Meliuk-liuk Komunitas Badan Gila

0

Sepintas termenung di ujung barisan bangku yang berjejer rapih di depan panggung Bentara Budaya Bali sambil menyesap kopi. KOBAGI (Komunitas Badan Gila), nama nyeleneh yang akan tampil setelah sajian makan malam entah apa yang akan ditampilkan tapi pikirku menimbang tentang tarian yang meliuk-liuk di antara api atau seni ketangkasan yang mengandalkan otot karena memang semua penampilnya adalah laki-laki. Entahlah.

Belum juga terjawab penasaranku berpindah dari jejeran bangku ke bale-bale tak jauh dari belakang panggung sambil bertukar diam dengan pria paruh baya yang sedang menghembuskan asap kreteknya, kemudian pria tersebut menghujam kretek setengah puntung ke lantai lalu agak tergesa ke belakang panggung kemudian bertelanjang dada.

Hening, belasan pria bertelanjang dada menyeruak ke depan panggung dengan alunan nyentrik di telinga yang kukira awalnya berasal dari rekaman melodi yang sengaja dibuat untuk mengiringi pertunjukan mereka, namun indera pendengaran serasa ditipu oleh alunan nyentrik yang mulai terbiasa di telinga. Alunan yang berasal dari pukulan-pukulan tangan kehampir seluruh anggota tubuh para penari menghasilkan merdu yang berkolaborasi dengan gerakan-gerakan padu, hasil sinkronisasi olah tubuh dan alunan melodi membuatku terkesima sekaligus kagum.

Tak berhenti di situ, seolah anti klimaks perlahan suara yang lahir dari perkusi badan semakin beragam dengan banyak area yang dipukul-pukul untuk menghasilkan alunan melodi yang semarak mengiringi gerakan lugas belasan pria di atas panggung Bentara Budaya Bali tak henti membuatku berdecak kagum. Pertama kali melihat kegilaan ini, liukan-liukan tegas tapi tetap memberikan sensasi visual khas Bali dengan ritme melodi eksentrik seakan baru untuk telinga namun rasanya tak ingin klimaks untuk menyaksikannya.

Mereka menari meluapkan keceriaan, bebas namun tetap tercipa ritme yang hangat layaknya persahabatan semuanya ekspresif sama halnya pertunjukan teater.

KOBAGI merupakan asa kreatif yang tercipta dari komunitas CAK yang berasal dari Tegalalang, Gianyar, Bali dengan pimpinan I Wayan Sutapa berkolaborasi dengan seniman Prancis Gregorie Gensse. Cak Kobagi merupakan perwujudan kecak dan gencek yang ekspresif dengan tubuh sebagai medium. Tepukan tangan, dada, mulut, pipi, rahang dan hampir semua bagian tubuh merupakan perkusi hidup yang melantunkan melodi tuk mengiringi gerakan sehingga menghasilkan paduan harmoni di luar imajinasi.

KOBAGI mempresentasikan persinggungan global melalui bodymusic dengan rasa lokal dibumbui musikalitas dari tubuh yang harmonisasinya masih memiliki akar seni cak. Kondisi ini membuat kebudayaan Bali lebih berwarna dan menjadi jejak mahakarya tanpa menanggalkan nilai luhurnya.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

[+] kaskus emoticons nartzco

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.