The Van Diary: Tenganan dan Daun Lontar

1

Syahdan, jauh sebelum masa ketika pasukan Majapahit yang kalah perang melarikan diri ke Bali lalu mengubah kebudayaan pulau itu menjadi selayaknya sekarang, Bali telah memiliki peradaban. Para penghuni awal Pulau Dewata hidup tenteram di pegunungan dengan menganut kepercayaan lokal: agama Tirta. Desa-desa tua tempat mereka bermukim dikenal sebagai Bali Aga (Bali Asli). Kini, hanya beberapa di antaranya saja yang masih tersisa.

Dari Pantai Candidasa, tempat kami melewatkan malam Natal 2014, kami meluncur dengan karavan ke Desa Adat Tenganan Pegringsingan, salah satu dari beberapa desa Bali Aga yang termasyhur dengan tradisi Perang Pandan. Di percabangan jalan kami berbelok ke kanan, ke jalanan kecil berpagar rerumputan hijau – seperti lazimnya jalan desa-desa di pelosok Bali. Aspal mulus. Perjalanan itu berakhir di ujung sebuah tanjakan, lahan parkir wisatawan pengunjung Desa Tenganan.

Gerbang masuk ke desa itu terletak di samping loket tempat wisatawan harus melapor. Tidak terlalu lebar, hanya cukup untuk dua orang.

Hal pertama yang muncul dalam benak saya ketika menginjakkan kaki di Desa Tenganan adalah harmoni. Suara burung – yang entah apa – bersinergi dengan pohon-pohon hijau, menciptakan semacam pembangkit bagi rasa optimis untuk menjalani hari.

Rumah-rumah beratap ilalang yang dilengkapi dengan angkul-angkul dibangun berjejer. Berhadap-hadapan, mereka dipisahkan oleh deretan balai-balai terbuka beratap ijuk, serta jalan dan sempadan.

Sempadan-sempadan dihiasi deretan batang kembang jepun yang belum lagi berbunga. Tidak ada aspal di sana. Jalanan dalam desa, hanya dikeraskan dengan batu kali, mengingatkan saya pada sebuah adegan dalam film The Motorcycle Diaries yang bercerita tentang petualangan Che Guevara dan teman akrabnya mengelilingi Amerika Selatan, ketika mereka berada di gang-gang kecil di Cuzco, Peru, sebelum trekking ke reruntuhan kota kuna Machu Picchu.

Di pinggir jalan, beberapa orang membuka lapak kerajinan tangan dengan medium daun lontar. Mereka tampak tekun di balik meja kerja masing-masing, seolah-olah luruh diserap oleh imajinasi mereka sendiri. Lontar yang dahulunya digunakan sebagai medium untuk menulis surat atau kitab sekarang berubah fungsi sebagai komoditi wisata.

Berjalan semakin ke dalam, mata saya beradu pandang dengan lusinan topeng yang dipajang di dinding; untuk dijual tentunya. Jika cermat kamu akan dapat menemukan beberapa plang art shop yang ditempel atau digantung di beberapa rumah.

Kami menyusuri desa sampai ke titik terjauh. Beberapa kali berpapasan dengan warga; lelaki tidak mengenakan atasan, perempuan menyunggi gebongan dengan atasan kemben.

Di ujung desa, berhadapan dengan sebuah lapangan luas dan pohon beringin raksasa, berdiri kokoh sebuah sekolah. Melihat bangunan itu saya bersyukur bahwa Desa Tenganan ternyata tidak “ditinggalkan” oleh pemerintah. Meskipun menjadi museum hidup, masyarakat Tenganan tetap diberi kesempatan untuk sama-sama menikmati Indonesia merdeka.

Menulis di Daun Lontar

Usai mengelilingi Desa Tenganan sekali, kami kembali tiba di titik awal. Kami lalu berkerumun mengelilingi sebuah meja dan kursi yang diletakkan di pinggir jalan: workshop pengerajin cinderamata daun lontar. Kerajinan tulisan daun lontar adalah souvenir alternatif selain kain tenun dobel-ikat gringsing yang legendaris.

Melihat kami mulai mengobrol dan menunjuk-nunjuk gulungan kertas daun lontar, seorang pria akhir tiga puluhan atau awal empat puluhan bergegas menghampiri. Namanya I Wayan Tumben.

“Mau mencoba menulis di daun lontar?” Ujar Pak Wayan menawarkan.

Kami mengangguk. Westi yang paling antusias sebab imaji yang ditorehkan di permukaan lontar itu kebanyakan adalah gambar perspektif sebuah bangunan; dia seorang arsitek.

