The Van Diary: Menyaksikan Pelebon

1
DCIM100GOPROG0449046.

Berita bahwa sebuah upacara kematian keluarga para raja, pelebon, akan dilakukan pada hari ini (9/12) meniup kami sampai ke Ubud. Sekitar pukul sebelas kami berempat tiba di The Sungu Resort & Spa, tempat kami akan menginap selama beberapa hari ke depan.

Setelah melengkapi diri dengan kamen (kain yang digunakan sebagai bawahan) dan udeng, kami jalan kaki ke lokasi pelaksanaan pelebonan. Di sekitar Puri Agung Ubud, massa sudah berkumpul, bersiap-siap untuk menyaksikan Pelebon, upacara langka ini. Sebenarnya rangkaian upacara pelebon sendiri sudah dimulai sejak lama, hari ini adalah puncaknya.

Karena belum sempat mengisi perut di Denpasar, kami mencari sarapan terlebih dahulu di Jl. Raya Ubud, sebelum pertigaan Jl. Hanoman. Sesaat setelah makanan kami tandas, arak-arakan tampak mulai bergerak menuju setra di kawasan Pura Dalem Puri Peliatan. Kami bergegas keluar, kemudian secara tidak sadar berpencar.

Satu per satu perangkat upacara lewat: lembu kecil, lembu besar, dan bade. Benda-benda tersebut diusung secara estafet oleh puluhan orang yang ngayah (gotong royong) secara sukarela. Setiap beberapa puluh meter arak-arakan tersebut berhenti dan bertukar pengusung. Tidak lupa di setiap perempatan bade diputar sebanyak tiga kali.

Para penonton berjubelan menyaksikan “pawai” tersebut. Selain berkerumun di trotoar, orang-orang juga berkumpul di lantai dua, bahkan di atap rumah.

Sekitar pukul tiga sore kedua lembu dan bade sampai di setra, lokasi kremasi. Jenazah kemudian diturunkan dari bade untuk kemudian diangkat ke lembu. Benda-benda lain, seperti payung emas dan sarang burung, juga dibawa turun dari bade yang menjulang tinggi. Seorang pria yang menggenggam tongkat berkepala burung cenderawasih memimpin prosesi – burung cenderawasih itulah yang dipercaya akan menuntun jenazah ke alam baka. Sebelum diangkat ke lembu, jenazah dibawa berkeliling tiga kali berlawanan arah jarum jam, diikuti oleh keluarganya.

Setelah jenazah berada di dalam lembu, diadakan upacara penghormatan secara militer. Jenazah yang akan dikremasi ternyata adalah Dr. Ir. Tjokorda Raka Sukawati, seorang insinyur kawakan lulusan ITB yang menemukan teknik konstruksi jalan layang “Sosrobahu” yang memungkinkan pembangunan jalan layang tanpa harus mengganggu arus lalu lintas saat proses pembangunannya. Beliau telah beberapa kali memperoleh bintang penghargaan dari presiden. Almarhum dilepas dengan salvo satu kali.

Ketika upacara penghormatan dilakukan, seorang pemangku telah mulai melaksanakan ritual dan membakar dupa.

Upacara usai. Asap pekat pun mulai membumbung sesaat setelah kedua lembu dibakar. Lidah-lidah api oranye menyala-nyala, melalap kedua lembu tersebut sampai yang tertinggal hanya kerangka kayu.

Setelahnya, abu dan sisa-sisa tubuh jenazah dibawa ke Pantai Matahari Terbit di Sanur untuk dilarung. Sayangnya kami tidak berkesempatan untuk ikut menyaksikan prosesi penghanyutan.

Di akhir acara, kami berempat berkumpul dan bersama-sama berjalan kembali ke The Sungu. Letih, namun terasa sekali bahwa air dalam cawan kami sedikit bertambah.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

[+] kaskus emoticons nartzco