Redefining Death Through Traveling

2

Kematian, adalah sebuah kata yang mengerikan pada umumnya. Merupakan suatu kondisi dimana mahluk hidup tidak bernyawa lagi. Kematian pasti akan menghampiri setiap manusia. Tidak perduli yang tua, muda, kaya, miskin, Caucasian, Mongolian, semua pasti akan mengakhiri hidupnya dengan kematian.

Di era modern seperti sekarang, banyak orang khususnya anak muda yang berfikir bahwa lebih mudah mati daripada hidup. Stress, kejenuhan, ekonomi, adalah beberapa faktor yang menambah presentase kematian. Semua orang mengetahui bahwa kematian itu ada, tapi apakah semua orang menyadari bahwa kematian juga hadir dalam diri mereka sendiri?

Selama saya hidup, saya sering memikirkan tentang kematian, dan apa esensi dari kematian itu sendiri. Banyak kerabat yang sudah berusaha memberikan penjelasan tentang apa itu kematian, kebanyakan mereka mengutip dari ajaran agama-agama yang mereka anut. Tetapi ternyata penjelasan mereka tidak membuat saya puas.

Rasa keingintahuan membuat saya untuk melakukan perjalanan. Sebuah alasan mengapa saya memilih untuk melakukan perjalanan sendiri. Karena saya ingin meresapi arti murni dari sebuah fenomena, dan juga melihat segalanya sebagai realita, yang pada akhirnya dapat mendefinisikan sebuah kata termasuk kematian.

Kematian juga sempat hadir dalam pikiran sewaktu saya melakukan perjalanan. Saya ingat ia hadir disaat seseorang mengkalungkan senjata tajam di leher saya sewaktu mendaki Gunung Gede, Jawa Barat. Sampai pada saat itu saya masih berfikir bahwasanya kematian itu bukanlah apa-apa. Saya tidak menghargai hidup saya sebagaimana saya tidak menghargai kematian itu sendiri.

“The hour of departure has arrived and we go our ways; I to die, and you to live.
Which is better? Only God knows.” –Socrates

Hari-hari yang saya jalani cukup terlihat semu. Mati dan hidup masih saya yakini sebagai kehampaan. Ketidakberhagaan, mungkin itu adalah kata yang tepat untuk mewakili hidup dan mati. Hanya menjalani peran sebagai organisme yang membuang waktunya. Keacuhan seperti ini makin mendorong saya untuk melakukan perjalanan. Untuk menemukan dan mendefinisikan ulang semua kata yang saya mengerti.

Perjalanan demi perjalanan saya lalui. Terkadang saya mendiskusikan kematian bersama orang-orang yang saya temui dalam perjalanan. Kebanyakan dari mereka menjelaskan apa yang kerabat saya jelaskan, sebuah definisi kematian berdasarkan agama yang mereka anut. Tetapi sebagian dari mereka mampu menjelaskan kematian dalam bahasa, analogi, dan perspektif yang sulit saya mengerti.

“Kenapa takut mati, wong mati iku uenak kok.” –Stranger

Saya mengumpulkan semua informasi yang saya bisa terima tentang kematian. Tetapi itu masih tidak cukup. Saya masih tidak bisa mendefinisikan kematian seorang diri. Apakah seseorang harus mengalami kematian terlebih dahulu hanya untuk mendefinisikannya? Tidak bisakah kematian dianalisa dari luar saja? Apakah kematian itu adalah kekosongan? Sekosong definisinya sendiri? Semua pertanyaan yang saya masih pikirkan sewaktu itu. Traveling menuntun saya kepada jawaban yang saya inginkan. Ia membantu saya merasakan semua hal yang mungkin sebelumya saya tidak rasakan. Dengan merasakan secara langsung, saya mampu mendefiniskan ulang semua kata seperti yang saya mau.

