The Van Diary: Pura Pusering Jagat

0

Karavan melintas cepat di Jalan Tampaksiring yang mulus berliku. Hujan yang terlambat mengunjungi Bali kini sudah menampilkan rupanya. Sawah dan bau tanah basah mengiringi perjalanan sedari pagi mengunjungi situs-situs kepurbakalaan di Bali seperti Pura Pegulingan, Pura Tirta Empul, Gunung Kawi dan Candi Gajah.

“Mungkin kalau seluruh pura di Bali disatukan, seperempat pulau di Bali ini akan diisi pura,” kelakar Fuji yang duduk di belakang Pak Supir Syukron yang sedang bekerja supaya mobil baik jalannya. Semenjak hampir sebulan memutari pulau di timur Jawa ini dengan karavan, kami menemukan bahwa pura menjadi bagian tak terpisahkan dari seluruh aspek kehidupan masyarakatnya. Itu kenapa ke sudut mana saja melangkah di pulau seluas 5.780 km2, kami selalu menemukan pura. Di setiap bentang alam, setiap pusat aktifitas, kota, desa, bahkan setiap sudut rumah, kita pasti menemukan pura.

Saya teringat percakapan dengan Ketut, seorang teman di Ubud, beberapa minggu lalu. Di sana ia bercerita tentang pura desa dan pura keluarga, bagaimana setiap masyarakat Hindu Bali terikat pada desa adat dan pura keluarga. “Lalu sebagai orang luar Bali, bisakah saya bersembahyang di pura?” saya bertanya sambil menyeruput kopi. “Tentu saja bisa, kamu bisa datang ke Pura Khayangan jagat. Sesuai artinya, Pura Kahyangan Jagat adalah pura yang universal. Seluruh umat ciptaan Tuhan sejagat boleh bersembahyang ke sana,” ungkapnya bersemangat.

Ketut mengambil dan membakar sebatang rokok kemudian melanjutkan. “Karena berhubungan dengan sejarah yang berumur sangat tua, pura Kahyangan Jagat terkait dengan beberapa kerangka. Misalnya kerangka Rwa Bineda, kerangka Catur Loka Pala, Sad Winayaka, Padma Bhuwana, Dang Kahyangan, dan masih banyak lagi.”

Cuaca mendung dan udara dingin serta mengamati papan-papan nama toko souvenir yang berkelebat cepat membuat saya mengantuk di dalam mobil. Alamat di banner-banner itu terus berganti seiring jalan menurun, dari Tampaksiring, Tegalalang, kemudian Pejeng. Nama Pejeng mengusik pikiran, saya minta Syukron untuk menepikan mobil dan Ajo mulai keheranan karena tidak ada obyek wisata menarik di depan kami. Kata Pejeng pernah muncul dalam percakapan dengan Ketut.

Kembali ke momen kedua dengan Ketut di Sanur.

“Bagaimana? Sudah coba sembahyang di pura?” Saya hanya menggeleng.

“Kalau kamu suka jalan-jalan dan mendaki kenapa tidak coba berkunjung ke sembilan pura suci di penjuru Bali sesuai konsep Padma Bhuwana, kamu bisa menemukan pura paling suci, tinggi dan bersejarah dalam peradaban Hindu Bali,” jelasnya.

Alis mata spontan naik, saya tertarik.

Perempuan itu lanjut menjelaskan. “Dalam konsep Padma Bhuawana, ada sembilan pura yang berada di penjuru Bali berdasar arah mata angin yaitu: Pura Ulun Danu Batur di utara (utara), Pura Besakih di timur laut (ersanya), Pura Lempuyang Luhur di timur (purwa), Pura Gua Lawah di tenggara (gneya), Pura Andakasa di selatan (daksina), Pura Uluwatu di barat daya (neritya), Pura Batukaru di barat (pascima), dan pura Pucakmangu di barat laut (wayabya)”

“Lalu di mana pusatnya?” tak sabar saya bertanya.

Ketut mendelik, menyeruput kopi dan menghisap dalam-dalam rokoknya. “Pertanyaan yang bagus. Pusatnya adalah Pura Pusering Jagat di tengah (madya). Datang ke Pejeng di Gianyar, sesekali kamu tanya orang-orang tua di sana tentang di mana pusat dunia maka Pusering jagat adalah jawabannya. Bagi mereka di Pura Pusering Jagatlah awal mula kehidupan dan peradaban dunia. Keyakinan itu kemungkinan besar karena Pusering Jagat memang berarti pusat semesta”.

Berbekal informasi dari penduduk Pejeng, kami menemukan pura ini di barat jalan. Berada di tengah pemukiman warga, Pura Pusering Jagat tetap memancarkan aura keagungan dalam sepinya. Kami perlu masuk ke jalan yang sempit untuk dilalui dua mobil agar bisa sampai di gerbangnya.

