Cerita Dari Gua Maria Palasari

2

Hari itu kami kesiangan setelah semalam begadang nonton film PK, film drama komedi satir India yang fenomenal tentang filsafat dan teologi. Mendiskusikan film itu memang tidak ada habisnya, sampai membuat lupa waktu hingga tak terasa sudah dini hari saja. Kami menginap di rumah Rara di Malaya, Bali Barat. Kami memang sedang mengitari Bali Barat untuk merasakan sisi lain Pulau Dewata, pulau kecil yang menjunjung tinggi pluralisme. Kami berlima—Syukron, Rara, Neneng, Melon dan saya. Banyak tempat yang ingin kami kunjungi, tempat-tempat yang jarang masuk daftar destinasi-mainstream agen perjalanan, salah satunya adalah Desa Palasari.

Cuaca sedang mendung ketika kami memasuki Desa Palasari, sekitar 20 menit dari Rumah Rara di Malaya. Desa itu asri, dengan jalanan yang bersih, pepohonan rindang, dan hamparan sawah yang masih luas. Tampak para petani sedang menggarap tanah, bersiap menanam pagi di musim hujan ini. Berjalan pelan, Mr. K —mobil yang kami tumpangi— menyusuri jalanan kecil desa yang cukup sepi. Siang itu masyarakat desa sedang berkumpul di Bale Banjar. Ada sosialisasi program Kartu Indonesia Sehat (KIS), kata seorang pecalang yang memakai baju adat Bali yang kami temui di depan Bale Banjar. Kamipun lanjut ke Gereja Hati Kudus Yesus, sekitar 200 meter dari Bale Banjar itu.

Vifick_18Januari_Jembrana_Goa-Maria-Palasari-0

Setelah melewati dua gang, kami memasuki area Gereja Hati Kudus Yesus. Mr. K kami parkir tepat di seberang pagar gereja. Arsitektur gereja yang diresmikan pada 15 September 1940 ini sangat kental akan unsur Bali. Keunikan bangunan Gereja Palasari adalah gereja inkulturasi yang memadukan arsitektur gotik dengan Bali. Walaupun Gereja Palasari ini memiliki usia yang sangat tua namun kondisi dan keadaan dalam gedung terlihat modern. Pada pintu masuk halaman terdapat seperti gapura yang pada umumnya terdapat di pura(tempat ibadah umat Hindu) atau di pintu masuk rumah masyarakat Bali pada umumnya. Halaman Gereja Palasari yang banyak ditumbuhi pohon cemara, area gereja dibatasi oleh pagar berukiran khas Bali. Gereja Paroki Hati Kudus Yesus merupakan sebuah paroki Gereja Katolik Roma di Keuskupan Denpasar yang berpusat di Desa Palasari. Sayangnya kami tidak bertemu dengan pastor, karena beliau sedang ada acara di Bale Banjar.

Tak jauh dari gereja, di arah selatan terdapat Gua Maria. Gua Maria Palasari atau ‘Palinggih Ida Kaniaka Maria’ dibangun pertama kali pada tahun 1962 yang lokasinya pada saat itu bersebelahan dengan Kepala Susteran OSF Palasari. Karena beberapa pertimbangan pada tanggal 13 Desember 1983 dipindahkan ke lokasi Monumen Pastor Simon Bois SVD, dan baru diresmikan tahun 2008 oleh Dubes Vatikan di Indonesia Uskup Agung Mgr Leopoldo Girelli. Palinggih adalah bahasa Bali yang maknanya sama yakni bangunan atau tempat suci.

Vifick_18Januari_Jembrana_Goa-Maria-Palasari-1

Pintu gerbang Gua Maria ini cukup menarik, diperindah oleh relief-relief dan beberapa patung malaikat. Memasuki pintu gerbang, kami bertemu seorang nenek yang akan sembahyang di Gua Maria. Namanya Ibu Gusti Biang Sunantri. Nenek berusia 93 tahun itu tiap minggu sembahyang di sini. Saya membantunya menaiki tangga gerbang.

Di belakang pintu gerbang terdapat patung Pastor Simon Bois SVD yang wafat tahun 1960 di Belanda. Ia adalah pastor paroki pertama Palasari pada 1940-1950. Sambil ngobrol, kami memasuki jalan salib panjang yang berupa tangga yang tersusun rapi dari batu kali. Di tembok yang memagari sisi kiri terdapat relief yang bercerita jalan kehidupan Yesus; ketika Yesus dijatuhi hukuman mati, memanggul salib, jatuh pertama, berjumpa ibunya, Veronica mengusapi wajahnya, disalib, dan hingga dimakamkan.

Vifick_18Januari_Jembrana_Goa-Maria-Palasari-2

Sesekali Ibu Sunantri berhenti untuk menghela nafas panjang. Sebentar kemudian ia melanjutkan meniti anak tangga satu persatu. Kadang sambil beristirahat, beliau bercerita tentang anak-anaknya yang bekerja di Denpasar. Mereka semua sudah menikah dan memberinya cucu-cucu yang lucu. Tampak wajahnya tersenyum sumringah, memandang jauh ke depan, lalu melanjutkan jalannya. Aku terus membantunya sambil menyempatkan memotret relief tentang perjalanan Yesus.

