Cerita Pejalan

Mandi-mandi di Kampung Tugu

4

Minggu pertama tahun 2015, saya habiskan dengan mengunjungi Kampung Tugu. Kampung yang terletak di Kelurahan Semper Barat, Cilincing, Jakarta Utara itu sampai saat ini merupakan tempat bermukim bagi komunitas keturunan Portugis.

Menurut sejarah, wilayah yang sekarang bernama Kampung Tugu semula hanyalah rawa yang kemudian direklamasi oleh VOC. Di sana lalu dibangun permukiman yang khusus diperuntukkan bagi keluarga-keluarga keturunan Portugis.

Alkisah, pada tahun 1641 VOC berhasil merebut Malaka – kota pelabuhan penting yang sebelumnya dikuasai Portugis – di Semenanjung Malaya. Kembali ke Batavia, VOC membawa pulang sejumlah tawanan perang yang merupakan orang-orang Portugis. Mereka lalu ditempatkan di sekitar Kampung Bandan. Dua puluh tahun kemudian mereka dipindahkan ke Kampung Tugu. Kala itu bermukim sekitar 23 keluarga yang kemudian hari dikenal dengan istilah de mardijkers (orang-orang bebas).

Hingga saat ini, komunitas keturunan Portugis di Kampung Tugu masih tetap mempertahankan tradisi dan budaya leluhur mereka. Pesona inilah yang kemudian membawa saya dan beberapa teman Traveller Kaskus menginjakkan kaki di Kampung Tugu. Kali ini kami bertandang bukan untuk menyaksikan pertunjukan musik keroncong Tugu yang legendaris itu, namun demi menyaksikan tradisi Mandi-mandi yang hanya dilaksanakan setahun sekali.

Meskipun bertajuk Mandi-mandi, jangan bayangkan bahwa kami akan melakukan mandi bersama. Nyatanya, acara itu jauh dari aktivitas membasuh badan dengan air. Lantas kenapa sampai disebut Mandi-mandi? Jadi, dalam acara Mandi-mandi ini ada sebuah lagu yang wajib dinyanyikan, yang judul sebenarnya adalah “Mande Mande”. Lama kelamaan pelafalan “Mande Mande” berubah menjadi “Mandi Mandi”. Begini kira-kira syairnya:

Mande Mande

Mande, mande, anak ona e mande,

Kalau rasa bagaimana, beta pulang kawin dengan se.

Sareka, reka, gaba-gaba, ampat buah

Kalau nona sayang beta, mari dekat, dekat dekat jua.

Mala yong, mala yong, mala yong

Mala ditinggal dan tanjung, tanjung nyo (tanjung nyo)

Mala ditinggal dari tanjung, tanjung, tanjung nyo

Mandi-mandi adalah acara puncak dalam serangkaian tradisi di Kampung Tugu, yang diselenggarakan setelah Natal dan “Rabo-rabo”. Biasanya acara ini diadakan pada hari Minggu pertama setelah tahun baru di rumah salah satu dari empat fam besar yang masih bertahan di Kampung Tugu. Untuk tahun 2015 ini, Mandi-mandi dilaksanakan di kediaman keluarga alm. Samuel Quicko.

Tradisi diawali dengan kegiatan ibadah yang dilakukan menurut ajaran Nasrani – leluhur mereka awalnya memeluk Nasrani dan sampai saat ini pun sebagian besar mereka masih menganut Nasrani, walaupun banyak juga yang berpindah keyakinan. Karena datang pada saat penghujung ibadah, kami memilih untuk mengamati saja dari jauh sambil bercengkrama dengan anak-anak kecil yang berlarian di sana. Tidak sedikit pria berkopiah dan wanita berjilbab yang juga turut menghadiri acara ini. Kami pun ikut berdoa dengan cara kami masing-masing. Manifestasi toleransi yang indah bukan?

Selesai ibadah, acara dilanjutkan dengan sambutan dari beberapa tokoh yang memiliki hubungan dengan Kampung Tugu – Alfondo Andries, ketua Ikatan Keluarga Besar Kampung Tugu (IKBT); Lilie Suratminto, peneliti Bahasa Kreol Tugu dari Universitas Indonesia; serta Guido Quicko, perwakilan tuan rumah.

