Jalan-Jalan ke Kampung Bajo Togean

10
kampung suku bajo togean
Kampung Suku Bajo Togean/dok. Ridho Mukti

Adalah sebuah narasi besar bahwa penjelajah-penjelajah ulung berasal dari Eropa. Christopher Columbus dari Genoa menemukan Benua Amerika, meskipun ada pula dugaan bahwa orang-orang Viking sudah lebih dulu menginjakkan kaki di Amerika Utara. Cerita lain adalah Ferdinand Magellan yang berhasil mengelilingi dunia hanya dengan kapal sepanjang 21 meter pada tahun 1519, yang sampai sekarang masih dinilai sebagai tonggak sejarah abad penjelajahan sekaligus prestasi navigasi paling berani sepanjang sejarah manusia.

Penjelajahan mengelilingi dunia bermula ketika rempah-rempah menjadi komoditi penting dunia, seperti halnya minyak bumi di masa kini. Orang-orang Eropa berdatangan ke Konstantinopel yang saat itu adalah pusat perdagangan dunia. Para pedagang Asia Barat menjual vanili, lada, dan cengkeh di sana, dan berhasil memonopoli perdagangan dunia.

Namun, jatuhnya Konstantinopel ke Turki Usmani mengakibatkan pasokan rempah-rempah terputus ke Eropa. Situasi inilah yang mendorong bangsa Eropa untuk menjelajahi jalur pelayaran dan akhirnya berhasil tiba di Kepulauan Rempah: Maluku.

fondasi bangunan suku bajo togean
Orang Bajo juga memanfaatkan karang sebagai fondasi bangunan/dok. Ridho Mukti

Sebelum memulai perjalanan hari itu saya sama sekali tidak menduga bahwa saya akan memperoleh sebuah narasi kecil soal penjelajahan samudra, bahwa pelaut ulung tidak hanya ada di Eropa; kita juga punya.

Hari sudah siang dan kami terlambat untuk beranjak dari Fadhila Cottage menuju Kampung Bajo. Kapal telah menunggu kami sedari pagi. Saya memang kurang bersemangat ketika Mas Haris, tour leader kami, menyeru rombongan untuk segera bersiap menuju Kampung Bajo.

“Ah, paling kampung orang sini aja,” pikir saya. Namun setelah dua jam melaut, ternyata dugaan saya salah. Perkampungan ini berdiri di tengah laut. Fondasi-fondasi kayu menjulang ke atas dari dasar laut untuk menopang ratusan rumah warga. Beberapa tampak akan ambruk tak kuat menahan beratnya beban dan kencangnya angin. “Gimana ceritanya mereka bisa tinggal di tengah laut begini?” bisik saya dalam hati.

rumah orang suku bajo togean
Laut adalah halaman bagi rumah-rumah orang Bajo/dok. Ridho Mukti

Ternyata tak cuma saya yang bertanya-tanya. Selama puluhan tahun, para ilmuwan juga sibuk meneliti asal muasal orang Bajo.

Mengenai itu, banyak versi yang beredar di kalangan orang Bajo sendiri tentang asal usul mereka. Ada yang berpendapat bahwa orang Bajo pernah menjadi prajurit laut Kerajaan Sriwijaya, yang artinya mereka telah eksis sebelum tahun 800 M, jauh sebelum Christopher Columbus menemukan Benua Amerika dan Ferdinand Magellan mengelilingi dunia. Yang artinya lagi, orang Bajo menjelajah laut dengan perangkat yang jauh lebih sederhana.

Versi lain menyebutkan pada suatu ketika Raja Johor di Semenanjung Malaysia kehilangan putrinya yang sedang mengarungi Nusantara. Kaki tangan raja diperintahkan melaut untuk mencari sang putri dan tidak diperbolehkan kembali tanpa membawa serta si buah hati raja. Dari sinilah dimulai sebuah perantauan tak berujung. Para hamba mengarungi lautan dengan mengikuti arah angin. Mereka tak kembali dan justru menyebar untuk mengadu nasib di lautan lepas.

permukiman suku bajo togean sulawesi
Permukiman suku Bajo tampak dari ketinggian/dok. Ridho Mukti
suasana kampung bajo siang hari
Suasana Kampung Bajo di siang hari/dok. Ridho Mukti

Ketika kapal saya sandar di Kampung Bajo, saya disambut tiang-tiang tak seberapa tinggi yang menopang rumah mereka. Perahu-perahu kecil tertambat di sampingnya. Sesekali terdengar teriakan “Hello, mister!” sebab saat itu Daniel, kawan kami yang berasal dari London, tengah berdiri di haluan kapal yang kami tumpangi. Barangkali karena umumnya wisatawan yang datang ke sini adalah turis mancanegara, masyarakat Bajo tampak sudah begitu terbiasa dengan turis asing.

