Cerita PejalanGeneral

The Van Diary: Renung dan Tutur di Gunung Batur

1

“Kita ngga jadi naik, kan?” Menggeliat dengan mata setengah terbuka, Vifick bertanya dengan harapan semua tidak jadi naik dan bisa melanjutkan tidur. Udara pukul 04.00 WITA di Kintamani kejam menusuk tulang. Kami yang tidur di tepi danau Batur mendekap segala yang ada erat-erat untuk mengurangi rasa dingin.

Jeje, fotografer lepas yang juga sahabat kami, malam sebelumnya menawari kami untuk bermalam di pondokan sederhana nan hangat di tepi Danau Batur. Tawaran itu tidak disia-siakan sehingga malam ini kami tidak perlu repot-repot mendirikan tenda. Seharusnya semalam sebelum mendaki kami tidur yang cukup untuk persiapan fisik esok pagi. Namun, hangat api unggun, kopi, kudapan, dan suara merdu dari senar gitar yang dipetik Ajo mengajak kami untuk melek semalaman.

Tidak terasa jam menunjukan pukul 03.00 WITA. Setuntas mengemas barang-barang yang beberapa jam lalu digunakan sebagai pengundang rasa hangat, kami memulai perjalanan mendaki Gunung Batur. Jalan dari basecamp menuju kaki Gunung dengan ketinggian 1717 mdpl ini sudah diaspal, di kiri kanan jalan ramai pohon tomat dan cabai yang buahnya merah ranum siap dipanen. Kami bukan rombongan pertama yang naik, di sekujur Gunung Batur sudah penuh titik-titik cahaya mengular yang berasal dari senter pendaki.

Gunung Batur menjadi daya tarik bagi wisatawan dari seluruh dunia. Dari percakapan orang-orang yang mendahului kami, saya bisa menduga mereka berasal dari Perancis, Jerman, Belanda, Australia, Rusia, Jepang, China/Taiwan, dan Singapura. Saya sempat mengamati kecenderungan karakter berpakaian mereka. Pendaki dari Eropa berpakaian layaknya ingin lari pagi, menggunakan sepatu jogging, kaos tipis, dan celana pendek. Pendaki Jepang menggunakan tongkat, lengan panjang, dan celana panjang tipis namun tetap simpel dan mudah bergerak. Orang China/Taiwan dan Singapura sangat trendy, yang pria berpakaian layaknya ingin main golf dan menggunakan sepatu semi-formal atau sepatu jogging yang down to date. Yang wanita lebih rumit, mereka mengenakan kaos penuh aksesoris atau gaun dan sepatu balet, bahkan saya liat seorang menggunakan wedges. Yang paling well-prepared adalah pendaki Indonesia, mereka mengenakan kupluk, sepatu pendakian, jaket tahan-angin, slayer, dan carrier yang cukup besar seperti ingin mendaki Gunung Rinjani.

Gunung Batur memuntahkan lava sekitar 10 tahun lalu, bekas-bekas erupsinya masih sangat jelas terlihat dari batuan dan tanah di sepanjang perjalanan mendaki. Kami harus menjejak di tanah berpasir yang di beberapa lokasi cukup rapuh. Namun, pemandangan padang rumput dan kerlip lampu dari rumah-rumah penduduk di kejauhan sudah menghibur penglihatan sejak mula-mula pendakian. Apalagi pemandangan tersebut dipercantik permukaan Danau Batur yang tenang dan sesekali menguarkan embun.

Nampaknya kami cukup terlambat memulai pendakian. Belum sempat langkah menjejak di puncak, matahari sudah membuka mata dan perlahan-lahan berdiri ke ketinggian langit pagi Kintamani. Cahaya oranye membanjiri padang ilalang yang membentang di sisi timur. Gunung Abang yang semula nampak kelam dan dingin mulai menampilkan komposisi warna batuan vulkanik dan hutan lebat. Tidak ingin lebih ketinggalan dengan pendaki lain, kami mempercepat langkah menuju puncak.

“Di Bali, yang penting kamu bawa cukup uang, semua sudah disediakan untuk dibeli,” ungkapan seorang teman beberapa tahun lalu itu saya amini di Gunung Batur ini. Bagaimana tidak, dari kaki gunung sampai titik-titik mendekati puncak juga puncak, tersedia warung-warung yang siap menyuguhkan minuman hangat dan kudapan berat untuk kita santap. Asal siap membayar saja sesuai harga internasional. Kami tidak menjajal satu warung pun, bekal kami dari rumah hanya bensin, botol air, roti, dan snack untuk sampai ke puncaknya. Oia, kurang dua lagi, kami punya semangat dan kamera berbaterai penuh dengan memory yang besar.

Sekitar pukul 05.40 WITA kami tiba di puncak Gunung Batur. Berdasarkan legenda dalam Lontar Susana Bali, Gunung Batur adalah puncak dari Gunung Mahameru yang dibawa Batara Pasupati untuik dijadikan Sthana Betari Danuh (istana Dewi Danu). Pada tanggal tertentu, seluruh umat Hindu dari penjuru Bali datang ke Batur menghaturkan Suwinih untuk menghalau serangan hama yang menerpa ladang mereka.

Puncak Gunung Batur merupakan bibir kawah. Kita bisa mengelilinginya dan turun dari sisi lain gunung bila memiliki cadangan energi yang cukup. Walaupun tidak terlalu tinggi, mengeksplorasi gunung suci ini merupakan tantangan tersendiri. Selain kondisi alam yang didominasi pasir dan batu juga kita harus berkompromi dengan terik matahari. Melihat hal tersebut kami tidak tertarik mengikuti ajakan seorang pejalan dari Perancis untuk mengelilingi gunung ini dari sisi kawah paling ujung. Pada akhirnya hal paling menarik untuk dilakukan di puncak gunung adalah hening dan merenung.

Saya jadi teringat cerita Jeje semalam tentang sumpah Ki Anglurah Panji Sakti empat ratus tahun yang lalu. Ia berjanji mempersembahkan kentongan emas, dua buah patung singa sebagai wujud manifestasi para leluhur, tuak berem yang dituang di sepanjang jalan dari Sukasada hingga Desa Batur, serta kain putih yang dililitkan tanpa putus mengitari Gunung Batur. Sumpah tersebut terucap setelah kerajaannya mendapat wabah karena menyerang Desa Batur yang sedang lengah dan menghina benda suci milik desa tersebut. Namun, sampai akhir hayatnya sumpah tersebut tidak terpenuhi. Setahun lalu Pemkab Buleleng akhirnya memenuhi janji tersebut dengan mengadakan upacara yang dijanjikan raja yang terkenal sakti dan suka berperang tersebut.

Saya jadi mengenang ucapan seorang teman beberapa tahun lalu ketika saya minta maaf karena sering datang terlambat: “Manusia seharusnya seperti matahari, ia tidak pernah ingkar untuk datang dan pergi tepat waktu.”

Matahari yang terik, kisah Ki Anglurah Panji Sakti, dan ucapan seorang teman akhirnya bertemu di Puncak Agung Gunung Batur. Bersatu membawa kesadaran atas kelakuan diri yang seringkali sesumbar melempar janji tanpa keyakinan bisa menepatinya.

Kami semua merenung lama, kemudian bergegas turun setelah tidak ada lagi manusia di ketinggian ini.

The Van Diary: Bali Bridge Ubud

Previous article

The Van Diary: Echo Beach

Next article

1 Comment

  1. Saya sangat suka deskripsi dari orang-orang dari berbagai bangsa yang beramai-ramai menyambangi puncak Gunung Batur. :)

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

[+] kaskus emoticons nartzco