Traveller Kaskus

Pilihan Editor

Wajah Baru Museum Sejarah Jakarta

Ada rasa yang berbeda ketika saya melangkahkan kaki mendekati gedung Balaikota Batavia. Ada proses panjang yang harus dijalani, ada banyak tahapan restorasi, bahkan ada kebijakan penutupan sementara—semua itu adalah usaha untuk mempertahankan kelestarian gedung yang telah berusia lebih dari 300 tahun itu. Kini setelah sekian lama ditutup, Balaikota Batavia kembali dibuka. Saya pun tak sabar melihat perubahan yang terjadi.

Balaikota Batavia—lebih umum disebut Museum Sejarah Jakarta—adalah gedung tertua di kawasan Fatahillah. Gedung ini dibangun pada tahun 1707 pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Joan van Hoorn dan diresmikan pada tahun 1710 saat pemerintahaan Gubernur Jenderal Abraham van Riebeeck—walau sebenarnya baru pada tahun 1712 pembangunannya rampung.

Museum Sejarah Jakarta memiliki kembaran di Negeri Belanda. Adalah gedung Paleis op de Dam di Amsterdam yang menjadi inspirasi sekaligus rujukan oleh W.J. van de Velde untuk merancang gedung Balaikota. Saya sendiri belum pernah melihat langsung Paleis op de Dam. Namun kalau dilihat dari gambar, kedua bangunan ini memang tampak seperti kembar sebab masing-masing memiliki satu bangunan utama dengan sayap kanan dan kiri; jendela-jendela besar yang simestris satu sama lainnya; atap berbentuk segitiga pada bagian pintu masuk; patung dewi keadilan bertengger manis di atas atap; serta sebuah menara dengan lonceng. Proses pembangunannya dipimpin oleh tukang kayu bernama J. Kemmer.

Suci Rifani_Museum Sejarah Jakarta 01

Saya melangkahkan kaki menuju pintu masuk museum, tempat biasanya saya membeli tiket. Ada antrean panjang di sana. Ternyata yang mengular tersebut bukanlah para pengunjung yang sedang mengantre tiket sebab loket tiket sudah pindah. Walaupun penasaran dengan apa yang membuat antrean begitu panjang di pintu masuk—jika bukan membeli  tiket, mereka ngapain?—saya bergegas berbalik arah menuju bangunan sayap kanan untuk mencari loket tiket masuk.

Saya kemudian menemukan sebuah kanopi hijau dengan banner keterangan harga tiket di depannya. Saya memang melewati tempat itu tadi, namun saya mengira ruangan tersebut masih menjadi souvenir shop, belum berubah menjadi loket tiket. Tidak mahal untuk bisa menikmati Museum Sejarah Jakarta, Rp 5.000 saja. Jumlah yang tidak seberapa dibandingkan dengan banyaknya pengetahuan yang bisa kita dapat dari museum ini.

 

Suci Rifani_Museum Sejarah Jakarta 02

Beranjak ke luar loket, mata saya tertumbuk pada prasasti peletakan batu pertama yang secara simbolis dilakukan oleh Petronella Wilhelmina van Hoorn (anak perempuan dari sang Gubernur Jenderal). Ada juga sebuah bunker yang kini tertutup oleh besi-besi melengkung berwarna hijau. Banyak yang bilang itu adalah bunker bekas penjara bawah tanah namun versi lain mengatakan bahwa bunker itu dibangun pada zaman pendudukan Jepang untuk menyelamatkan diri dari serangan udara yang bisa datang sewaktu-waktu. Entah mana yang benar.