Sampai pada April 2011, saya melakukan perjalanan sendiri ke Aceh. Tanpa perencanaan yang matang, saya memberanikan diri hanya untuk merasakan pengalamam yang belum pernah dirasakan. Singkatnya, saya akhirnya sampai di Kepulauan Banyak, Aceh Singkil. Dengan keramah-tamahan penduduk lokal, saya berencana mengunjungi beberapa destinasi di sana. Dan di sinilah saya akhirnya mampu mendefinisikan ulang kematian dengan versi saya.

Di hari kedua saya menginap, terjadi gempa yang cukup besar. Dengan durasi hampir 5 menit, gempa itu mampu membuat saya dan 2 kerabat baru saya dari Belgia untuk keluar dari penginapan. Di sinilah saya menyaksikan hal yang langka. Semua orang berlarian, berteriak, bergegas keluar dari rumah, juga mengucap doa-doa. Saya melihat wajah-wajah penduduk setempat dengan raut yang bingung, panik, dan juga takut. Otak saya terus bekerja. Berusaha melogikakan fenomena apa yang baru saja terjadi.

Tangisan anak kecil, ratapan seorang ibu, dan keringat yang mengucur deras dari seorang bapak adalah pemandangan yang saya saksikan selama hampir 30 menit. Dari sini saya menyimpulkan bahwa mereka mengalami rasa takut akan kematian yang kemungkinan datang sebentar lagi. Dengan sinyal seadanya, saya berhasil mengumpulkan informasi bahwa benar terjadi gempa di Aceh dengan potensi tsunami menghantam pulau kami. Saya menjelaskan apa yang saya tahu kepada seorang bapak dan kerabat dari Belgia. Sontak saja, ekspresi mereka berubah menjadi semakin takut dan takut.

“The fear of death is worse than death.” –Robert Burton

Rasa takut, ya takut. Perasaan ini yang dialami oleh orang-orang sekeliling saya. Yang pada akhirnya, rasa takut merasuki benak saya. Dengan seksama, saya mencoba untuk mencari asal-usul mengapa saya takut akan kematian. Ternyata rasa takut itu berujung pada ketidaktahuan. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi sebentar lagi. Apakah tsunami benar-benar akan menghantam? Apakah saya akan selamat? Apa yang akan terjadi bila saya tidak selamat? Terdapatkah akhirat setelah kematian? Semua pertanyaan ini memang membingungkan. Tak ayal saya takut sewaktu itu.

“Know one knows whether death, which people fear to be the greatest evil, may
not be the greatest good.” –Plato

Setelah 1 jam, listrik akhirnya menyala kembali. Saya berusaha mengelilingi pulau untuk mencari tambahan informasi. Para penduduk berkumpul bersama untuk menyaksikan laporan berita di televisi. Saya bertanya kepada mereka tentang fenomena alam yang baru kami rasakan. Dan di sinilah terjadi perubahan. Mereka sudah tidak takut lagi, bahkan mereka tersenyum! Seakan-akan mereka sudah terbiasa dengan fenomena ini. Mereka menceritakan tentang tsunami Aceh pada tahun 2004, dan juga tsunami Nias 2 tahun setelahnya. Mereka menjelaskan secara detail tentang hancurnya Aceh Singkil karena tsunami Nias. Yang mengejutkan, mereka menjelaskan hal tersebut seperti cerita yang menarik. Mereka mungkin sudah tidak menghiraukan potensi tsunami yang masih belum
dicabut oleh BMKG.

Setelah berkeliling, saya dan pasangan dari Belgia kembali ke penginapan. Mereka menawarkan makanan yang mereka konsumsi, tapi saya menolaknya. Rasa lapar tidak hadir dalam pikiran saya. Saya terus berfikir keras tentang fenomena-fenomena ini. Gempa susulan yang masih terjadi, tsunami warning yang belum dicabut, dan perubahan psikologis penduduk lokal yang sangat drastis. Sang pemilik restoran akhirnya menghampiri saya. Mencoba menenangkan dan menjelaskan tentang fenomena tersebut. Ia menjelaskan kepada saya tentang ajaran agamanya. Bahwa sebagai manusia seharusnya berpasarah kepada Yang Maha Kuasa.

