Suatu Ketika di Moni

3

Bagi saya kenangan tentang Moni bukanlah semata soal Danau Kelimutu. Kelimutu cantik, tak bisa dipungkiri, namun kecantikan seperti itu rasanya cukup jika diabadikan dalam kartu pos saja, yang setelah diterima seseorang di ujung sana akan disimpan dalam laci, untuk kemudian dilupakan.

Kenangan tentang Moni adalah ketika saya membayar bea sewa kamar Hotel Ikhlas selama dua malam sebelum melesat dengan ojek berkecepatan tinggi ke terminal Wolowana, Ende, lalu melompat ke dalam oto pertama menuju Moni yang saya temukan. Selama satu setengah jam tubuh saya ikut meliuk-liuk mengikuti jalanan Flores yang lengang namun kecil lagi mengular. Barangkali benar lelucon yang kerap disampaikan orang-orang yang saya jumpai di jalan, bahwa selain Nusa Bunga, Flores juga pantas dijuluki Nusa Nipa – pulau ular.

Sesekali oto itu berhenti di depan pasar nan ramai, memberikan jalan bagi mama-mama Flores untuk ikut melaju bersama si roda empat. Pakaian mereka khas. Baju seperti kimono lengan pendek dengan motif bunga, sementara pelindung tubuh bagian bawah adalah kain tenun ikat yang dipasang seperti sarung. Mereka menggunakan bagian kain yang dilipat untuk menyimpan uang. Di depan deretan toko kelontong yang penjualnya jelas tak berseragam, mereka berdiri berbaris sambil mengunyah sirih pemerah bibir. Mereka, dalam naungan cahaya pagi yang menenangkan, tampak gemilang.

Ketika kantuk mulai menyergap, sebuah plang hijau penunjuk jalan ke Kelimutu terbaca oleh saya: Kelimutu kanan, Moni kiri. Selang sebentar penginapan mulai bermunculan. Saya mulai menegakkan badan, bersiap untuk meneriakkan kata “kiri” pada supir.

Oto itu berhenti di ujung Moni. Setelah memuntahkan saya, ia langsung menderu meninggalkan saya terbatuk-batuk menghirup asap buangannya yang pekat. Seketika dingin langsung menyergap. Alam tidak pernah ingkar janji memang, semakin tinggi posisi sebuah tempat dari muka laut, hawa akan menjadi semakin dingin.

Ransel hijau di punggung, saya berjalan menyusuri jalan beraspal Moni yang mulus demi mencari sebuah penginapan bernama Bintang, yang konon – menurut buku panduan sejuta umat – harga sewa kamarnya masih murah. Penginapan itu tak sulit ditemukan, yang sulit ialah menerima kenyataan bahwa semua kamarnya sudah penuh terisi.

Aryanti, Hidayah, Watugana, semua penuh.

“Mau cari penginapan?” Tiba-tiba seorang lelaki paruh baya bertanya dari seberang jalan.
“Iya, Pak,” saya menanggapi.
Saya mau mencari yang harganya di bawah seratus ribu.
Ia menggeleng.
“Sudah susah sekarang mencari yang di bawah seratus ribu.”

Saya berjalan kembali ke tempat oto menurunkan saya tadi, lalu duduk di sebuah warung bernama Nusa Bunga.
Seringkali, dalam perjalanan, rentetan pengalaman tak terduga dimulai dari sebuah warung kopi kecil. Sekitar seminggu yang lalu warung kopi membawa saya menyeberang ke Pulau Komodo setelah secara tidak sengaja terlibat obroalan hangat dengan seorang nakhoda ojek kapal yang sehari-hari berlayar bolak-balik membelah ombak dari pulau terbarat Nusa Tenggara Timur itu ke Labuan Bajo. Bahkan saya diajak untuk menginap di rumah panggungnya, bersama istri dan tiga anaknya yang masih kecil.

Saya pesan segelas kopi hitam di Nusa Bunga. Asap mengepul dari pekat yang ditampung oleh gelas kecil transparan, panasnya dihambat sopan oleh tatakan. Warnanya, dan uapnya, tampak bak salah satu kawah Kelimutu yang kerap saya lihat di brosur atau catatan perjalanan.

Pasar lengang di seberang jalan. Barangkali sekarang bukan harinya para pedagang berjualan, bukan hari pekan. Sebagai ganti, orang-orang silih berganti masuk keluar toko kelontong yang dibangun strategis tepat di samping pasar.

Sempat terpikir untuk membentangkan ayunan saja di antara dua dari sekian puluh tiang yang menyangga pasar itu.
Damri kecil lewat, meninggalkan beberapa orang penumpang beserta barang-barang yang jumlahnya tidak sedikit, lalu melanjutkan pengembaraannya melalui jalan berliku ke Maumere. Bis ringkih itu mestinya paham lika-liku jalan; entah sudah berapa ribu putaran yang dihabiskan rodanya menyusuri Flores dari ujung ke ujung.

Saya seruput kopi hitam yang mulai menyesuaikan diri dengan hawa dingin pegunungan itu, diiringi tatapan penuh rasa ingin tahu sang perempuan pemilik kafe.

