Kajian PejalanPilihan Editor

Apa Benar Traveling Bisa Membawa Kebahagiaan?

8

Sering mendengar teman berceloteh atau update status yang bilang andai mereka bisa jalan-jalan setahun lebih tentu mereka akan jadi bahagia?

Kamu sependapat dengan mereka?

Jangan buru-buru bilang iya sebelum baca hasil penelitan Profesor Jeroen Nawijn dari Universitas Breda, Belanda. Dalam penelitiannya yang berjudul Happiness Through Vacationing: Just a Temporary Boost or Long-Term Benefits? dalam Journal of Happiness Studies tahun 2010, ia mencoba meneliti apa benar kebahagiaan jangka panjang bisa didapat melalui liburan.

Hasilnya mungkin akan mengejutkanmu…..

Ia menulis, masyarakat modern menuntut setiap individu di dalamnya untuk terus konsumtif dan bekerja lebih keras, karenanya kita jadi memiliki kebutuhan tinggi untuk bersantai dan bersenang-senang. Kegiatan yang kita lakukan di waktu senggang adalah pelarian dari pekerjaan, bersenang-senang adalah cara kita untuk bersantai dan melepas stress. Lebih dari itu, setiap individu memiliki kebutuhan untuk melakukan sesuatu yang jauh dari kata biasa—untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari saja orang butuh pengalaman berbeda. Pengalaman yang jarang dinikmati, seperti pengalaman berlibur, menjadi semakin terjangkau bagi banyak orang di seluruh dunia; frekuensi perjalanan semakin meningkat beberapa tahun belakangan ini dan kedatangan wisatawan diperkirakan akan meningkat drastis dalam beberapa dekade ke depan.

Saat ini, industri pariwisata membuat kita percaya kalau berlibur akan membuat kita jauh lebih bahagia. Iklan-iklan menampilkan wajah yang tersenyum cerah, pantai dengan langit biru, dan orang-orang yang sedang menikmati hidupnya.

Pertanyaannya adalah, apa kita benar-benar menjadi bahagia lebih lama dengan melakukan perjalanan atau berlibur?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, dosen yang ahli di beberapa bidang ini—subjective well-being, psikologi positif, pariwisata berkelanjutan, kualitas hidup, emosi, dan motivasi—melakukan penelitian dengan melibatkan 3.650 orang warga Belanda yang berlibur setiap tiga bulan sekali dalam dua tahun. Orang yang rutin melakukan perjalanan dan liburan disebut sebagai vacationers.

Penelitian ini coba menjawab tiga pertanyaan: (1) apa vacationers lebih bahagia dari non-vacationers? (2) Apa vacationers lebih bahagia saat melakukan perjalanan lebih lama dan menjadi tidak bahagia bila perjalanan dalam jangka pendek? (3) Apa berlibur menambahkan kebahagiaan pada semua orang atau hanya pada mereka yang menghargai liburannya?

Menggunakan data dari GfK Leisure and Tourism Panel yang merupakan perwakilan dari suara populasi Belanda, ia meminta anggota panel mengisi kuesioner empat kali dalam satu tahun dan melaporkan hal-hal mendetail dari perjalanan liburan mereka. Penelitian ini dilakukan dalam dua tahap pengukuran, tahun 2007 dan 2008. Sampel yang diambil rata-rata berumur 45 tahun dengan pendapatan rumah tangga per bulan sebesar 2.200 euro. Sebagian besar memiliki pekerjaan yang bagus dan sisanya pensiunan. Mayoritas lulus SMA, sarjana, dan pascasarjana.

Variabel yang digunakan adalah (1) Happiness yang di dalamnya termuat life-satisfaction dan hedonic level, (2) Vacationing atau frekuensi liburan selama tahun yang ditentukan, (3) Importance of vacationing atau indikasi pentingnya berlibur bagi mereka sebagai individu, terakhir (4) Socio-demographic, yang mencakup tingkat pendidikan, pengeluaran bersih rumah tangga, umur, dan jenis kelamin.

Berbeda dengan asumsi banyak orang, penelitian ini menyimpulkan bahwa para vacationers lebih sulit bahagia dibandingkan non-vacationers, selain itu lama atau tidaknya perjalanan tidak berdampak pada kebahagiaan jangka panjang.

Peneliti di Centre of Sustainable Tourism and Transport ini menambahkan, implikasi dari penelitian ini adalah efek positif dari berlibur terhadap kebahagiaan terbatas pada fase-fase saat kita merencanakan perjalanan tersebut, ketika kita melakukan perjalanan, dan sesaat setelah liburan tersebut selesai. Sehingga bila seseorang ingin terus menambah kebahagiaannya dengan berlibur, ia harus sering-sering melakukan liburan dalam waktu singkat, dalam rangka menikmati periode singkat dari peningkatan kebahagiaan.

Namun, ia juga mengingatkan bahwa penelitian ini mengambil sampel warga negara Belanda. Mereka tidak kekurangan jalan-jalan dan mungkin saja berlibur sudah menjadi kebiasaan atau rutinitas. Menjadi masuk akal jika individu dari negara lain yang lebih miskin dan jarang jalan-jalan bisa mengambil manfaat berbeda dalam mendapat kebahagiaan melalui melakukan perjalanan dan berlibur.

