The Van Diary: Menera Jalur Sutera Songan – Trunyan

0

Menanggapi undangan seorang kawan, sedari siang kami bersama Mr. K sudah melaju menuju Batur. “Kalian pasti sudah bosan liat Danau Batur, tapi kali ini coba kita kelilingi dia, siapa tahu kalian bisa jatuh cinta lagi,” ungkap Kadek, kawan yang memiliki rumah di daerah Kintamani itu.

Peralatan sudah siap, kami deg-degan. Bagaimana tidak, nama trek ini, Jalur Sutera Songan – Trunyan bahkan tidak pernah kami dengar sebelumnya walau kami rajin blogwalking dan langganan beragam majalah travelling. “Santai saja, ini pendakian ceria kok. Ngga usah berat-berat bawaaannya,” terang Kadek santai ketika mengemas carrier-nya. Jam menunjukan pukul 20,00 WITA ketika Mr. K berangkat menuju gerbang pendakian, Pura Ulun Danu Batur.

Ketika melintasi trek awal pendakian, saya merasa ini tidak bisa disebut pendakian ceria. Bagaimana tidak, jalurnya sempit, curam dan diapit hutan lebat. Sebagai pendaki pemula saya merasa takut dan ingin memeluk pohon. Kesan itu berubah setelah berjalan selama dua jam, ketika trek membawa kami ke jalan beraspal yang bisa dilewati mobil. “Ini sih namanya becanda,” celetuk Syukron .

Meski trek selanjutnya bersahabat, menyusuri jalan pedesaan, tetap saja angin berhembus tidak cukup ramah. Keadaan menjadi serba salah, tubuh basah kuyup berkeringat jika mengenakan jaket, tapi menggigil kedinginan bila menanggalkannya. Saya memilih untuk tetap mengenakan kaos tipis sedari di basecamp karena tubuh akan tetap hangat meski dihempas angin malam asal terus bergerak.

Terganggu oleh kehadiran orang-orang asing di daerah mereka, anjing-anjing kintamani menyalaki kami tanpa henti. Seperti bensin yang dituangkan pada api, salakan kecil memicu salakan seluruh anjing yang mendiami rumah di sepanjang desa. Anjing Kintamani memang lucu, dengan bulu tebal dan wajah seperti serigala, namun sifat alaminya untuk menjaga wilayahnya membuat mereka cukup bisa diandalkan untuk menjaga rumah.

Di penghujung desa, lagi-lagi trek menanjak memutar, diiringi bunyi gesekan rumput kering yang ditarikan angin dan bintang yang laksana semburat percik susu, kami berjalan terus dalam keheningan, menjajaki bukit yang hutannya habis digantikan ladang.

Dari sisi bukit yang terbuka Danau Kintamani terlihat. Ia bening memantulkan cahaya bintang. Lampu-lampu dari bangunan yang mengepung danau juga mempercantik suasana. Kami tidak bisa berhenti lama dan terus berjalan menanjak sampai menemukan pura dan tanah lapang yang cukup luas tepat di atas bukit. Di area ini kami akan membangun tenda dan beristirahat sebelum esok melanjutkan perjalanan lagi.

***

Pagi tiba dengan sangat cepat. Bukan…bukan… kami yang tidur terlalu larut sehingga hanya sempat terlelap sejenak hingga matahari kembali berkunjung. Pagi diawali dengan aktivitas mengagumi diri sendiri dan mengabadikan kemudaan sebelum waktu menggilas cepat. Setiap orang sibuk dengan kamera masing-masing. Tripod-tripod terpasang sempurna untuk mengabadikan citra individual maupun komunal.

Dari puncak Songan, Gunung Agung yang puncaknya dikepung awan terasa sangat dekat. Di timur, selat lombok merah keemasan memantulkan cahaya pagi. Danau Batur pun menguarkan embun yang sepanjang malam mendekam. Seharusnya ada keheningan yang menentramkan, namun karena kami sibuk bergurau, kemewahan alam itu jadi menguap. Tak lama, selepas matahari terus terasa memanas, semua segera berkemas.

Jalan setapak membawa kami melintasi perkebunan warga. Di lereng-lereng tajam tumbuh palawija seperti jagung, kacang-kacangan, cabai juga tomat. Namun, saya tidak melihat ada petani yang menjaga ladangnya, hanya anjing yang berkeliaran di sana. Lagipula, siapa orang nekat yang rela mendaki gunung cuma untuk menjarah hasil kebun.

Trek terus memutar dan tiba-tiba menurun tajam, keluar dari balik pohon-pohon kering dan ilalang kami langsung disajikan pemandangan Danau Batur yang permukaannya biru kehijauan. Mungkin orang Bali jenuh melihat Batur karena selalu dinikmati dari sisi yang sama, sama seperti yang kemarin saya rasa. Namun, bukan tempat yang menjadi masalah tapi cara pandang kita. Mungkin para pengunjung rutin Danau Batur akan jatuh cinta kembali dari tempat ini. Sama seperti seorang lelaki yang jatuh cinta lagi karena perempuannya mengubah potongan rambut.

Kondisi lintasan berubah, kini kami menyusuri punggungan sempit, di sisi kiri jurang dan sisi kanan danau, ketegangan yang membuat perjalanan ini menyenangkan. Tebing yang tersusun dari batuan vulkanik memiliki bentukan unik membawa imajinasi semakin liar. Angin sepoi-sepoi meringankan tubuh yang panas berkeringat karena mesti bekerja ekstra.

Matahari tepat di atas kepala, sampai bayangan tubuh tampak lenyap tak bersisa, saat itu juga kami memasuki perkampungan warga. Rumah-rumah mereka sederhana terbuat dari bahan-bahan yang disediakan alam, walaupun atapnya sudah terbuat dari seng. Penduduk mengamati kami dengan seksama, mungkin karena jarang ada pejalan, apalagi dalam kelompok, yang melintasi desa mereka. Sambil menunggu matahari undur diri dari derajat tertinggi, kami membuka perbekalan dan mengisi air yang meniris di botol.

Tubuh pendaki tidak seperti pelari, tubuh pendaki seperti mesin diesel, bertenaga tapi tidak gampang panas. Setelah lama beristirahat, pantat terasa berat untuk berangkat. Mata terus ingin terpejam sambil melanjutkan khayalan. Memakai sepatu dan berkemas terasa pekerjaan yang menyebalkan. Namun kaki harus terus melangkah untuk bisa sampai ke Desa Trunyan.

Jalan mulai semakin ramah, jika sepanjang jalan tadi penuh tanjakan dan tikungan curam, kini jalan mulai menurun walaupun tetap saja curam. Danau Batur itu manis, bukan cantik, semakin dipandang dari sisi berbeda semakin muncul pesonanya, bukan dilihat untuk dikagumi lalu jadi membosankan. Sepanjang jalan tak henti-hentinya memori menyimpan citra danau ini. Andai punya cadangan baterai yang cukup, ingin rasanya kamera ini dipaksa merekam setiap sudutnya.

Di punggungan terakhir, Desa Trunyan sudah nampak jauh di bawah. Rumah-rumah, pura dan lapangan membentuk pola yang khas tata letak desa Bali. Keramba-keramba mengapung di danau dan kapal hilir mudik membawa pengunjung ke Pekuburan Trunyan yang legendaris. Kami sudah hampir tiba di destinasi.

Melewati jalur sutra Songan bukan tentang mencapai titik terakhir sebagai puncak perjalanan. Melewati jalur ini berarti menikmati setiap sisi keindahan dalam perjalanan. Silahkan dicoba dan selamat jatuh cinta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

[+] kaskus emoticons nartzco