“Bisakah saya tidur di pasar itu, Kak?” Saya bertanya, sekadar membuka pembicaraan.
“Belum mendapat tempat menginap?” Ia membalas dengan pertanyaan.

Sambil tersenyum, saya tunjuk ransel besar yang tersandar lemah di dinding, ke Eiger hijau yang saya tebus dari honor pertama menulis di majalah. Ia menggeleng-geleng sambil tersenyum. Dikiranya saya adalah pelancong yang sedang bosan menatap gigir kawah Kelimutu dari kamarnya, yang keluar dari suasana suntuk penginapannya untuk mencari angin.

“Saya ada kamar,” ia memberitahu. “Tapi alakadarnya saja.”

Sambil menunggu ia mengatur segala sesuatu, saya teruskan menyeruput kopi Flores itu. Nikmat memang. Beberapa malam lalu di kantor besar polisi di Bajawa, bersama beberapa orang polisi tabah yang kebagian tugas jaga malam, saya menghirup hitamnya kopi Bajawa dalam selimut dingin yang menusuk tulang. Setelahnya, setiap kali berhadapan dengan kopi Bajawa, ingatan akan membawa saya ke sebuah malam dingin penuh bintang di sebuah kota kecil yang jauh dari jangkauan kekuasaan, ke sebuah meja tempat saya membuka sebungkus nasi Padang pemberian seorang reserse, mempertemukan saya kembali dengan kobar api unggun dalam tong yang dibuat oleh Ciku, imigran asal Timor Leste, yang menyambung hidup dengan menjadi pesuruh di Polres Ngada.

Dua orang pemuda yang semula duduk di dalam beranjak ke luar untuk bergabung. Mereka kelihatan sedang gelisah menunggu sesuatu yang entah apa. Meski begitu tetap mereka antusias melayani obrolan saya. Dari mereka saya mengetahui legenda Iya, Meja, dan Wongge yang tragis.

Kata mereka bernostalgia: “Dulu kakek-kakek kami senang bercerita kepada kami, cucu-cucunya.” Tapi, ungkap salah seorang sambil menggeleng-geleng, ia tidak ingat semua.

“Dalam rangka apa ke sini?” Imbuhnya.
Saya terkesiap mendengar pertanyaan itu.

Kaki Kelimutu bukanlah tidak terbiasa dihampiri pelancong. Sebelum menumpang ojek – atau berjalan kaki – ke kawah Kelimutu untuk menikmati pagi di pinggir Tiwu Nuwamuri Ko’ofai sembari mendengarkan dendangan Burung Garugiwa, para nomad musiman itu biasanya mempersiapkan diri di Moni. Hanya saja, alih-alih berkulit sawo matang dan berambut hitam legam, avonturir yang beredar di jantung Flores itu kebanyakan berkulit putih dan berambut pirang. Mereka adalah orang-orang yang datang dari sisi lain bumi, yang berbicara menggunakan bahasa-bahasa asing yang sebenarnya tak punya urusan di bumi pertiwi. Barangkali yang seperti saya adalah anomali.

“Pesiar,” saya jawab sambil tersenyum.

Tak berapa lama kedua pemuda itu berlalu sebab telah mendapat kabar dari yang ditunggu. Tinggallah saya sendiri di meja itu, menatapi awan yang perlahan tersibak menelanjangi gigir kawah Kelimutu. Aspal Moni yang kesepian hanya sesekali dilindas oleh oto, atau oleh mobil mengilap yang melaju ringan membawa turis-turis melintasi Flores dari ujung ke ujung. Bersamaan dengan itu terpikirkan pula oleh saya tentang hingar-bingar pariwisata yang sedang meletup-letup di Jawa.

suatu-ketika-di-moni-2

Jadi di mana orang-orang yang gemar mengepos foto negeri sejuta senja sebab sepanjang perjalanan dua mingguan ini saya hanya bertemu rekan pejalan sejumlah satu… dua orang? Barangkali mereka sedang menyamar menjadi turis asing, duduk nyaman di dalam mobil berpendingin dalam perjalanan akbar Labuan Bajo-Larantuka, lalu setelah pulang mereka tentu akan melancarkan petisi yang hanya akan disimak golongan-golongan tertentu: #SaveIni, #LockPulauItu.

Perjalanan, kawan, adalah soal mengikis kenaifan, sekaligus belajar untuk mengompromikan teori dan kenyataan. Perjalanan, dalam segala pertemuan dan perpisahan, akan mengajarkan bahwa bumi tidak hanya dihuni oleh hewan. Ada manusia juga yang butuh hidup, yang selama ini barangkali bekerja membanting tulang dengan cara-cara yang menurut versi kita keliru. Tapi, sekali lagi, mereka harus melakukan itu untuk sekadar menyambung hidup. Tidak elok rasanya buru-buru mengambil kesimpulan. Ah…

Angin berhembus menerobos jejeran pinus yang merajai puncak Kelimutu. Semilir itu terbawa sampai Nusa Bunga, bertiup di antara kibaran rambut panjang saya. Dinginnya menampar-nampar kulit. Lalu lewat pori-pori ia merasuk ke hati.

 

3 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

[+] kaskus emoticons nartzco