Bayangan dalam benak saya adalah pura ini akan seramai Pura Besakih di kaki gunung agung atau Pura Ulun Danu di danau Batur. Kenyataannya, bahkan penjaga pura saja tidak terlihat. Namun karena keheningannya aura kesucian pura terasa menyesaki udara.

Kami bebatkan kain endek sebelum memberanikan diri masuk pura. Di pelataran depan gerbang, berdiri gagah dua patung gajah hampir seukuran aslinya yang tampak jelas termakan usia. Sedikit di kiri pura, terlihat bangunan bertangga menjorok ke dalam tanah dengan area lapang di tengahnya, seperti area untuk menonton pertunjukan.

Kami sempat kecewa karena pintu masuk bagian dalam pura tampak terkunci. Namun, setelah diperiksa kembali, pintu itu hanya tertutup tapi tidak terkunci. Berbeda dengan area luar yang penuh ilalang selutut, bagian dalam Pusering Jagat sangat terawat. Kami coba mengamati pelinggih searah jarum jam.

Di satu sisi tempat pemujaan terdapat arca yang dipahat kasar di batuan andesit dan sudah tampak lapuk termakan usia, namun dari kepalanya yang berbentuk gajah kami bisa mengenali sosok itu adalah Ganesha, Dewa Kebijaksanaan yang merupakan putra Dewa Siwa.

Di pelinggih lain, kami juga menemukan arca yang memiliki kondisi tidak jauh beda dengan Arca Ganesha. Sosok perempuan dengan banyak tangan itu kami prediksi sebagai Dewi Durga, istri Dewa Siwa.

Di pelinggih sebelah kanan berdiri arca berbentuk lingga yoni yang disebut Purusa dan Pradana. Dalam ajaran Hindu, Purusa dan Pradana ini adalah ciptaan Tuhan yang pertama. Purusa adalah benih-benih kejiwaan, sedangkan Pradana benih-benih kebendaan. Pertemuan Purusa dan Pradana inilah melahirkan kehidupan dan harmoni.

Tak lama, pria setengah baya dengan rambut sudah memutih dan pakaian adat Bali datang dengan tergesa-gesa dan menghampiri kami. Setelah saling memperkenalkan diri kami tahu ia adalah pengempon pura ini. Ternyata memang gerbang Pura Pusering Jagat dibuka untuk wisatawan sampai jam tiga sore saja sehingga ia sudah pulang ke rumah ketika kami datang. Beruntung ada penduduk yang memberitahunya setelah melihat kedatangan kami.

“Pada zaman kerajaan Bali dahulu kala Pura Pusering Jagat dinyatakan sebagai tempat pemujaan Batara Amangkurat. Artinya di Pura Pusering Jagat ini Tuhan dipuja sebagai dewa penuntun mereka yang sedang memangku jabatan menata kehidupan rakyat. Penguasa itu akan mengabdi pada yang dikuasai apabila mereka yang berkuasa itu adalah mereka yang memiliki sikap hidup yang religius. Tanpa religiusitas yang kuat penguasa dapat berbuat sewenang-wenang pada rakyat yang dikuasainya,” jelas Pak Pengempon ketika kami bertanya siapa saja yang sering datang ke pura yang sudah sangat tua ini.

Lamunan terbang pada buku yang pernah saya baca. Pejeng di masa lampau adalah pusat kerajaan Bali Kuno, jauh sebelum pengaruh Hindu Majapahit datang. Jadi pusat Bali dan pusat pemerintahan sudah sejak lama diadakan di sini. Pantas bila kata pusat dunia dan tempat sembahyang pemimpin dunia disematkan pada pura Pusering Jagat.

Pak Pengempon membawa kami ke bagian tersembunyi di timur Gedong purusa. Di atas pelinggih berdiri kokoh bejana besar dari batu yang dipahat dengan sangat halus. “Ini Sangku Sudala. Bejana ini sebagai simbol wadah air suci untuk menyucikan hidup manusia. Karena dengan kesucian itulah dharma dapat ditegakkan dalam hidup ini.”

Menurut penjelasan lanjutannya di bagian bejana ini terdapat gambar yang menandakan angka tahun Saka 1251. Kemudian ia mengambil sikap berdoa kemudian membuka kotak di depan Sangku Sudala dan mengambil gelang dari kain di dalamnya. Kemudian menawarkan kami untuk memakainya.

Sebenarnya kami ingin lebih lama lagi di pura ini tetapi langit yang mulai gelap membuat kehadiran kami sudah semestinya berakhir. Semestinya saat datang ke Bali kita tidak hanya menikmati keindahan alam dan budayanya. Namun, yang lebih penting, belajar bagaimana masyarakat Bali memandang hubungan antara manusia, alam dan Yang Esa. Sesuatu yang saat ini sering kita lupakan dalam kehidupan sehari-hari bahwa ketiga tidak bisa dipandang secara terpisah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

[+] kaskus emoticons nartzco