Suci Rifani_Museum Sejarah Jakarta 03Saya pun bergegas menaiki tangga dan ikut bergabung dengan antrean yang semakin mengular. Sampai di depan pintu masuk barulah saya tahu apa penyebab antrean panjang ini. Karena lantai bangunan balaikota ini sudah tua—apalagi lantai kayu yang menutupi semua bagian pada lantai dua bangunan, sebagai bentuk kepedulian terhadap pelestarian, setiap orang kini diwajibkan mengganti alas kaki dengan sandal khusus yang sudah disiapkan oleh pengelola. Oleh karena sandal yang tersedia tidak begitu banyak, pengunjung mesti rela menunggu giliran.

Dulu tidak ada jalur di dalam museum, saya bisa menjelajah sesuka hati—biasanya saya selalu memulainya dari sayap kanan. Namun kini setiap pengunjung yang sudah mengganti alas kaki akan diarahkan menuju sayap kiri bangunan.

Ruangan pertama pada sayap kiri diisi oleh sebuah lukisan besar di dinding, lukisan yang bercerita tentang penyerangan pasukan Sultan Agung (Raja Mataram) ke Batavia pada 1626-1629. Dua ruangan berikutnya diisi berbagai panel mengenai proses restorasi museum, serta gambar beberapa bagian gedung yang tidak lagi dapat diselamatkan. Beranjak ke ruangan berikutnya, ada etalase yang berisi artefak persenjataan zaman kolonial termasuk pedang keadilan yang dipercaya dahulunya digunakan untuk mengeksekusi tawanan. Ruangan terakhir pada sayap kiri berisi peninggalan meriam, maket gereja Belanda di Batavia, mimbar dari salah satu masjid tua di Batavia serta beberapa foto bangunan di Batavia tempo dulu.

Suci Rifani_Museum Sejarah Jakarta 04

Suci Rifani_Museum Sejarah Jakarta 05

Keluar dari sayap kiri, saya berjalan menuju sayap kanan. Saya ingat betul bahwa area ini memiliki ruangan-ruangan yang memikat hati. Namun ternyata ada beberapa perubahan layout dan fungsi ruangan setelah restorasi.

Dahulu ruangan pertama pada sayap kanan berjudul ‘Jakarta Dulu dan Sekarang.’ Pada dinding pertama berjejer poster bangunan tempo dulu di Batavia dan jadi apa mereka sekarang, misalnya Hotel Des Indes yang dahulu tersohor seantero Batavia kini telah berubah menjadi sebuah supermarket besar di Duta Merlin, atau gedung Societeit de Harmonie yang menawan itu kini berganti menjadi parkiran Istana Negara. Pada pojok ruangan terdapat becak dan replika warung pojok serta dinding khusus yang berisi daftar Gubernur DKI Jakarta dari zaman ke zaman. Namun semua itu hilang sudah, digantikan oleh panel-panel besar  berisi  informasi pembangunan sarana dan prasarana di Jakarta, termasuk vertical kampong.

Suci Rifani_Museum Sejarah Jakarta 06

Suci Rifani_Museum Sejarah Jakarta 07

Ruangan prasejarah pun lenyap. Dulu saya bisa menyaksikan berbagai artefak dari zaman Neolitikum hingga Perunggu hasil penggalian dua situs di Jakarta—Pejaten dan Condet. Walau yang dipamerkan tidak banyak namun ini membuktikan bahwa telah ada kehidupan di Jakarta sejak masa prasejarah. Kini ruang tersebut disulap menjadi ruangan eksebisi rencana revitalisasi Kota Tua Jakarta, berisi panel-panel informasi mengenai bangunan tua di Kota Tua beserta rencana aksinya. Ada pula visualisasi perbaikan gedung-gedung tersebut baik berupa gambar 3D maupun maket.

Selebihnya ruangan lain di sayap kanan masih berfungsi seperti semula, seperti ruangan sejarah yang berisi segala informasi mengenai Kerajaan Tarumanegara beserta prasasti-prasasti sebagai bukti.

Tiba di ruangan Kerajaan Sunda, saya tertawa kecil. Ah, di sini rupanya koleksi prasejarahnya. Artefak-artefak tersebut ternyata diselipkan begitu saja di antara koleksi lain. Tema ruangannya jadi agak acak-acakan.