Acara pun dilanjutkan dengan penampilan tarian Betawi sebagai penanda dimulainya makan siang. Berbagai makanan khas Kampung Tugu tersedia lengkap di atas meja panjang. Antrean pun mengular. Sementara itu panitia mulai sibuk menyiapkan bedak berwarna merah jambu yang dibasahi dengan air. Bedak basah inilah yang menjadi inti dari Mandi-mandi. Jadi, nantinya akan ada “perang” – orang-orang yang datang di perhelatan itu akan saling menorehkan bedak ke bagian wajah masing-masing, dimulai dari para tetua. Bedak basah yang ditorehkan di wajah merupakan simbolisasi dari saling mendoakan antar sesama warga dalam komunitas agar mendapat berkah dari Tuhan di tahun yang baru. Selain itu acara ini menjadi ajang memperkuat silaturahim dan saling memaafkan atas semua kesalahan yang diperbuat sepanjang tahun yang sudah lewat.

Datanglah saat yang ditunggu; selepas makan kami turun ke arena. Dengan modal gelas plastik kecil kami meminta bedak basah kemudian berbaur dengan warga untuk saling menorehkan bubuk basah itu. Alunan merdu keroncong Tugu pun menambah keriuhan. Lagu-lagu yang dilantunkan tidak melulu tembang tradisional Kampung Tugu tetapi juga lagu-lagu yang berasal dari daerah lain sehingga kadang-kadang kami bisa ikut bernyanyi. Kami merasa benar-benar diterima dengan baik; diajak menari dan bernyanyi, tak lupa dikenalkan pada para tetua. Semua orang bergembira – tua, muda, lelaki dan perempuan, bahkan anak-anak pun ikut merasakan keriangan ini.

Hampir satu jam kami menari sebelum melipir kembali ke pojokan untuk beristirahat sejenak. Sebelum menghapus bedak di wajah, kami sempat mengabadikan wajah-wajah yang coreng-moreng ini bersama anak-anak kecil di sana. Oh, ya. Setelah diperhatikan, wajah kami jadi lebih cerah dan segar setelah bedak dihapus, lho. Foto bersama seluruh warga yang hadir pun jadi agenda wajib yang tidak boleh dilewatkan begitu saja.

Sesi foto selesai. Kami pun segera pamit sebab kami memang berencana hendak melanjutkan perjalanan ke Gereja Tugu; berkunjung ke Kampung Tugu tak lengkap rasanya jika tidak berkunjung ke Gereja Tugu.

Pada akhirnya, melakukan sebuah perjalanan tidak hanya melulu soal seberapa jarak yang ditempuh. Seperti yang kami alami di atas. Meski Kampung Tugu masih di dalam area Jakarta, tempat itu ternyata dapat memberikan pengalaman dan pelajaran yang tidak sedikit. Keramahan, toleransi yang tinggi, serta tradisi yang masih dipelihara, membuat kami terpesona. Tahun depan, jika umur masih panjang, kami takkan ragu untuk datang kembali menyapanya.

 

Suci Rifani
Ke gunung, ke laut, dan 'ngegembel' adalah pencarian jati diri sebagai anak manusia. Untuk mencari jati diri sebagai anak bangsa, mulailah dengan belajar sejarah.

    Traveller Kaskus Voluntourism Writing Competition

    Previous article

    Pameran Fotografi Perjalanan

    Next article

    4 Comments

    1. Wah, Suci! Baru tahu ada yang namanya Kampung Tugu! Sepertinya memang harus ke sana kapan-kapan ^^

      Josefine Yaputri
      Content Writer & Editor
      Grivy Dotcom

    2. Haiiii sefiin,

      yuksss yuks awal tahun depan ke sana, rencananya windy dan mumun jg ingin ke kp. Tugu kok.

      Suci Rifani

    3. Ayoook! kita berkabar yaaa yuuk ^^

    4. kak suci kalau ingin berkunjung dan melihat tradisi mandi-mandi di kp. tugu, apakah harus memiliki izin, atau bisa disaksikan oleh orang umum?. terima kasih

    Leave a reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    [+] kaskus emoticons nartzco