The Van Diary: Pasah di Pasar Kintamani

0

Lantai dua Luden House yang terbuat dari kayu berderit-derit ketika kami sibuk membereskan perlengkapan tidur. Nyawa belum begitu terkumpul sementara hawa dingin Ubud di pagi hari serasa menahan kami untuk tetap bertahan dalam kantong tidur. Saya sendiri barangkali baru sekitar satu setengah sampai dua jam tidur, begadang menulis catatan harian.

Jarum jam belum menunjukkan pukul lima ketika suara astrea tua Emil membahana di Jl. Sri Wedari –pasti dingin sekali. Emil adalah seorang fotografer yang sedang mendalami Bali, manusia dan budayanya. Kami mengenalnya melalui Vifick. Semalam ketika bertemu di warung makan Jl. Hanoman, ia mengajak kami melewatkan pagi di Pasar Kintamani.

“Kebetulan besok hari pasar,” begitu jelasnya. Seketika kami mengangguk menerima tawaran itu. Kapan lagi bisa melihat suasana pagi di pasar tertinggi di Pulau Bali?

Kemudian, disupiri Emil, Mr. K – sebutan kesayangan kami untuk mobil van merah-putih itu – melaju mantap membelah jalanan menuju Kaldera Batur. Jalanan menanjak itu masih teramat sepi, pedagang souvenir di Jl. Tegallalang pun sepertinya masih mencari hangat di balik selimut.

“Tahu tidak kalau Tegallalang ini masuk ke dalam guinness book of world records sebagai deretan toko souvenir terpanjang di dunia?” Emil bertanya. Kami membalasnya dengan gelengan sebab sama sekali belum pernah terpapar informasi itu. Tapi deretan toko itu memang panjang sekali. Setengah jam melaju kencang dengan Mr. K kami belum mencapai ujung.

Di atas, langit semakin terang. Nyala gemintang mulai meredup, seolah sengaja menepi demi memberi jalan pada Batara Surya.

Tibalah kami di Kaldera Batur. Di timur, Gunung Abang setia memagari Danau Kintamani sementara Gunung Batur yang gundul berdiri gagah di tengah kawah.

Pagi itu kami akan bertandang ke dua pasar. Pertama kami akan berkeliaran di pasar pagi depan Pasar Seni Geopark Batur. Setelahnya kami akan berpindah ke Pasar Induk Kintamani.

Ketika Mr. K terparkir di pasar pertama, langit sudah agak pucat meskipun mentari belum muncul. “Bagusnya itu waktu matahari terbit – cahaya menerangi para pedagang dari samping,” ujar Emil semalam.

Benar. Pasar itu seolah-oleh keluar dari lukisan aliran impresionisme ala Vincent Van Gogh. Terletak di ruas jalan sepanjang kurang dari seratus meter, pasar pagi itu penuh oleh lapak pedagang di kanan-kiri jalan. Mereka menjual bermacam barang, dari mulai hasil bumi seperti sayur dan buah-buahan – pisang dan rambutan sedang musim, aneka daging – ayam dan babi, usus babi, pakaian baru dan bekas, bahan-bahan kelengkapan canang, perkakas dapur, makanan ringan seperti uli – sejenis lemang, sampai makanan untuk sarapan. Orang-orang di pasar itu tertib sekali sehingga kendaraan bermotor tetap leluasa melintas.

Adegan itu tampak harmonis dengan latar belakang Danau dan Gunung Batur serta Gunung Abang. Pohon pinus yang ditanam berjejer mengesankan kerapian dan keteraturan. Di lereng bawah pasar dibangun dua gardu pandang, juga kios-kios penjual makanan. Memandang kaldera dari sana, saya seolah-oleh dapat menjulurkan tangan dan merengkuh Puncak Gunung Batur.

