berhias cahaya bulan dan awan tipis, di jalur menuju puncak tampak puluhan cahaya senter bergerak naik. Kami bersiap untuk pendakian ke puncak. Menjelang berangkat kami menitipkan carrier ke dalam tenda rombongan alumni SMA 1 Budi Utomo Jakarta. Berita tentang kehilangan carrier pendaki di Rinjani tentu saja mengkhawatirkan saya dan Lisa. Menitipkan ke tenda yang ada penjaganya menjadi pilihan yang bijaksana dibanding membawanya ke puncak.

Jam dua kami mulai berjalan  menembus malam di antara barisan tenda yang berdiri rapat sepanjang punggung bukit. Sebagian penghuninya tampak sedang makan dan bersiap sebelum memulai perjalanan ke puncak. Beberapa tenda mengeluarkan suara dengkuran dari pendaki yang masih tertidur nyenyak. Memasuki jalur menanjak dan berpasir, napas makin terpacu. Debu beterbangan dari kaki-kaki pendaki. Saya menutup hidung dengan scarf untuk melindungi sistem pernapasan dari debu. Tubuh mulai hangat dan keringat perlahan mulai keluar.

Beberapa pendaki tampak beristirahat dan memberi jalan kepada pendaki lain. Saya dan Lisa terus berjalan agar suhu tubuh tetap terjaga. Kami sampai di puncak bukit yang di bawahnya membentang Segara Anak. Namun ini bukanlah puncak yang dituju, mungkin baru sepertiga perjalanan yang dilewati. Jalan menanjak berpasir di punggung bukit harus dilewati untuk menuju puncak. Saya beristirahat beberapa kali, sementara Lisa terus berjalan ke puncak hanya dengan sesekali berhenti.

Saya sampai di puncak pukul setengah enam saat matahari belum terlihat dan langit masih bewarna keunguan, sementara Lisa sampai di puncak setengah jam lebih cepat. Kami duduk berbaris menghadap ke arah matahari terbit. Seorang turis menyanyikan lagu ‘Happy Birthday’ yang diikuti oleh teman-temannya lalu diiringi oleh sebagian besar orang-orang yang sudah sampai di puncak pagi itu. Entah siapa yang berulang tahun, lagu itu menggema riuh menyambut kehadiran matahari.

Langit mulai berwarna kekuningan, matahari perlahan keluar, beberapa pulau kecil tampak makin jelas di kejauhan, kamera berebutan mengabadikan keindahan, dan rasa syukur menguap kepada Sang Pencipta atas diberikan kesempatan menikmati semua kejadian ini. ‘Hard Sun’ dan ‘Rise’ dari Eddie Vedder [soundtrack ‘Into the Wild’] menemani saya dan Lisa menikmati keindahan pagi di Puncak Rinjani. Setelah itu kami ikut mengantre untuk berfoto sambil memegang plang ‘Puncak Rinjani’ demi ‘keafdolan’ dari sebuah pendakian.

Labuan Bajo, 27 Juni 2015.

4 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

[+] kaskus emoticons nartzco

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.