Traveller Kaskus

Pilihan Editor

Warna-Warni Tenunan Pandai Sikek

Sebelum saya mulai bercerita, coba buka dompetmu dan ambil uang kertas 5000 rupiah. Lalu mari kita cermati bersama gambarnya. Kalau uangmu bukan uang monopoli, pasti yang ada di sana adalah gambar seorang wanita berpakaian adat Minang yang sedang asyik menenun. Di caption-nya tertulis: “Pengrajin Tenun” Pandai Sikek – Sumatera Barat. Berhubung sehari-hari saya sering bertransaksi menggunakan uang 5000 rupiah, keinginan untuk melihat secara langsung proses menenun ala Pandai Sikek pun mengendap. Mimpi itu terwujud tatkala Indonesia.travel mengajak saya menyaksikan perhelatan akbar Tour de Singkarak sekaligus menikmati kekayaan budaya dan alam Sumatera Barat.

Pandai Sikek adalah sebuah nagari di Kabupaten Tanah Datar. Berada di kaki Gunung Singgalang, suhu udara di sana berkisar sekitar 27˚ C—sejuk dan nyaman. Gunung Singgalang dan kabut tipis yang menyelimutinya menjadi latar belakang dari hamparan sawah dan pepohonan hijau. Sayangnya saya tiba ketika matahari sudah condong ke barat sehingga tidak punya banyak waktu untuk menikmati pemandangan Pandai Sikek nan elok.

Sayapun berjalan ke galeri milik Emma Yulnita yang saat itu masih buka. Letaknya persis di pinggir sawah. Kali kecil mengalir di dekatnya. Karena hampir semua sisi galeri itu terbuat dari kaca, orang yang sedang berada di luar bisa leluasa mengamati koleksi kain tenun berbagai motif dan warna.

Hal pertama yang saya cari begitu memasuki galeri adalah alat tenun seperti dalam gambar uang 5000 rupiah. Nah, itu dia. Dari pintu masuk saya berjalan ke arah kanan dan menghampiri seorang perempuan yang sedang mengendalikan alat tenun. “Kamu tahu pandai itu artinya apa?” Perempuan itu bertanya. “Pandai, Lalu kalau sikek itu apa?” Lanjut saya. “Ini,” jawabnya sambil mengangkat salah satu bagian dari alat tenun itu yang bentuknya seperti sisir. Sikek berarti sisir dalam bahasa Minang.

menenun

Keahlian menenun orang Pandai Sikek sudah eksis sejak zaman nenek moyang mereka dan diturunkan dari generasi ke generasi. Karena permintaan yang konsisten—sebab hampir pada setiap kegiatan yang berhubungan dengan adat kain tenun hadir baik sebagai perlengkapan upacara maupun sebagai pakaian untuk dikenakan—tenunan khas Pandai Sikek bertahan dan terus berkembang menjadi produk unggulan desa ini.

Dari kejauhan saya amati seorang perempuan setengah baya berjilbab hitam tengah dikerumuni oleh para blogger yang menjadi rekan perjalanan saya saat itu. Saya segera menghampiri dan ikut menyimak. Ia adalah Bu Emma sang pemilik galeri. Gesturnya menunjukkan bahwa ia adalah seorang yang ramah. Dengan cekatan ia mengambil gulungan-gulungan kain berbagai motif untuk dipamerkan kepada pengunjung. Dari mulutnya mengalir banyak cerita tentang tenunan Pandai Sikek.

Bu Emma mengatakan bahwa ada sekitar 350 jenis motif yang digunakan dalam tenunan Pandai Sikek. “Motif-motif tenun Pandai Sikek diambil dari kain-kain tua yang masih tersimpan dengan baik,” ujarnya sambil meraih beberapa gulung kain tenun.

Ibu Emma menunjukkan kain tenun 2

pucuk rebung

Gambar bawah: Motif Pucuak Rabuang

Dalam satu kain terdapat banyak motif—bisa sampai puluhan. Motif pada kain tenun Pandai Sikek adalah apa yang disarikan dari alam lalu diinterpretasikan menjadi simbol-simbol, sesuai dengan falsafah hidup orang Minang yaitu alam takambang jadi guru (alam yang terkembang menjadi guru, artinya pelajaran dapat dipetik dari segala sesuatu yang hadir di alam). Ia membentangkan sehelai kain tenun berwarna merah muda dan mulai menunjukkan motif demi motif yang ada di sana.

Kain tenun pertama yang ia perlihatkan dihiasi motif Itiak Pulang Patang. Seperti namanya, motif ini bercerita tentang perilaku itik yang selalu berkelompok, yang akan selalu berjalan beriringan seperti berbaris ketika digiring oleh peternaknya. Motif ini menggambarkan bagaimana sebuah kelompok itu akan kuat jika ada rasa solidaritas dalam diri setiap anggotanya. Motif lainnya adalah Saik Kalamai (Irisan Wajik) yang melambangkan kerja keras dan kehati-hatian.

Ibu Emma meneruskan penjelasannya dengan menunjuk sebuah motif berwarna putih dan ungu yang menurut saya sekilas tampak seperti bunga. “Ini motif kunang-kunang. Tahu ‘kan kunang-kunang?” Tanya Bu Emma. Saya mengangguk sambil tersenyum, sambil berpikir kapan terakhir kali saya melihat kunang-kunang. Sambil mengangguk, Bu Emma juga tersenyum. Motif kunang-kunang ternyata mengajak manusia untuk selalu optimis dalam menjalani perannya di dunia, bahwa jika kunang-kunang yang kecil saja mampu memberikan manfaat meskipun hanya melalui sinar redup yang dipancarkan oleh tubuhnya tentu manusia bisa melaksanakan peran yang lebih signifikan.

Ibu Emma Menjelaskan

“Yang ini Pucuak Rabuang,” Bu Emma mengambil kain tenun berwarna merah. Pucuak Rabuang (Pucuk Rebung)—bambu yang masih muda—bukanlah hal yang asing buat saya karena motif ini juga ada pada kain khas Betawi yang biasanya dikenakan para none. Bambu memberikan banyak manfaat bagi manusia. Hampir semua bagian tubuhnya bisa digunakan untuk mempermudah hidup manusia. Bambu muda atau rebung dapat diolah menjadi makanan. Batangnya bisa dimanfaatkan sebagai material, dari mulai untuk kerajinan sampai membangun rumah. Alangkah baiknya jika manusia dapat memberikan manfaat kepada orang lain seperti halnya pohon bambu yang memberikan manfaat bagi manusia.

Untuk membuat satu set tenunan Pandai Sikek yang terdiri dari sarung dan selendang dibutuhkan waktu minimal tiga bulan. Harganya bervariasi bergantung pada jenis benang yang digunakan, motif, tingkat kesulitan, dan lama pembuatan. Sebagai industri rumahan, pembuatan tenun Pandai Sikek biasanya dilakukan di rumah oleh para wanita, sampai ada ungkapan: “Gadih nan indak tau jo liang karok bukan gadih Pandai Sikek.” Artinya, perempuan yang tidak bisa menenun bukanlah perempuan Pandai Sikek. Konon kalimat ini keluar dari Hj. Jalisah, perempuan yang membangkitkan kembali tenun Pandai Sikek pada awal 1950. Sebelum kami mengakhiri kunjungan hari itu, Bu Emma sempat memberikan tips merawat tenunan Pandai Sikek. “Sebaiknya kain tenun ini di-dry clean, jangan dicuci dengan deterjen atau bahkan cukup diangin-anginkan saja.”

Share to social media :

1 Comment Warna-Warni Tenunan Pandai Sikek

Leave a Reply