Menyantap Nasi Sela

Semalam Emil bilang bahwa di Pasar Kintamani ada makanan khas Bali yang diberi nama Nasi Sela, makanan yang konon sudah tidak terlalu umum dijual. Penjelasannya semalam hanya sebatas bahwa makanan itu adalah nasi dicampur ketela yang dipotong kecil-kecil. Bagaimana rasanya, atau penyajiannya, masih dalam khayalan, sampai pagi itu ketika Emil mengajak kami pindah dari pasar pagi ke Pasar Induk Kintamani.

Mr. K membawa kami ke barat, melewati Pura Ulun Danu Batur yang telah kami kunjungi kemarin. Saya sempat bertanya-tanya kemarin soal pura itu sebab penamaannya mirip dengan pura yang di Beratan, Bedugul. Ternyata Ulun Danu berarti bagian hulu danau. Pura-pura di Bali biasanya dibangun di bagian hulu sesuatu, baik danau maupun sungai. Sebuah kearifan lokal untuk menjaga sumber mata air.

Pura itu tampak berbeda dibanding kemarin. Selimut putih kabut memberikan kesan bahwa ia mengambang di udara.

Kami menemukan tempat parkir agak jauh dari pasar. Di bawah jejeran pepohonan tinggi. Inilah salah satu hal yang saya suka dari Bali. Pepohonan tinggi yang menaungi jalanan masih merupakan pemandangan lazim. Di seberang, gerobak Sate Madura menguarkan aroma khas yang dibawa oleh asap putih hangat.

Ke arah pasar kami berjalan. Karena hari ini Pasah – salah satu nama hari dalam sistem penanggalan triwara ala Bali – yang merupakan hari pasar Kintamani, Pasar Induk ramai sekali. Di sini kelincahan berguna. Kami mesti meliuk-liuk di antara motor yang sedang diparkir, juga kerumunan orang yang berkumpul di sekeliling tukang obat seperti laron merubungi pelita.

Kami tiba di depan sebuah kios sederhana yang menjual sarapan. Mbok penjual tampaknya sudah hapal dengan Emil sebab sebelum meramu makanan ia sempat bertanya, “Hari ini Emil makan apa?”

Ia memesan Nasi Sela, kami berlima juga. Dengan terampil Mbok mengambil satu demi satu kelengkapan Nasi Sela. Tangannya luwes berpindah dari satu wadah ke wadah lain, seperti umumnya penjual makanan di Bali. Sebentar saja lima Nasi Sela terhidang di meja.

Sekali melihat, air selera saya langsung bergolak sebab Nasi Sela tampak demikian menggiurkan. Nasinya ditanak bersama ketela yang dipotong-potong seperti dadu mini, memberikan aksen abu-abu.

Serundeng, sayur kangkung, ikan teri, potongan ikan laut, ayam suwir, tauge, tahu, dan tempe adalah kelengkapannya. Selain itu juga tersedia pepes ikan dan ayam – dibungkus dengan daun pisang, dan aneka sate.

Sembari makan, Emil menjelaskan bahwa tidak semua kalangan bersedia makan Nasi Sela sebab makanan itu identik dengan masyarakat kurang mampu. Sebab itulah keberadaan makanan ini kian tergerus zaman.

“Di Pasar Ubud masih ada yang menjual,” ungkap Emil yang sudah bertahun-tahun tinggal di Bali untuk mengamati kehidupan masyarakat. “Tapi tidak seenak yang di Kintamani ini.”

Memang enak nasi itu. Gurih dan sehat – lihat saja kelengkapannya. Secara mengejutkan seporsi Nasi Sela hanya dihargai Rp 7.000.

Sayang rasanya menghabiskan Nasi Sela, namun lebih sayang lagi untuk menyisakannya. Kemudian, setelah makanan itu tandas, dengan perut kenyang kami jalan kaki mengitari lorong-lorong Pasar Induk Kintamani, pasar tertinggi di tanah Bali. Sesekali, badan saya menggigil disapu kabut dingin yang keberadaannya merupakan pemandangan lazim di tempat setinggi ini. Jika negeri di awan yang didongengkan Katon Bagaskara benar-benar ada, barangkali inilah tempatnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

[+] kaskus emoticons nartzco