Sore akhirnya menjelang. Para penduduk pulang ke tempatnya masing-masing. Terdengar pula doa-doa dari pengeras suara masjid. Semua orang berdoa memohon ampunan dan berpasrah. Saya tidak pernah menyangka bahwa psikologis para penduduk berubah lagi. Mereka menerima apa saja yang akan terjadi. Bahkan mereka tidak berfikir untuk keluar dari pulau ini. Sebuah fenomena keimanan yang menakjubkan! Saya mencoba untuk menyewa speedboat untuk keluar dari pulau ini. Tetapi sang pemilik menolaknya. Ia hanya ingin berada di pulau ini, bersama keluarganya, dan berdoa. Keimanan yang membuat saya takjub.

“You should’ve known you couldn’t fight faith”

Senja pun datang. Saya dan pasangan dari Belgia duduk di dermaga untuk melakukan “The Last Toast”. Kami berbincang-bincang tentang hidup kami selama ini. Di fase inilah saya memikirkan tentang penerimaan (acceptance) dari kematian. Tidak ada jalan keluar, tidak ada alternatif, hal yang saya bisa lakukan adalah menerima, seperti penduduk lokal lakukan. Saya akhirnya menyadari bahwa kematian itu penting. Kematian adalah hal yang mengakhiri kehidupan. Tanpa kematian, tidak ada kehidupan. Lalu, mengapa saya harus menakuti kematian? Tanpa kematian hidup saya tidak mungkin lengkap. Dan akhirnya pernyataan dari orang asing tentang nikmatnya kematian menjadi sangat jelas. Kematian adalah kenikmatan dan kesengsaraan terakhir yang saya bisa dapatkan, sebuah kedamaian.

“There will be no lasting peace either in the heart of individuals or in social customs until death is outlawed.” –Albert Camus

Teringat pula tentang sebuah cerita dari kerabat dekat. Ia menceritakan kematian berdasarkan buku yang ia baca. Dikisahkan terdapat beberapa seri ombak. Ombak-ombak tersebut begitu cepat berjalan. Lalu seketika ombak pertama merasa takut dan berbicara, “Aku akan menabrak daratan, aku akan mati, apa yang akan terjadi pada diriku?” Dengan jelasnya ombak kedua menjawabnya, “Kau bodoh sekali! Kita itu bukan ombak. Kita itu adalah bagian dari lautan.” Dengan berbekal dari pembedahan cerita tersebut, saya akhirnya mendapat perspektif berbeda. Bahwa saya ada manusia, dan saya adalah bagian
dari alam semesta ini. Dan hal ini mampu membuat saya menerima bahwa kematian saya adalah hal yang positif.

“All that live must die, passing through nature to eternity.” –William Shakespear

Semua yang saya baru saksikan, rasakan, dan pikirkan akhirnya merujuk pada satu hal, yaitu peneriman terhadap kematian. Saya sudah siap untuk mati saat itu. Kematian bukanlah lagi menjadi hal yang mengerikan. Dan kematian bukanlah akhir dari cerita diri kita.

“Death never takes the wise man by surprise, he is always ready to go.” –Jean de la Fontaine

Traveling membawa saya kepada hal yang saya inginkan. Pendefinisian kata sesuai keinginan saya dan pendewasan juga pengembangan diri. Saya ingat peryataan seseorang saat saya bertanya tentang kematian. Ia merasa takut untuk mati karena ia tidak menjalani hidupnya secara penuh. Yakinlah bahwa seseorang dapat menjalani hidupnya secara penuh, dan traveling mungkin adalah salah satu cara untuk memenuhinya.

2 COMMENTS

  1. Kak, tahu gak waktu itu yang panik juga banyak. Banyak yang berusaha menghubugi kakak tapi gak ada yang bisa sampai kemudian kami dapat kabar kakak baik2 saja di sana.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

[+] kaskus emoticons nartzco