Anak-anak kecil berseragam merah putih mengerubuti kami yang baru saja melompat dari kapal ke jalanan kampung yang lebih pas jika disebut sebagai jembatan. Beberapa orang tua tengah asyik bercengkerama di halaman depan rumah, turut menyambut kami dengan senyuman. Sungguh menyenangkan disambut bak pahlawan seperti itu.

Air laut sedikit keruh di sekitar sini. Pasir laut berwarna hitam, menandakan keberadaan endapan-endapan limbah rumah tangga. Sampah-sampah plastik berkumpul menjadi satu di kolong rumah mereka. Pada pagi hari, laut surut dan air pun mengalir membawa segala jenis sampah, plastik sabun dan kotoran manusia, menuju lautan lepas. Jika tidak, sampah dan lain-lainnya hanya berputar-putar di bawah kolong rumah.

anak anak kampung bajo
Anak-anak sedang berkumpul di samping bangunan sekolah dasar/dok. Ridho Mukti

Jalanan kami susuri hingga tiba pada satu belokan yang mengakhiri jalanan kayu—dan berubah menjadi jalanan berbatu. Sebuah masjid berdiri di pulau kecil ini. Di halaman depannya menghampar pekarangan yang dimanfaatkan anak-anak untuk bermain bola. Di pinggir-pinggirnya adalah warung-warung kecil. Dari sini, semakin banyak anak-anak yang mengikuti kami menjelajahi setiap gang di kampung ini.

Perjalanan kami dihadang oleh sebuah pasar yang berdiri kokoh sebagai tempat masyarakat melakukan jual-beli. Pasar ini seperti kebanyakan pasar yang saya jumpai di Pulau Jawa. Bangunannya luas bak sebuah aula besar yang tanpa dinding. Beberapa penjual sayur masih bertahan di sana ketika kami tiba, karena memang pasar ini baru akan bubar pada pukul 10 siang.

Sebuah bukit tak seberapa tinggi menjadi akhir perjalanan kami. Dari sini, kami bisa melihat keseluruhan Kampung Bajo. Jalanan, pasar, masjid, dan lapangan bola terlihat seperti miniatur.

travel blogger indonesia mengunjungi kampung bajo
Bertukar sapa dengan anak-anak Kampung Bajo/dok. Ridho Mukti

Saya membayangkan apa yang ada dalam pikiran Ferdinand Magellan seandainya ia menjumpai permukiman yang mengambang di laut lepas ini dalam pelayaran legendarisnya. Ia pasti akan bertanya-tanya: Siapa yang memulai semua ini? Kenapa memilih titik kecil ini daripada sudut lain di samudra raya? Berapa lama mereka terombang-ambing di lautan sebelum akhirnya mereka memutuskan untuk berhenti dan bermukim di sini? Semua pertanyaan itu terus membayangi saya sampai perjalanan berakhir.

Waktu dua jam tidak cukup untuk mengenal suku Bajo dan sejarah panjang mereka. Bagi kaum gipsi laut itu, laut adalah kenangan masa lalu, realitas kekinian, dan harapan bagi masa mendatang.

Kapal yang bersandar di dermaga bergoyang-goyang gelisah digelitik riak-riak gelombang, seolah gelisah ingin segera membawa kami menjelajah ke pulau-pulau lain. Anak-anak Bajo mengayunkan tangan mereka membalas ucapan selamat tinggal dari kami. Tawa mereka meneduhkan teriknya matahari siang itu.

10 COMMENTS

  1. kalo berkunjung ke suku tertentu punya perasaan yang beda ya. jadi inget waktu bena berkunjung ke torosiaje, desa bajo di pohuwato gorontalo. mereka juga suku bajo yang terdiri dari berbagai suku.

    bedanya di sini mereka milih meninggalkan rumah, kalau di sana mereka lebih tinggal ditempat. ah ajdi mau nulis ttg torosiaje juga.

  2. Wah keren kali risetnya. Btw, kalau di Taka Bonerate ada juga kampung Bajoe, bedanya mereka sudah bermukim ditengah pulau dan hanya mempertahankan tradisi melaut saja.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

[+] kaskus emoticons nartzco

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.