Di ujung tangga, kami memasuki pelataran tanah agak luas, lalu masuk ke lokasi Gua Maria dengan patungnya yang indah dan meneduhkan. Gemericik air dari gua, wadah-wadah lilin bagi peziarah, serta pepohonan rindang menambah keheningan dan kesejukan. Di samping kanan gua terdapat patung Yesus yang sedang disalib, tempat beberapa orang sedang menyalakan lilin dan sembahyang. Saya mengikuti aktivitas Ibu Sunantri, yang mulai menyalakan lilin, mengambil air di dalam gua, lalu sembahyang di samping bale-bale yang ada di ujung kanan, di depan patung Yesus. Sambil menunggu beliau sembahyang, saya memperhatikan dan memotret beberapa obyek. Area ini didesain bergaya natural, mengutamakan pemandangan hijau. Di kejauhan terlihat perbukitan yang menyangga persawahan, yang tadi kami lewati.

Vifick_18Januari_Jembrana_Goa-Maria-Palasari-3

Seusai sembahyang, kami melanjutkan perbincangan. Ibu Sunantri menyambung cerita tentang anak-anaknya, tentang cucu-cucunya, dan tentang masa mudanya saat Gereja Hati Kudus Yesus dan Gua Maria ini dibangun. Beliau adalah salah seorang saksi hidup bagaimana Desa Palasari dibangun oleh Pastor Simon Bois SVD bersama masyarakat pada saat itu. Pada tahun 1940-an, Pastor Bois bersama puluhan kepala keluarga yang berasal dari Tuka dan Gumbrih membuka sebuah hutan pala di suatu lokasi dekat bukit, yang kemudian diberi nama Palasari (sekarang disebut Palasari Lama.) Palasari Lama pindah tempat ke sebelah utara Sungai Sanghyang. Tempat inilah yang sekarang disebut Desa Palasari. Di sini Pastor Bois membangun desa “Model Dorf ” yaitu desa berbudaya Bali namun tetap bernuansa Katolik. Pastor inilah yang mengenalkan agama Katolik pertama kalinya di daerah Bali Barat (Palasari). Hingga sekarang, mayoritas penduduk Desa Palasari beragama Katolik. Uniknya, mereka masih mempertahankan adat Bali. Saat ke gereja, mereka memakai pakaian adat Bali, khotbah Minggu sering memakai bahasa Bali, musik pengiring di gereja juga tak jarang menggunakan gamelan tradisional Bali. Bahkan nama depan mereka juga masih memakai Made, Wayan, Nyoman, dan lain-lain. Akulturasi yang menarik.

Ibu Sunantri lalu berdiri dan mengajak kami pulang. Kami berjalan pelan melewati tangga batu tadi, melihat lagi relief-relief tentang perjalanan Yesus. Tepat di depan relief Yesus bertemu ibunya, Ibu Sunantri berhenti sejenak, istirahat, lalu berkata bahwa dia kangen sama anak-anaknya. Di rumahnya dia tinggal sendiri, sejak anak-anaknya bekerja di Denpasar beberapa tahun ini. Bertemu dan ngobrol dengan kami mengingatkan pada anak-anaknya. Tersenyum, lalu ia lanjut berjalan. Sampai di gerbang, beliau memberi nasehat, salah satunya adalah sejauh apapun kita merantau atau melakukan perjalanan, tetaplah ingat untuk pulang. Ada ibu dan keluarga yang selalu menunggu kabar dan berdoa untuk kita.

Beliau berjalan meninggalkan kami di parkiran -rumahnya tak jauh dari Goa Maria Palasari-. Lalu kami masuk mobil dan bergegas menuju Bendungan Palasari yang berjarak sekitar 8 menit dari sini. Sesampai di Bendungan Palasari, kami menggelar tenda di bawah pohon yang rindang untuk pemotretan lalu mendekati orang-orang yang sedang memancing untuk bercengkerama sebentar dengan mereka. Sejenak saya memisahkan diri dengan teman-teman, menikmati angin dan tenangnya suasana bendungan seluas 100 hektar itu. Saya mencoba mengingat kembali percakapan dengan Ibu Sunantri tadi, lalu merenungi perjalanan panjang yang beberapa tahun ini saya alami. Berbagai peristiwa dan pengalaman di berbagai daerah. Bertemu banyak orang, banyak peradaban, adat istiadat yang berbeda-beda, dan, tentunya, banyak cerita. Kemudian muncul pertanyaan, sampai kapan saya akan terus berjalan? Dan, kapan pulang?

 

2 COMMENTS

  1. Palasari sekarang apakah masih sedamai 10 th lalu..? di CandiKesuma ada kapel terkecil yg pernah saya temua. ada di pinggir jalan. dulu pertama kali saya lihat masih pakai bilik (gedek) sekarang sudah direnovasi dg beton, tp masih tetap berukuran sama mungkin 2 x 3 m.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

[+] kaskus emoticons nartzco

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.