The Van Diary: Gede Sayur

0

Selama dua malam kami menginap di studio sekaligus galeri seniman Gede Sayur. Namanya mulai menjadi perhatian sejak ia memasang seni instalasi berupa tulisan Not For Sale di sawah belakang Luden House – nama yang ia berikan untuk studionya itu – yang terletak di Desa Junjungan, Ubud.

Not For Sale bukan sekadar seni, namun juga sebuah gerakan untuk melestarikan keberadaan sawah di Ubud yang kian hari kian berkurang luasnya. Beruntung, kami berkesempatan untuk duduk mengobrol dan bercengkerama dengannya.

Arti Luden House apa, Bli?
Luden itu berasal dari Bahasa Latin yang artinya bersenang-senang. Jadi Luden House berarti rumah yang difungsikan sebagai tempat untuk berbagi, bermain, dan sharing bersama teman-teman yang datang.

Tujuan Luden House selain untuk bersenang-senang itu?
Pada dasarnya ketika ada yang datang berkunjung ke sini, mengobrol, kami senang. Tapi fungsi khususnya memang untuk berkesenian dan berbagi. Seperti itu.

Q: Menurut Bli sendiri arti seni itu apa?
A: Seni itu… sakral. Ada proses perintihan di situ. Ada proses di mana rintihan itu bisa menjawab hal-hal yang terjadi di sekitar kita.

Q: Di belakang kita ada tulisan Not for Sale. Maknanya apa, Bli?
A: Sudah barang tentu Not for Sale artinya tidak dijual. Jadi, karya ini saya ciptakan sebagai usaha untuk menyadaran tentang arti penting dan sakralnya sawah bagi masyarakat Ubud dan Bali pada umumnya.

Q: Berarti ada hubungannya antara seni, manusia, dan lingkungan?
Sangat jelas (iya). Karena itu sebagai manusia Bali yang lahir dan hidup di Bali, kita sadar tentang hal itu.

Q: Lebih dalam lagi bagaimana Bli melihat hubungan antara seni, manusia, dan lingkungan?
A: (Mereka) Itu menyatu di Bali. Manusia Bali tanpa seni nggak bisa hidup. Begitu pula sebaliknya. Semuanya, ketiga sektor itu, terkait erat.

Q: Soal Ubud sendiri. Bagaimana pendapat Bli tentang perkembangan Ubud mungkin dari mulai Bli kembali dari Jogja ke sini sampai sekarang?
A: Ubud memang dari dulu terkenal dengan seninya. Cuma untuk saat ini saya heran kenapa perkembangan seni di Ubud bergerak ke arah yang kurang… apa ya… intinya saya bertanya-tanya ke mana sih arah seni di Ubud untuk saat ini. Dan mungkin karena pengaruh pariwisata yang kuat, seni di bali khususnya di Ubud saat ini sangat jauh berbeda dengan seni yang dulu berkembang.

Q: Sekarang kan di Bali bagian selatan lagi gencar-gencarnya Bali Tolak Reklamasi. Bagaimana menurut Bli tentang itu?
A: Di masyarakat sih sebenarnya banyak pro-kontra. Tapi, yang jelas kalau menolak reklamasi itu dilakukan untuk menyelamatkan lingkungan dan menyelamatkan aset-aset budaya yang berada di Bali, saya pikir itu mesti dilakukan.

Q: Mungkin sudah ada sejenis sinergi antara Not For Sale dengan Bali Tolak Reklamasi. Apakah sudah pernah mengadakan kegiatan yang sinergis?
A: Ya. Jadi kita pernah bersinergi dengan teman-teman yang bergerak di Bali Tolak Reklamasi – tapi kalau saya sendiri memang mengkonsentrasikan diri di not for sale. Pernah kita bikin konser Bali Not for Sale concert di depan site yang kita buat. Demi memberikan sebuah penyadaran.

Q: Berarti Bli kan punya misi. Berarti bisa saya tanyakan apa harapan Bli terhadap Ubud di masa yang akan datang?
A: Yang pertama, yang paling utama, mungkin budayanya harus di-save, dijaga kesakralannya. Kemudian kalau bisa sih manusia Bali itu dilahirkan dengan agama yang sederhana, dengan aliran yang sederhana. Itu yang perlu dijaga, itu yang paling penting. Karena kita terkait erat dengan hubungan antara alam dan tuhan. Jadi itu akan menjadi modal besar untuk menjaga Bali sebenarnya.

Q: Contoh kesederhanaan hidup yang Bli idam-idamkan itu?
A: Produktif. Kita bukan konsumtif. Kita harus produktif. Itu yang paling penting. Dan jika sudah melakukan itu, apa lagi yang akan kita tuntut dariNya?

Q: Terakhir, siapa seniman yang menginspirasi Bli sehingga sampai menjadi seperti sekarang ini?
A: Banyak sih – seniman barat ada, seniman lokal juga ada. Tapi siapa ya? Saya juga bingung, nih. Intinya, saya takjub sama semua seniman. Proses yang dialami setiap seniman itu beraneka ragam. Dan karena itulah saya sangat salut pada semua karya orang. Saya sangat salut.

Terima kasih atas wawancaranya, Bli.
Sama-sama.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

[+] kaskus emoticons nartzco