Traveller Kaskus

Cerita Pejalan

Ziarah ke Pusara Hatta

Agustus adalah milik Indonesia. Ketika euforia kemerdekaan bergaung di mana-mana, tiang bendera akan menjulang di depan rumah-rumah; jalan-jalan dipenuhi berbagai ornamen merah-putih; spanduk “dirgahayu” pun akan dipasang di berbagai penjuru.

Masyarakat memeringati hari kemerdekaan dengan berbagai cara. Sebagian memilih merayakannya dengan menggelar perlombaan—dengan panjat pinang sebagai acara wajib—sementara sebagian lainnya memenuhi puncak-puncak tertinggi atau dasar laut Ibu Pertiwi untuk menggelar upacara bendera. Saya ingat betul, tiga tahun yang lalu saya dan teman-teman menyambut 17 Agustus dengan bertandang ke Taman Pemakaman Umum (TPU) Tanah Kusir untuk berziarah ke makam salah seorang pendiri negara ini—Mohammad Hatta.

Tak sulit menemukan makam sang proklamator. Sebuah gerbang ekstra menyambut kami tepat di luar gerbang utama TPU. Kemudian kami menyusuri sebuah jalan kecil yang ujung-ujungnya akan berakhir di sebuah tanah lapang tempat pengunjung dapat memarkir sepeda motor. Dinding sebelah kiri dihiasi oleh rangkaian relief lima panel berwarna kelabu yang menggambarkan masa-masa penting dalam kehidupan seorang Hatta.

Suci Rifani_Mengunjungi Makam Hatta_01

Suci Rifani_Mengunjungi Makam Hatta_02

Panel pertama menceritakan masa kecil dan remaja Bung Hatta yang ia habiskan di Ranah Minang. Relief berikutnya menggambarkan aktivitasnya semasa menuntut ilmu di Nederland Handels-Hogeschool, Rotterdam—termasuk saat ia bergabung dengan Indische Vereeniging [yang kelak menjadi Perhimpunan Indonesia (PI)]. Relief selanjutnya mengisahkan fragmen ketika Hatta mendampingi Soekarno membacakan teks proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur, serta peran Bung Hatta dalam berbagai perundingan—termasuk ketika mewakili Indonesia saat menerima Pengakuan Kedaulatan dari Belanda pada 27 Desember 1949. Relief diakhiri dengan cerita mengenai masa-masa ketika Bung Hatta menjadi wakil presiden RI sampai saat akhirnya ia mundur pada tahun 1956.

Berhadap-hadapan dengan barisan relief berdiri sebuah pendopo bergaya joglo yang dilengkapi sebuah meja panjang yang dikelilingi beberapa kursi. Biasanya para peziarah akan menuju pendopo ini terlebih dahulu, mengisi buku tamu, dan bertemu dengan penjaga makam bernama Syahrul Akmal. Sayangnya ketika kami tiba pendopo dalam keadaan kosong. Apa mau dikata, kami terpaksa berjalan kembali menuju makam.

Suci Rifani_Mengunjungi Makam Hatta_03

Makam Bung Hatta berada di bawah naungan joglo yang dikelilingi kaca pada keempat sisinya. Sebuah gerbang bagonjong yang diadaptasi dari atap runcing khas rumah gadang Minangkabau menyambut di depan, mengingatkan saya pada tanah kelahiran Bung Hatta, sementara sisi lain adalah tempat bagi sebuah batu besar berisi untain puisi indah. Di bagian dalam joglo tampak dua pusara yang keseluruhannya dilapisi marmer putih—makam Bung Hatta dan makam istrinya, Rahmi. Makam Hatta tetap kering sore itu, tak ada penaburan bunga atau penyiraman air mawar sebab kami lupa menyiapkannya. Hanya sebait doa tulus yang sempat kami daraskan.

Selesai berdoa, kami bergegas mengambil beberapa foto untuk kemudian keluar dari makam. Di pelataran pendopo tampak seorang lelaki. Ia mengenakan baju koko yang diselaraskan dengan sarung bermotif kotak-kotak. Rambutnya yang telah memutih menandakan ia sudah tak lagi muda. Kami menghampirinya. Lelaki itupun tersenyum ramah seraya menjabat tangan kami satu per satu, memperkenalkan dirinya sebagai Syahrul Akmal—orang yang semestinya kami temui tadi di pendopo. Tak main-main ternyata. Ia sudah mengabdikan dirinya selama lebih dari 30 tahun untuk menjaga makam Bung Hatta.

Suci Rifani_Mengunjungi Makam Hatta_04

Selain penjaga makam, ia ternyata juga seorang pencerita ulung. Baginya meriwayatkan hidup Bung Hatta adalah bagian dari pengabdian. Selain itu, sebenarnya memang banyak yang dapat dicontoh dari salah satu putra terbaik Indonesia itu. Begini Pak Syahrul memulai ceritanya: “Bung Hatta itu semasa hidupnya dikenal sebagai pribadi yang sederhana.” Kemudian cerita mengenai Bung Hatta mengalir deras dari sang penjaga makam.

