Terpikat Taman Air Tirta Gangga

2

Jika Yogyakarta memiliki Taman Sari, maka Bali punya Tirta Gangga, sebuah tempat peristirahatan sekaligus pemandian keluarga Kerajaan Karangasem yang dibangun oleh Anak Agung Ngurah Anglurah Ketut Karangasem berpuluh tahun lalu. Walaupun dulu tempat ini dibangun khusus untuk keluarga kerajaan, kini siapa pun dapat menikmati segarnya mandi di Tirta Gangga.

Saya memulai perjalanan menuju Tirta Gangga dari Amed menumpang sebuah mobil van. Butuh waktu 40 menit untuk tiba di tujuan. Sederet warung dan kios berdiri sepanjang jalan ketika saya berjalan menuju candi bentar yang menjadi pintu masuk Tirta Gangga. Berkali-kali saya ditawari makanan ikan dengan berbagai merek dan harga. Didorong rasa penasaran, saya pun membeli tiga bungkus makanan ikan seharga Rp 2000 per bungkus.

Tirta Gangga terletak di Desa Ababi, Kecamatan Abang, Kabupaten Karangasem, Bali. Berada di kaki Gunung Agung dan dinaungi banyak pohon, udara sekitar lokasi ini menjadi sejuk dan segar. Tirta Gangga adalah sebuah taman terbuka dengan beberapa kolam, patung, ornamen, pura, dan sebuah mata air. Bangunan tertutup hanya berupa hotel dan restoran yang dibangun tepat di pinggir Tirta Gangga.

Tirta Gangga Karangasem
Selain deretan patung Mahabarata, di Tirta Gangga ada batu-batu pijakan berbentuk segi enam/dok. Suci Rifani

 

Saya melewati candi bentar, pelan-pelan menuruni anak tangga, lalu mendadak terdiam mengagumi keindahan Tirta Gangga. Sebuah jalan setapak berbatu dengan pohon kecil serta rumput di kanan dan kirinya seakan membelah taman air ini menjadi dua. Saya pun menuju kolam di sebelah utara yang sedang ramai.

Di tengah kolam bernama Mahabarata itu berbaris patung-patung dari kisah Mahabarata. Sebelah selatan adalah tempat bagi pasukan Pandawa, sementara utara diperindah oleh patung-patung pasukan Kurawa. Kedua deretan patung tersebut saling berhadapan seakan siap bertarung di medan Kurukshetra. Jika kamu penggemar Mahabarata, coba lihat dengan teliti patung-patung di sana, niscaya kamu akan bisa mengenali patung Yudistira, Bima, Arjuna, atau si kembar Nakula dan Sadewa dari barisan Pandawa serta Dursasana, Duryudana, Bisma, Karna, dan Sangkuni dari pihak Kurawa.

Selain deretan patung, terdapat pula batu-batu berbentuk segi enam yang dapat diinjak. Sehingga saya bisa berjalan di atas kolam untuk berfoto. Kolam ini juga berisi puluhan ikan yang sepertinya sudah terbiasa berinteraksi dengan pengunjung. Mereka berlomba-lomba mendekati pengunjung dan memasang aksi seperti minta diberi makan. Ah, sekarang saya paham kenapa banyak penjual makanan ikan di luar Tirta Gangga. Saya pun segera mengeluarkan pakan ikan yang saya beli tadi kemudian menaburkannya ke tengah kolam. Mulut-mulut ikan berebut mendekat, saling mendorong, melahap makanan dengan rakusnya, dan sekonyong-konyong membubarkan diri saat makanan telah tandas. Hanya riak air yang tersisa di permukaan kolam.

Tirta Gangga Bali
Walaupun Tirta Gangga semula dibangun khusus untuk keluarga kerajaan, kini siapa pun dapat menikmati segarnya mandi di sini/dok. Suci Rifani

 

Berjalan lebih jauh ke arah barat, tepat di belakang kolam Mahabarata, saya tiba di sebuah kolam pemandian. Saya berjalan mengitari kolam itu menuju pintu di sudut barat laut. Sebuah loket menjadi penanda bahwa saya berada di tempat yang tepat. Untuk dapat merasakan segarnya air, pengunjung harus membeli tiket lagi seharga Rp 10.000 untuk orang dewasa dan Rp 5.000 untuk anak-anak. Di depan pintu masuk kolam pemandian inilah saya bertemu Bapak Nyoman dan Bapak Mangku Tisna, dua pekerja senior yang sudah bekerja di Tirta Gangga selama lebih dari 17 tahun. Mereka mengizinkan saya untuk masuk tanpa membayar, sebab saya memang hanya mau melihat dan mengambil beberapa foto.

