Voluntourism, Membuat Perjalanan Lebih Bermakna

0

Because traveling opens eyes, warms hearts, frees minds, makes us alive…

Semua orang pastinya suka jalan-jalan, suka berlibur ke tempat yang jauh untuk melepas beban, memanjakan diri masing-masing. Setiap perjalanan adalah pencarian, mencari kepuasan.

Lalu hasilnya apa?

Batin kita terpuaskan. Mood menjadi lebih baik karena segala beban di sekolah, kampus, kantor, lepas sudah. Setiap pulang bepergian, selalu kita membawa oleh-oleh untuk yang tersayang dan pastinya foto-foto yang menggambarkan betapa indah dan menyenangkannya liburan kita.

Tapi, pernahkah terpikir untuk melakukan sesuatu yang lebih ketika melakukan perjalanan liburan?

Sudah pernah dengar voluntourism?

Kata voluntourism ini pastinya masih asing di telinga kita. Secara pribadi saya mengartikannya sebagai kegiatan sosial yang bisa kita lakukan di perjalanan. Ternyata sudah banyak lho yang melakukannya.

Ada teman-teman dari Komunitas Bookpacker yang selalu menyumbangkan buku ke tempat tujuan liburan mereka. Walau tidak terlalu banyak jumlahnya, nilainya sangat berharga.

satwin5

Tahun 2012 silam, saya melakukan perjalanan ke Pematang Siantar, Samosir, dan Pulau Nias di Sumatera Utara. Di ketiga tempat tersebut, saya mengunjungi tiga panti rehabilitasi bagi orang-orang berkebutuhan khusus yang semuanya bernaung di bawah sebuah yayasan bernama Harapan Jaya.

Saya dikenalkan dengan tempat tersebut oleh teman saya yang mengabdikan diri selama satu tahun untuk menjadi relawan di Yayasan Harapan Jaya. Selama setahun dia membantu seluruh penghuni yayasan, mendokumentasikan kegiatan sehari-hari mereka dan perayaan dalam yayasan. Selama menjadi volunteer, dia menetap gratis dan mendapatkan makanan dari yayasan. Dia sangat menyenangi kegiatannya tersebut karena selain bisa bermain dengan anak-anak dia juga bisa menyalurkan hobi fotografinya dengan mengeksplorasi objek-objek wisata cantik di Sumatera Utara.

Temanku bercerita bahwa tugasnya di yayasan adalah membantu mencarikan donatur. Dengan skill fotografinya yang sangat mumpuni, foto-foto yang dihasilkan benar-benar bisa membuatmu terenyuh. Potret kegigihan anak-anak yang berjuang dengan segala keterbatasan fisik yang mereka miliki namun terlihat begitu bahagia.

Satwin1

Foto-foto tersebut diunggah ke social media dan dikemas dalam bentuk kalender, yang bisa dijual dan menghasilkan uang untuk yayasan. Karena foto tersebut pula, saya jadi tergerak untuk berkunjung ke Harapan Jaya dan ingin mencoba membantu sebisanya, walau sebentar saja.

Saya sudah mempersiapkan banyak camilan dan permen untuk dibagikan kepada anak-anak ketika berkunjung ke yayasan tersebut. Selama beberapa hari saya ikut mengurus anak-anak, belajar, bermain dengan mereka, ikut menyuapi makanan ke anak-anak yang tidak bisa makan sendiri. Dengan anak-anak yang lebih besar, khususnya perempuan, saya mengajak mereka belajar dandan – make-up class sederhana. Mereka begitu senang. Mata mereka berbinar, begitu pun saya.

Sentuhan hangat yang kita berikan kepada mereka adalah yang benar-benar mereka butuhkan – sentuhan di kepala, tangan; pelukan dan ciuman. Kebanyakan anak-anak di panti rehabilitasi ini tidak punya orang tua dan mendamba kasih sayang dari orang-orang di sekitarnya.

Benarlah saya dibuat takjub oleh mereka selama berada di Harapan Jaya. Dari seluruh penghuni yayasan, ada satu orang yang benar-benar membuat saya terperangah dan terharu, namanya Rokaya Siregar. Saya ingin menulis profil khususnya suatu hari nanti. Sejak lahir, ia tanpa tangan dan kaki. Tetapi dia bisa memasak, mencuci, melukis lilin, bahkan membuat ronce manik-manik sendiri, tanpa bantuan orang lain. Sekarang, Kak Rokaya sudah menikah dan punya bayi perempuan yang sangat lucu. Betapa bahagianya dia sekarang.

Begitu pula ketika saya berkunjung ke Samosir dan Nias. Saya berkunjung dan melakukan hal yang sama seperti di Harapan Jaya Pematang Siantar. Di Samosir namanya Harapan Jaya, sedangkan di Nias namanya Panti Rehabilitasi Caritas Dorkas. Ketiganya bernaung di bawah satu yayasan yang sama.

Jangan sesekali menunjukkan rasa iba kepada mereka, karena mereka pun tidak mengharapkan itu. Mereka ingin dianggap sama, normal seperti kita. Mereka bahkan bisa melakukan lebih daripada yang kita bisa.

satwin2

Saya sendiri belum terlalu yakin apakah yang saya lakukan itu bisa digolongkan pada voluntourism yang sebenarnya. Saya melakukannya atas dasar keinginan untuk melakukan sesuatu yang lebih dari sekadar menikmati pemandangan alam dan beramah-tamah dengan penduduk lokal. Saya ingin memberikan sesuatu untuk mereka dan untuk diri saya sendiri.

Mereka memberikan saya suntikan semangat yang begitu besar. Sekaligus tamparan. Sebagai manusia yang terlahir dengan fisik baik, saya malu masih sering mengeluh ini dan itu. Saya malu ketika melihat semangat mereka, keteguhan hati mereka, dan kasih yang mereka berikan satu sama lain. Kunci mereka untuk hidup bahagia hanyalah satu: kasih.

Voluntourism juga menjadi satu perwujudan kasih kita kepada sesama. Tiada pakem atau aturan yang mengikat. Semuanya dilakukan secara sukarela.

Mari melakukan perjalanan sambil menyebar kasih. Membuat perjalanan lebih bermakna…

By Satya Winnie Sidabutar
satyasidabutar@gmail.com
Voluntourism, Membuat Perjalanan Lebih Bermakna
http://www.satyawinnie.com/2015/02/voluntourism-membuat-perjalanan-lebih.html
All photos are captured by Juferdy

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

[+] kaskus emoticons nartzco