Kesederhanaan Bung Hatta tak hanya tampak ketika ia masih hidup, juga kentara saat ia sudah meninggalkan dunia fana. Salah satu contohnya adalah makam Bung Hatta ini. Sebenarnya ia bisa saja dimakamkan di Taman Makam Pahlawan alih-alih TPU Tanah Kusir. Namun Hatta merasa bahwa ia adalah bagian dari rakyat sehingga berwasiat untuk dimakamkan berdampingan dengan sesama—ia tidak menginginkan perlakuan khusus. Pada awalnya bentuk makam Bung Hatta sama seperti makam-makam lain di TPU Tanah Kusir. Renovasi sehingga mencapai bentuk seperti ini—pembuatan joglo, pelapisan marmer pada makam, pembuatan pendopo tempat resepsionis, serta pembuatan pagar yang mengelilingi makam—dilakukan semasa Orde Baru. Selesai dibangun, peristirahatan terakhir Bung Hatta ini diresmikan langsung oleh Presiden Soeharto pada 12 Agustus 1982.

Sebelum menghembuskan napas terakhir pada tahun 1999, Rahmi Hatta sempat berpesan untuk dimakamkan di areal sebelah luar TPU saja. Pengelola tidak memberikan izin. Kemudian kentaralah bahwa kita tidak bisa menjustifikasi seorang pemimpin hanya dari satu aspek saja—Soeharto ternyata malah menginstruksikan untuk memakamkan Ibu Rahmi tepat di samping makam sang suami tercinta.

Selepas mengundurkan diri dari dunia politik dan pemerintahan, Bung Hatta tetap setia menjunjung kesederhaan. Menurut penuturan Pak Syahrul, pada masa pensiunnya Bung Hatta kerap mengalami kesulitan keuangan, bahkan tak jarang ia tidak mampu membayar iuran air dan listrik. Seringkali keadaan rumah Bung Hatta gelap gulita pada malam hari sebab ia tidak mempunyai cukup uang untuk melunasi rekening listrik, bahkan kadang kala ia sendiri yang meminta pemutusan aliran listrik di rumahnya.

Bung Hatta adalah sosok yang memegang teguh prinsip. Ia tidak akan pernah mau menerima bantuan dana yang bukan menjadi haknya. Ali Sadikin, Gubernur DKI Jakarta yang legendaris, dibuat pusing memikirkan cara untuk membantu Bung Hatta tanpa terkesan memaksa Bung Hatta untuk mengkhianati prinsipnya. Ia pun memutar akal. Akhirnya, Bang Ali memberikan Bung Hatta penghargaan sebagai warga teladan dengan hadiah dibebaskan dari keharusan membayar rekening air dan listrik.

Pada masa Orde Baru, tugas Syahrul adalah menjaga meja resepsionis dengan segala protokolernya. Namun setelah reformasi bergulir, ia memilih untuk melepaskan protokoler yang melekat pada makam. Ia membuka pintu kapanpun bagi siapapun yang ingin berziarah walaupun waktu ziarah resmi hanyalah antara pukul 08.00-17.00 WIB.

Lah Mau doain Pak Hatta aja kok pake dipersulit? Kalau mau datang silahkan, kapan saja saya bukakan gerbang, saya temani juga,” ujar Pak Syahrul berapi-api.

Suci Rifani_Mengunjungi Makam Hatta_05

Pak Syahrul melanjutkan ceritanya. Ia bilang, peziarah yang datang ke pusara Bung Hatta datang dari latar agama yang berbeda-beda. Begitu besarnya sosok Hatta sehingga diziarahi manusia lintas agama.

Rasanya beruntung sekali kami saat itu; berziarah sekaligus belajar sejarah dari seorang penjaga makam yang berdedikasi. Cerita Syahrul Akmal adalah catatan kaki sejarah yang mungkin tidak akan pernah bisa saya temukan pada buku-buku pelajaran sekolah. Namun sejarah kecil yang sentimentil seperti inilah yang akan membuat kita lebih menghargai masa lalu.

Pelajaran memang bisa kita dapatkan kapan saja dan dari mana saja. Pertemuan saya dengan Pak Syahrul membuat saya semakin mengenal pribadi salah seorang pendiri bangsa ini, yang dengan segenap kesederhanaannya telah turut serta mengantarkan Indonesia ke pintu gerbang kemerdekaan.

Saya percaya setiap orang memiliki caranya masing-masing untuk menunjukkan kecintaannya kepada negeri ini. Tidak ada yang salah dengan mengadakan perlombaan, mendaki puncak-puncak tertinggi, atau menyelam di laut dalam untuk mengibarkan sang saka. Ini sekadar cara saya untuk bersyukur atas kemerdekaan yang telah diperjuangkan oleh para pahlawan.

Suci Rifani_Mengunjungi Makam Hatta_06

Share to social media :

3 Comments Ziarah ke Pusara Hatta

Leave a Reply