Kolam pemandian berbentuk persegi, terbuat dari batu alam dengan lima pancuran. Anak-anak, orang dewasa baik pria atau wanita, masyarakat sekitar, pejalan nusantara hingga turis asing, asyik bermain air. Ada bapak yang sedang mengajarkan anaknya berenang, ada keluarga yang bercanda ria di pinggir kolam, ada sekelompok anak kecil berenang dengan ban, dan ada sepasang turis asing yang sedang membersihkan diri di luar kolam. “Kalau mau renang sekarang saja, nanti pukul 5.30 kami tutup,” begitu kata Pak Mangku. Namun meskipun kolamnya tutup lebih awal, kawasan Tirta Gangga tetap buka hingga pukul 7 malam.

Taman Air Tirta gangga
Bayan raksasa yang menaungi Tirta Gangga/dok. Suci Rifani

 

“Tirta Gangga pernah hancur saat Gunung Agung meletus tahun ‘63,” kata Pak Nyoman.

Kejadian itu membuat sebagian besar patung ikut hancur dan baru mulai dibuat kembali setelah pergantian milenium. “Coba jalan ke arah barat lagi terus ke belakang sana, ada patung-patung yang bagus,” lanjut Pak Nyoman sambil menunjukkan jalan. Saya dan Yuki, teman seperjalanan, kembali melangkahkan kaki menuju arah yang ditunjuk.

Sebuah pelataran terbuka seperti panggung dengan naungan pepohonan menyambut saya. Saya hitung ada delapan patung yang memagari pelataran.

“Tempat ini disebut pusat meditasi,” kata Pak Mangku. “Ah, pantas saja tempat ini terasa damai,” begitu pikir saya. Patung-patung ini menggambarkan transisi manusia, dewa, dan iblis. “Ya, kita manusia mau jadi apa?” Pak Mangku beretorika. “Jika menjadi manusia baik maka bisa seperti Dewi Saraswati, tapi kalau jahat, ya, seperti Rangda,” lanjut Pak Mangku. Perjalanan manusia menuju kebaikan dilambangkan dengan patung dewa, sebaliknya perjalanan menuju kejahatan disimbolkan dengan patung iblis.

Di lantai pelataran terlukis ornamen-ornamen yang berhubungan dengan meditasi. Pada lingkaran paling dalam terajah bunga teratai.

Kolam Pemandian di Tirta Gangga Bali
Pengunjung yang berasal dari segala kalangan sedang asyik berenang di Tirta Gangga/dok. Suci Rifani

 

“Teratai adalah simbol dari kebebasan dan kemurnian,” jelas Pak Nyoman. Lambang ini menggambarkan seseorang yang bermeditasi seperti teratai, bebas dari segala keterikatan dan keinginan. Lingkaran selanjutnya berisi kotak-kotak seperti papan catur yang menggambarkan dualisme, ada hitam ada putih, ada baik ada jahat, ada energi yang berseberangan. Berikutnya adalah simbol Yin-Yang yang sudah ada sejak zaman Tiongkok kuno. Yin-Yang adalah harapan bahwa akan selalu ada cahaya dalam gelap, juga sebaliknya. Dua simbol sisanya berbentuk cakra atau roda dan ikan yang menyerupai Yin dan Yang.

Di akhir perjalanan, saya melewati sebuah pura yang dinaungi pohon bayan besar dan menjulang tinggi. Menurut Pak Nyoman, di sanalah sumber dari mata air Tirta Gangga.

Saat bertanya apakah saya bisa melihat bagian dalam pura, Pak Nyoman malah balik bertanya: “Kamu sedang cuntaka, tidak?” Pak Nyoman kemudian memberitahu saya bahwa apabila seorang wanita sedang cuntaka alias menstruasi maka ia tidak diperbolehkan memasuki area pura. Saya menggelengkan kepala dan berlari mendekati pura. Sayangnya walau sedang tidak cuntaka, saya tak bisa mendekat karena pintu gerbang pura terkunci rapat.

Tirta Gangga memang terbuka untuk umum. Siapa saja boleh datang dan berkunjung meski tidak berdarah biru. Namun Tirta Gangga ternyata lebih dari sekadar pemandian. Banyak filosofi tergambar di tiap strukturnya.  Tidak hanya mata yang akan dimanjakan, tetap juga batin, sebab di sini kamu juga bisa bermeditasi.

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

[+] kaskus emoticons nartzco