Nah, apa pendapat teman-teman mengenai penelitian ini? Taruh pendapat teman-teman ya di kolom komentar. Nanti akan dirangkum dan siapa tahu bisa jadi data bagi penelitian terbaru.

(Pernah membaca atau melakukan penelitian tentang perjalanan dan pariwisata yang sekiranya menarik? Jangan ragu untuk menuliskannya dalam gaya penulisan jurnalistik, untuk rubrik #KajianPejalan, karena “Traveling juga kajian, tidak hanya hiasan”)

Ekskursi Korowai 2015

Previous article

Karnaval Kemerdekaan di Kota Khatulistiwa

Next article

8 Comments

  1. mungkin saya belum pernah meneliti yang seperti para ahli lakukan. saya hanya akan mengomentari menurut pengalaman saya.
    mungkin liburan atau melakukan perjalanan penting untuk beberapa kalangan. atau bisa jadi yang terjadi dikalangan remaja dan kalangan produktif dinegara kita saat ini liburan adalah sesuatu yang berdampak positif bagi kesehariannya. bahkan bisa dibilang sebagai gaya hidup. mungkin dengan merencanakan liburan yang tepat dapat menambah dampak positifnya dan mengurangi dampak negatifnya seperti ketagihan. dan kehilangan esensi dari liburan itu sendiri. cukup sekian. terimakasih untuk bacaannya.

  2. senang sekali ada artikel yang mengulas apa yang menjadi rasa penasaran saya tentang kebahagiaan melakukan perjalanan

  3. bahagia melakukan perjalanan, tapi sakit dokunya gimana dong

  4. tingkat pendapatan berpengaruh pada niatan untuk travelling, yg juga berpengaruh pada kebahagiaan :D

  5. Saya senang sekali menemukan artikel ini. Ini juga jadi kegelisahan saya selama ini kalau melihat timeline2 berisi traveling. Menurut saya, bahagia bukan soal tempat, tapai apa yg ada di dalam hati, ini menukil salah satu quotes yg sy lupa dari siapa. Justru vacationer dgn alasan sampai tingkat hedon, menunjukkan bahwa di tdk bahagi adlm kehidupan sehari2nya :)

  6. Menurut saya, kebahagiaan timbul dari dalam hati masing masing pribadi,tidak berpengaruh dengan lamanya perjalanan dan ataupun berapa banyak destinasi yang telah dikunjungi. Karena kebanyakan melakukan perjalanan dikarenakan penat dengan kerjaan,atau tugas tugas, yang mendorong untuk bepergian/”lari” sejenak untuk mendingginkan raga,itu aja sih

  7. Selamat siang,

    Saya Riesty dari CANVA. Saya membaca beberapa tulisan di Travellerkaskus.com, salah satunya [https://travellerkaskus.com/apa-benar-traveling-bisa-membawa-kebahagiaan/] yang menurut saya sangat bagus dan inspiratif sekali.

    Sebelumnya, akan saya jelaskan secara singkat mengenai CANVA. CANVA merupakan platform untuk membuat berbagai macam jenis desain grafis online yang hadir dalam bentuk website maupun aplikasi smartphone berbasis Android dan iOS.

    Kami lihat artikel tersebut sangat relevan dengan salah satu halaman web kami [https://www.canva.com/id_id/kutipan/kata-kata-bijak]. Untuk itu, CANVA ingin mengajak Anda untuk bekerja sama dengan kami.

    Tim Travellerkaskus.com hanya perlu menambahkan satu informasi tambahan berupa tautan aktif menuju halaman kutipan bijak CANVA pada artikel tersebut. Harapannya, pembaca Travellerkaskus.com bisa mengakses lebih banyak lagi kata-kata bijak inspiratif yang menggugah semangat.

    Untuk kerjasama awal ini, CANVA belum menawarkan program berbayar (paid content placement). Sebagai alternatifnya, Kakak bisa memilih 2 dari 4 penawaran spesial dari CANVA yang kami harap bermanfaat untuk pengembangan web Travellerkaskus.com.

    Jika Kakak berkenan, kami juga akan memasukkan domain web Kakak dalam database CANVA yang akan kami hubungi lagi pada program menarik CANVA berikutnya.

    Kami tunggu balasan dan kabar baiknya ya! :)

    Salam,
    Riesty

  8. Untuk orang yang sering bepergian/ berwisata, mungkin tidak merasakan kebahagiaan long life, bisa disebaban karena lelah juga melakukan perjalanan tersebut, apalagi pake paket tur terasa banget capenya bisa lebih dari 15 jam kita bepergian baru bisa istirahat dihotel jam 12 malam, bahkan saya pernah mengalami wisata yang melelahkan, dari perjalanan di pesawat 7 jam landing langsung tur selama belasan jam, tapi pengalaman saya sangat menyenangkan dan terkenang, walaupun di akhir wisata hari tersebut saking capenya sampe tidak bisa menemukan bus yang padahal parkir ditempat yang kita lewati (mungkin saking capenya). mungkin normalnya orang berlibur (jarak jauh) setahun 2 kali, baru bisa merasakan sensasi dari liburan tersebut, kalau terlalu sering jadi tidak terasa nikmatnya, saya butuh jurnalnya prof dari belanda tersebut dong

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

[+] kaskus emoticons nartzco