Pak Wayan mengeluarkan beberapa lembar lontar dari kotak kayu yang terletak di pojok meja. Bagi mata awam saya, lembaran lontar itu tampak biasa saja. Warnanya hijau-muda kekuningan seperti sekadar daun nyiur atau kelapa yang langsung dipetik dari pohonnya. Namun ternyata perlu proses yang panjang untuk membuat selembar daun lontar menjadi siap tulis.

Daun lontar (daun siwalan) yang dipetik akan dijemur sampai berwarna kekuningan, kemudian direndam dalam air yang mengalir selama beberapa hari sebelum digosok dengan sabut kelapa sampai bersih. Proses tersebut tidak berhenti sampai di situ. Sekali lagi daun lontar dijemur; lidi dipisahkan dari daun. Setelah daun bebas lidi, lontar direbus selama delapan jam dalam kuali besar menggunakan ramuan khusus. Selesai direbus, daun tersebut ditaruh di atas rumput yang sudah dibasahi, agar kembali menjadi lurus. Keesokan harinya lembaran lontar tersebut dilap agar bersih.

Proses paling memakan waktu pun dimulai. Lembaran-lembaran lontar tersebut dipres selama enam bulan menggunakan alat penjepit dari kayu yang di Bali disebut sebagai pamlagbagan. Sekali dua minggu jepitan dilepas dan lontar dibersihkan. Setelah masa penjepitan selesai, barulah lembaran lontar itu siap ditulis – tentunya setelah diberi beberapa sentuhan akhir. Proses yang panjang, bukan?

Pak Wayan kemudian memilih-milih lempir (lembaran lontar) sebelum menyodorkan satu lembar ke Westi. Sebagai alat tulis, ia memberikan sebuah “pensil” kecil bermata pisau kecil nan pipih yang sekilas tampak seperti senjata pendekar kungfu yang terkena efek senter pengecil Doraemon.

Ia pun meminta Westi untuk menggores permukaan daun lontar. Dengan canggung, kawan saya itu melakukannya. Selesai, Pak Wayan mengoleskan buah damar yang sudah dibakar di permukaan daun lotar yang sudah digores Westi tadi. Ia lalu mengelapnya dengan kain dan, voila, tercetaklah sebentuk tulisan di daun lontar itu; warna hitam damar mengumpul dalam ceruk bekas goresan yang ditoreh Westi.

Ternyata menulis di medium lontar sama sekali tidak mudah. Melihat karya yang dipajang Pak Wayan dan rekan-rekannya, saya jadi membayangkan betapa telatennya para pengerajin lontar. Pasalnya, gambar-gambar yang mereka toreh sama sekali tidak sederhana.

Pak Wayan contohnya. Ia mengkhususkan diri membuat model balai-balai – Balai Jineng yang berfungsi sebagai lumbung padi, dan Petemu yang berfungsi sebagai tempat berkumpul – yang menuntut perhatian akan detail; garis-garisnya sungguh rapat, lekukan-lekukannya pun presisi.

Biasanya untuk menyelesaikan satu karya Pak Wayan perlu waktu seminggu. “Tapi kalau dikebut bisa cuma dua sampai tiga hari,” Pak Wayan menambahkan.

“Saya mencoba untuk berbeda dari yang lain,” ungkap Pak Wayan, merujuk pada rekan-rekannya sesama pengerajin. Di saat kawan-kawannya masih berkutat dengan gambar konvensional serupa simbol horoskop atau sosok dewata, ia memilih untuk berkonsentrasi pada sketsa bangunan balai khas Tenganan.

“Dulunya gambar saya tidak seperti ini,” Pak Wayan berkata sambil menunjuk bagian tangga Balai Petemu dalam kerajinan lontarnya. “Saya belum paham konsep perspektif sampai akhirnya seorang turis Eropa memberitahu saya. ‘Wah, bukan begini caranya membuat tangga,’ katanya.”

Berbekal tips turis Eropa itu, Ia lalu mengimprovisasi gambarnya sampai akhirnya menjadi seperti yang kami lihat saat itu.

Sekarang, ketika Desa Tenganan semakin masif dipasarkan sebagai daerah tujuan wisata, desa itu juga mengalami perubahan demografis yang tidak sedikit. Warga yang dahulunya menyambung hidup dengan bertani, sekarang beralih ke sektor pariwisata; sebagai pengerajin atau pemandu.

“Sekarang apakah masih ada warga yang bertani, Pak?” Tanya saya pada Pak Wayan. Sudah sedikit sekali yang masih bertani, jelasnya.

Apa mau dikata; perubahan adalah konsekuensi logis dari sebuah dunia yang dinamis. Kita hanya perlu meyakinkan diri bahwa perubahan-perubahan yang terjadi akan membawa umat manusia pada keadaan yang lebih baik dibanding sekarang. Barangkali tokoh Richard dalam film The Beach benar: “If that’s the way it has to be, then that’s the way it is.”

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

[+] kaskus emoticons nartzco