Talkshow Voluntourism di Jakarta

0

Bagi sebagian orang, travelling bukan lagi sebagai gaya hidup, tapi juga kebutuhan. Hal ini tidak terlepas dari perkembangan teknologi yang memudahkan orang untuk secara luas mengakses informasi. Yang akhirnya juga disadari pejalan, traveling menjadi cara ampuh untuk belajar budaya, bahasa, seni dan menambah soft skill yang tentunya akan berguna dalam menunjang karir dan pekerjaan.

Walaupun travelling sering didengungkan sebagai kegiatan yang positif, namun tetap saja akan memberi dampak yang negatif bila pejalan tidak mempunyai pemahaman tentang cara melakukan perjalanan yang baik. Dampaknya luas, bisa terhadap masyarakat tuan rumah yang dikunjungi, juga lingkungan. Tentu saja akan lebih membanggakan jika pejalan selain bersenang-senang dan mengembangkan diri melalui travelling, juga bisa meminimalisir dampak negatif yang mungkin muncul karena aktifitas tersebut.

Menjawab tantangan tersebut, Traveller Kaskus yang concern di isu Sustainable Tourism mencoba mengenalkan gaya berjalan baru kepada travel enthusiast melalui Talkshow yang bertajuk Voluntourism di Hotel Amazing Koetaradja, kamis (23/4/2015).

Voluntourism merupakan penggabungan 2 kata, yaitu volunteer dan tourism, yang berarti melakukan kerelawanan dalam ruang lingkup pariwisata. Seperti yang dilakukan Endro Catur, salah satu pembicara dalam talkshow voluntourism ini.

Endro yang awalnya hanya berkunjung biasa di desa Sika, Nusa Tenggara Timur prihatin dengan kondisi desa tersebut. Sika merupakan desa kecil yang mayoritasnya adalah perajin kain tenun dengan ciri khasnya sendiri, tetapi yang terjadi saat itu adalah mayoritas perajinnya justru kurang percaya diri dengan keunikan kain tenun mereka.

Akhirnya Endro yang menguasai knowledge management mencoba memberikan penyuluhan-penyuluhan selama di sana, yang berdampak pada peningkatan ekonomi Desa Sika dengan produksi kain tenun khas mereka. “Sebenernya tidak rumit, saya hanya membantu sesuai keahlian yang saya miliki. Saya coba gali pengetahuan mereka tentang kain tenun. Lalu saya dokumentasikan dalam bentuk buku paduan,” ujarnya.

Lain lagi dengan Aghnia Fasza, salah satu pemenang kompetisi menulis voluntourism yang diadakan oleh Traveller Kaskus, yang biasa dipanggil dengan nama Tides. Perjalanannya ke Taman Nasional Bukit Tiga Puluh, Jambi untuk memberikan penyuluhan kepada masyarakat yang kurang paham akan keberadaan gajah sumatra di sana. “Cukup miris juga pas tahu masyarakat Jambi tidak sadar dengan keberadaan gajah sumatra. Jadi pas saya di sana, saya melakukan pendekatan ke masyarakat supaya lebih kenal akan kondisi gajah sumatra,” ujarnya. Seperti sering kita dengar, sering terjadi konflik antara gajah dan masyarakat lokal karena gajah dianggap hama bagi kebun milik warga.

Travellerkaskus sebagai komunitas yang turut mengampanyekan isu voluntourism coba membangun kesadaran pejalan untuk tidak sekadar berkunjung ke suatu tempat wisata. Harapannya ke depan pejalan turut membantu perkembangan masyarakat atau lingkungan dengan kemampuan yang dimiliki. “Apapun itu, kegiatan yang dilakukan untuk kebaikan masyarakat dan lingkungan di tempat yang dikunjungi adalah bentuk voluntourism. Sekecil apapun bentuknya pasti ada dampaknya, meskipun hanya sekedar ide,” kata Mawski selaku Offline Manager Traveller Kaskus.

Voluntourism menjadi isu yang diangkat Traveller Kaskus untuk tahun 2015 ini. Sampai saat ini masih pada tahap memberikan kesadaran bagi pejalan tentang cara baru melakukan perjalanan ini, supaya semakin banyak pejalan kenal dan melakukannya. Oleh karena itu, talkshow akan segera dilangsungkan lagi di Jogja, Semarang dan Denpasar. Tunggu tanggal mainnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

[+] kaskus emoticons nartzco