Hutan Pinus Mangli yang Menenangkan

2

Adalah hutan pinus Mangli tujuan kami malam itu. Sebuah bumi perkemahan baru yang telah lama kami rencanakan berkemah di dalamnya. Karena suatu ketika setelah perjalanan turun dari pendakian di Gunung Andong–hutan pinus ini berada di pinggir jalan menuju Magelang–cukup menggoda. Juga karena lokasinya yang tidak terlalu jauh dari Kota Magelang.

Untuk menuju hutan pinus Mangli memang bisa diakses melalui 2 jalur. Satu lewat jalur Magelang – Salatiga, juga bisa lewat jalur Grabag – Kopeng. Jalur pertama lebih “bersahabat” dibanding yang kedua. Jalanannya menanjak, dan berkelok, tapi tak seberapa dibanding jalur yang kedua. Saking terjalnya, kami harus mengambil ancang-ancang agar motor tidak berhenti di awal pendakian. Itupun bila tebakan kami benar ada tanjakan terjal di depan.

Kebetulan malam itu kami memilih jalur yang kedua. Hujan deras menemani kami sepanjang jalan. Kabut tebal menutup jalanan aspal yang berkelok, menambah kengerian malam itu. Sesekali saya harus turun dari motor, dan membiarkan Imam mengemudikan sendiri motornya menapaki tanjakan yang ekstrim di sana. Sekitar 1 jam perjalanan, kami telah sampai. Lebih singkat jika dibanding memilih jalur yang pertama.

Kami tiba di pintu gerbang pukul 10 malam. Kondisi cukup dingin karena baju kami telah basah karena hujan. Belasan motor telah berjejer mendahului kami. Penjaga pos juga telah bersiap dalam lelapnya, bersembunyi dari dinginnya malam yang menggigit.

Gapura sederhana menyambut kami dalam perjalanan menyusuri jalan setapak yang gelap. Di bagian atas tertulis Hutan Wisata Mangli. Sebelah kanannya terpampang tulisan RPH Pager Gunung, BKPH Ambarawa, dan KPH Kedu Utara. Jelas bahwa hutan pinus ini bukan sekedar hutan alami yang tiba-tiba dikelola warga karena potensinya. Ini bukti bahwa hutan pinus ini dikelola oleh 3 entitas tadi.

Menurun sedikit, tak berselang lama, sebuah bangunan kosong tepat berada di sebelah kiri pendakian kami. Mengajak untuk disinggahi untuk menyelamatkan diri dari gerimis yang tak kunjung berhenti. Bentuknya kotak dengan tiang-tiang dari bambu beratapkan daun kelapa. Entah karena colokan listrik menggantung di salah satu tiang, atau karena gerimis, kami memilh mendirikan tenda di dalamnya.

Wisata hutan pinus memang sedang populer di kalangan petualang-petualang muda. Sebutlah, hutan pinus Mangunan, Pengger, Tebing Keraton, Pancar, dan juga Sentul. Mereka menawarkan keindahan yang tak terungkap selama ini. Suasana petualang dan teraturnya pepohonan menambah nilai plus dalam setiap foto yang dihasilkan. Mata manusia memang cenderung menyukai sesuatu yang baru, bersih dan rapi.

Maka beruntunglah manusia yang tinggal di sekitar pegunungan. Tren berpetualang di gunung memberi dampak yang besar bagi banyak orang. Para petani kebun kini bisa menjadi ojek untuk wisatawan, pemuda-pemuda yang menganggur bisa berdaya dengan tempat parkir barunya, dan sebagainya. Maka, seadil itu lah alam untuk manusia.

Rupanya tantangan terbesar bagi kami bukanlah gelap dan hujan, atau mendirikan tenda ultralight, atau akan berbincang tentang apa kami selama semalaman, tapi memasak. Arang sengaja kami bawa sebagai bahan bakar karena lebih hemat energi, juga karena murah. Sialnya, semua bahan makanan yang kami bawa harus diolah, dan perut kami mulai keroncongan semenjak di perjalanan. Kopi pertama kami saja baru siap 3 jam setelah tenda berhasil berdiri. Lalu menyusul pop mie, juga indomie rebus. Semua serba instan, dari mulai memasak, hingga menghabiskannya. Tapi senikmat-nikmatnya hidangan yang tersaji, adalah yang dibuat dengan bersusah payah, bukan?

Pagi-pagi sekali Arif dan Aji pergi menyusuri jalanan menurun, hingga sebuah sungai dengan air terjun berukuran tak seberapa besar sebagai tempat pemberhentian mereka. Merekamnya, juga membuang hajat sebagai bonus. Saya dan Imam memilih bersembunyi di balik sleeping bag yang menghangatkan dari udara pagi. Suara burung-burung, semilir angin yang membuat gesekan dedaunan, dan cahaya pagi yang menembus flysheet kami, membangunkan saya. Ketika keluar dari tenda, semua terlihat tenang. Tidak ada tenda berdiri selain milik kami. Seperti tak ada kehidupan, tapi sebenarnya semua makhluk sedang bernafas di pagi hari yang cerah. Damai, juga harmonis. Pagi yang sangat menenangkan.

Segera saya mendengok ke atas, menutup mata, kemudian menghirup udara pagi sedalam-dalamnya, merasakan setiap udara masuk ke lubang hidung, juga ke setiap pori-pori. Rasanya seperti menjuarai suatu kompetisi, lalu dipeluk oleh ibu yang menunggu kita di bangku penonton. Dingin tapi menghangatkan. Melegakan, juga menyenangkan. Mungkin bagi sebagian orang, rasa yang tak tergambarkan. Tapi seperti itulah pagi di Mangli.

Jika mau dibandingkan, hutan pinus ini tak ada bedanya dengan hutan-hutan yang lain. Pepohonan, sungai yang tak jauh dariĀ camp area, sisa-sisa perapian dengan sampah yang berserakan di sekelilingnya, bahkan makhluk hidupnya pun jenisnya sama. Hampir tak ada bedanya. Entah karena lengang atau sudah lama saya tidak menikmati suasana santai seperti itu. Dulu dalam suatu kemah di hutan pinus Mangunan, saat hutan tersebut belum seramai sekarang, malam hingga pagi hari berlalu sangat cepat. Kami datang, menyalakan api unggun, berbincang tentang patah hati, lalu terbangun di pagi hari, kemudian memasak untuk menunggu waktu pulang.

Bagi saya, Mangli berbeda. Menenangkan. Tapi bukankah menenangkan itu relatif? Jadi, ada baiknya kita sedikit merenungi kalimat dari Bill Watterson, penulis komik strip Calvin & Hobbes; “We’re so busy watching out for what is a head of us that we don’t take time to enjoy where we are.”

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

[+] kaskus emoticons nartzco

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.