Suci Rifani_Museum Sejarah Jakarta 08

Ruangan terakhir adalah Ruangan Kedatangan Portugis di Nusantara. Tiada yang istimewa dari ruangan ini. Di ujung, saja saya melihat seorang gadis berjilbab merah sedang berfoto dengan menyentuh Prasasti Padrao. Saya hampiri dia lalu saya tegur. Saya memberitahu bahwa sebaiknya ia tidak menyentuh koleksi museum. Ia bersikeras bahwa tidak ada peraturan tertulis mengenai itu. Saya tersenyum lalu menunjuk pada sebuah tulisan berisi larangan menyentuh koleksi, yang ditempel pada bagian bawah prasasti. Ia beralasan tulisan tersebut terhalang sehingga tidak terlihat, lalu melengos pergi.

Kembali ke ruang tengah, saya lalu menuju tangga, terus naik ke lantai dua. Apa lagi yang berubah? Saya penasaran. Lantai kayunya sudah mulus, tidak ada lagi yang retak maupun bolong. Semua ruangan tampak lebih lapang–barangkali belum semua koleksi dipamerkan mengingat museum ini baru saja kembali dibuka. Namun beberapa koleksi penting dan menarik masih bisa kita nikmati–balkon tempat para hakim menonton hukuman mati masih bisa diakses, lukisan hasil karya  J.J. De Nijs yang menceritakan mengenai konsep keadilan pun masih terpajang manis di dinding. Sayang saya tidak menemukan lukisan Tuan dan Nyonya De Witt. Dulu dua lukisan ini terpajang pada dinding lantai dua sayap kiri, kini tidak ada. Konon, Keluarga De Witt adalah keluarga terkaya dan terpandang di Batavia namun dermawan sehingga orang menggunakan istilah De witt [yang berubah menjadi ‘duit’ dalam dialek lokal] sebagai kata ganti bagi uang.

Saya bergegas turun kembali untuk menuju halaman belakang. Jika dahulu pengunjung bisa keluar-masuk dari pintu yang sama, kini jalan keluar terdapat di halaman belakang. Tidak banyak perubahan di halaman belakang. Penjara masih kecil, dingin, rendah, sempit, dan suram. Patung Hermes dan prasasti Peter Eberveld pun masih tetap pada tempatnya. Hanya Si Jagur yang tidak ada. Memang Meriam Si Jagur sudah lama dipindahkan, diletakkan dekat Kantor Pos Taman Fatahillah.

Secara umum saya memberi apresiasi setinggi-tingginya atas upaya yang pemerintah untuk melakukan restorasi demi kelestarian bangunan bersejarah ini. Terlepas dari beberapa perubahan yang terjadi, Museum Sejarah Jakarta tetap menjadi favorit saya. Kini museum tampak lebih teratur dan nyaman. Ruangan-ruangannya pun lebih sejuk dengan keberadaan pendingin ruangan yang diletakkan begitu rupa sehingga tidak merusak pemandangan. Sekarang tinggal bagaimana kita sebagai pengunjung ikut menjaga kelestarian museum ini. Hal kecil seperti tidak menyentuh koleksi dan tidak melakukan vandalisme saja sudah sangat membantu.

Suci Rifani_Museum Sejarah Jakarta 09

 

Share to social media :

2 Comments Wajah Baru Museum Sejarah Jakarta

  1. Reski Batari

    Wuah, jadi pengen ke sana setelah baca post ini. Kapan, ya??
    Mbak, boleh minta e-mailnya ngak? Atau akun FB or Twitter? Intinya saya mau nanya2 ttng Museum ini. Dikit2 udah riset, sih. Tpi aku btuh org yg pernah dtang secara langsung ke sana.
    Boleh nggak?

    Reply

Leave a Reply