Mengasah Jiwa dalam Voluntourism

3

Ketika kamu ingin pergi ke suatu tempat, pertama kali hatimu yang akan pergi untuk menyaksikan dan meneliti keadaan di tempat itu, lalu ia akan kembali untuk mendorong tubuhmu – Jalaluddin Rumi

Salah seorang siswaku menandaiku di foto sebuah masjid di Teluk Dalam Nias Selatan. Masjid itu barangkali terbilang sederhana, namun perjalanan terwujudnya masjid itu sama sekali tidak sederhana. Ada kisah panjang menandai dibangunnya masjid itu.

Kisahnya dimulai ketika tsunami dahsyat melanda Aceh, Simeulue, dan Nias. Dua ratus ribu jiwa tewas menyedihkan dalam musibah besar di akhir tahun itu. Semua anak bangsa bersatu padu membantu saudara-saudaranya yang terkena musibah.

Walau bukan yang pertama membantu Aceh dan Nias namun saya cukup beruntung dapat ikut berpartisipasi membantu saudara-saudara di sana serta menorehkan jejak yang membanggakan.

fajr5

Sebelum membangun masjid di Nias Selatan, saya ditunjuk sebagai pemimpin proyek pembangunan sekolah di Aceh Besar dan Meulaboh. Di Aceh Besar kami mendapat wakaf 1 ha tanah dari keluarga H. Mawardi. Di atas tanah itulah sebuah sekolah menengah yang cukup megah kami bangun.

Di Meulaboh kami mendapat wakaf tanah 25 ha. Di sini, konsep bangunan terpadu dibangun. Sebuah bangunan besar dengan sebuah aula besar di tengah, dikelilingi oleh ruang kelas yang cukup banyak. Bangunan megah ini kemudian diserahkan ke pemerintah daerah yang saat itu sekretaris daerahnya merupakan ketua cabang Yayasan Babussalam.

Ketika pembangunan di Aceh hampir rampung, saya diperintahkan lagi untuk membangun masjid di Nias. Awalnya masjid akan dibangun di Gunung Sitoli. Namun karena ada permintaan dari masyarakat Teluk Dalam, Nias Selatan, maka lokasi pembangunan masjid pun dialihkan.

fajr7

Membangun di daerah bencana seperti Aceh dan Nias bukanlah perkara mudah. Selain pasokan bahan bangunan yang sebagian besar harus didatangkan dari tempat jauh, tenaga pegawai juga mesti kami bawa dari Bandung. Coba deh bayangkan, semua baja untuk membangun masjid di Nias Selatan saja didatangkan dari Medan.

Masih untung kalau cuaca laut cukup bersahabat sehingga kapal pembawa baja bisa bersandar di pelabuhan Nias Selatan. Jika tidak, jadwal pembangunan bisa molor. Beberapa kali kapal pembawa baja harus bersandar di Pulau Batu karena cuaca sangat buruk.

Belum lagi, Nisel (singkatan dari Nias Selatan) masih sering diguncang gempa. Saya masih ingat, satu sahur bulan Ramadhan, tiba-tiba saja bumi bergoyang cukup keras. Saya dan teman sekamar segera berlarian ke luar kamar sambil membawa piring yang isinya entah berhamburan ke mana.

Itu kondisi di lokasinya. Perjalanan menuju Nisel sendiri adalah sebuah perjuangan. Jika tak mendapat tiket pesawat, terpaksalah menggunakan bis kemudian naik kapal dari Sibolga. Sebuah perjalanan yang sangat panjang dan melelahkan.

fajr2

Nah, di sela-sela pembangunan seperti itulah saya mencuri-curi waktu untuk berkunjung ke tempat-tempat wisata dan bersejarah. Di Aceh, saya mengunjungi beberapa tempat seperti ke Kilometer Nol Indonesia, PLTD Apung, makam Syiah Kuala, Masjid Raya Baiturrahman, Mata Ie, dan tempat-tempat menarik lainnya.

Perjalanan dari Banda Aceh ke Meulaboh dengan menggunakan elf juga adalah perjalanan yang menegangkan. Saat itu masih banyak razia entah dari kelompok mana yang suka mencegat mobil di tengah hutan belantara. Betul-betul mendebarkan hati.

Di Nias, kesempatan mengunjungi Bawomataluo tak saya lewatkan. Kampung adat yang terkenal dengan loncat batunya itu sangat menarik untuk dikunjungi. Selain itu, Sorake adalah lokasi lain yang patut didatangi. Sorake adalah pantai indah dengan ombak besar yang mengundang para peselancar untuk mengarunginya.

Di Nias, kami mesti ekstra hati-hati soal makanan. Kami harus mencari warung makan yang terjamin kehalalannya. Di Teluk Dalam, muslim adalah minoritas dan kebanyakan warung makan menjual makanan daging yang tidak dapat kami konsumsi. Beruntung salah seorang kerabat DKM masjid mau memasakkan makanan buat kami selama di Teluk Dalam.

Sayangnya dokumentasi pribadi yang dulu banyak saya unggah ke multiply kebanyakan hilang setelah layanan jejaring sosial itu dimatikan. Hanya ada beberapa dokumen yang bisa saya selamatkan. Ah, tak mengapa. Yang penting saya masih bisa membuat jejak yang baik di beberapa tempat.

fajr6

Bagi saya, setiap perjalanan adalah sebuah wisata yang dapat membentuk jiwa. Apalagi dalam bingkai kegiatan kemanusiaan seperti membangun sekolah, masjid, dan mengajar. Sungguh perjalanan batin luar biasa. Saya betul-betul beruntung dapat melakukan keduanya.

By Fajruddin Muchtar
fxmuchtar@gmail.com
mengasah jiwa dalam voluntourism
http://fxmuchtar.blogspot.com/2015/02/mengasah-jiwa-dalam-voluntourism.html

 

3 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

[+] kaskus emoticons nartzco