The Van Diary: Warung Bu Maning

0

Warung Bu Maning adalah suaka bagi perut-perut yang kelaparan di daerah Kerobokan saat malam. Menawarkan menu nasi jinggo yang lebih besar dalam porsi dan lebih bervariasi dalam lauk, Warung Bu Maning memberikan kesan yang tidak sesederhana. Selamat mengantri dan berdesak-desakan untuk meraih sebungkus nasi jinggo hangat.

Tidak pernah terbayangkan apa yang ditawarkan warung ini sebelumnya ketika kami memutuskan untuk berkunjung. Rasa tertarik kami muncul karena berulang kali lewat Jalan Krobokan di waktu malam, selalu melihat warung ini ramai pengunjung. Padahal tidak ada papan nama atau hal-hal lain yang menunjukkan warung ini menjual makanan, kecuali meja kayu kecil sederhana di halaman depan. Bila kita lewat di siang hari, kita hanya akan menjumpai Warung Grabadan yang juga menjual bensin. Begitulah, kami berpikir pasti ada yang spesial di situ. “Kalau ngga ada yang unik, pasti cewek-cewek kece itu ngga mau ngantri makan di sini,” ungkap Ucok.

Ketika kami datang, serombongan mahasiswa sudah memenuhi setiap meja. Beruntung tak lama kemudian sepasang remaja memutuskan untuk pergi selesai menghabiskan pesanan mereka. Mungki dua orang itu terintimidasi karena kami berdiri terus di belakang mereka. Warung Bu Maning menjual Nasi Jinggo (nasi dengan bumbu Bali dalam porsi kecil seperti nasi kucing di Jogja) dengan menu yang lebih bervariasi, dalam satu porsi terdapat ayam suwir, tempe oreg, mie goreng, sayur buncis dan sambal. Tersedia juga tambahan babi kecap bagi pengunjung yang tertarik. Nasinya wangi dan selalu tersaji panas, bumbu-bumbu lauknya berani sehingga rasanya nendang, paling utama adalah sambal yang gurih dan menggigit, semuanya panas-panas dibungkus dengan daun pisang sehingga menguarkan aroma yang menggoda indra penghidu.

Harga pun sangat terjangkau untuk ukuran Bali, Warung Bu Maning yang namanya diambil dari nama si penjual, Bu Maning, memberikan nasi bungkus dengan harga Rp. 5.000,00 , Rp. 7.000,00 dan Rp. 10.000,00 semua sesuai besar kecil porsinya.

“Warung ini mulai berdiri tahun 2000, zaman millenium,” canda Bu Maning sambil terus membungkuskan nasi di periuk.

“Kami buka jam 21.00 dan tutup sekitar jam 01.00. Ya, sehabisnya saja. Biasa, sih, jam 00.00 juga sudah habis,” ungkap Pak Wayan Marta, suami Bu Maning yang membantu mengantarkan makanan dan membuat minuman.

Makan di sini memberi sensasi berbeda, selain berdesak-desakan dengan manusia, kita juga akan berdesak-desakan dengan barang-barang jualan di warung itu. Sambil menonton TV 14 inch yang dipasang di sudut atas. Warung Bu Maning yang kecil dengan nasi bungkusnya yang panas akan menghangatkan hati dan perut yang kesepian.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

[+] kaskus emoticons nartzco