Traveller Kaskus

General

Slow Travel: Merawat Nalar

Tahun lalu, tante saya yang lama tinggal di Jerman berkunjung ke Indonesia. Ia bercerita soal saudara yang ingin traveling ke Eropa. Selama di Eropa, si saudara mau menyambangi Jerman, Prancis, Belanda, dan Italia. Semuanya dalam waktu kurang dari dua pekan. Tante saya menggeleng kepalanya dan berkata, “jalan-jalan macam apa tuh?”

Cara traveling semacam itu sebenarnya tak asing lagi. Sudah sering kita dengar orang menyambangi tiga/empat negara ASEAN dalam waktu 1-2 pekan. Dan, mereka merasa bangga. Seakan itu pencapaian agung yang tak bisa dilakukan semua orang. Ada hasrat penaklukan di situ. Seakan tanah-tanah yang asing itu ada untuk diinjak. Semakin banyak, semakin bagus.

“Apa sih yang didapat dari jalan-jalan macam itu?” renung tante saya.

Saya menyebutnya sebagai “check-list travel”. Kita berjalan ke suatu tempat hanya untuk men-ceklis, bahwa tempat itu sudah pernah dijejaki. Lokalitas tak perlu diserap dan pengalaman tak perlu diresap. Yang penting: gue udah pernah kesana. Budaya semacam ini mungkin tak lepas dari pengaruh daftar-daftar seperti “100 places to go before you die”, “10 best beaches in 2016”, dan sebagainya.

Gaya jalan seperti ini tak lepas dari konteks sosio-kultural hari ini. Kita merayakan pencapaian-pencapaian dangkal. Lihatlah media sosial. Pakai baju apa dan makan restoran mana adalah hal-hal penting yang tak boleh luput dari perhatian orang lain. Terlebih lagi soal jalan-jalan ke negara A atau pulau B.

Pola pikir achievement-minded ini kemungkinan besar ditumbuhkan modernisme, disuburkan tangan ajaib kapitalisme. Kadang ditambah bumbu artificially rebel macam ‘you only live once’ atau ‘do what you love’. Kita dituntut untuk selalu achieving, meraih, meraup. Dan apa yang diraup haruslah sesuatu yang tampak, yang terukur, yang kuantitatif. “Check-list travel” hanyalah potret tentang dunia yang kita hidupi sekarang. The more (places) are better. Tapi, kita lantas tahu semua itu klise. Omong kosong.

Apa sih yang didapat dari jalan-jalan macam itu? Kecuali cap paspor baru, ceklis yang makin banyak, dan foto-foto baru di Instagram.

Sebagian pejalan lantas merenunginya. Mendesak dirinya sendiri tentang apa yang terasa keliru. Lalu, mengakui kedangkalan yang dibuatnya. Mereka melewati banyak negeri asing, tapi tak mendapat makna dari dalamnya. Slow travel muncul sebagai antidot.

Slow travel adalah sebentuk usaha untuk mengembalikan titik berat perjalanan pada kualitas dan dampak yang dibuatnya. Kualitas, bukan kuantitas. Sama seperti gerakan slow food yang hendak menentang kebanalan fast food, demikian pula slow travel. Ia mengajak para pejalan untuk meresapi proses, bukan hasil saja.

Slow travel tak berdiri sendiri, melainkan beriringan dengan slow-slow lain. Intinya, ada kejenuhan yang tak tertahankan pada kehidupan modern yang serba cepat dan produktif. Kita menjadi mesin 24/7. Tidak hanya di pekerjaan, bahkan sampai ke cara kita menghabiskan waktu luang. Semua ditata, semua diatur, semua dimanipulasi. Bukannya mengendurkan laju di waktu senggang, kita dituntut terus berlari. Kita terus meraup.

Kejenuhan dan kesadaran terhadap kegilaan yang serba-cepat itulah yang mendasari slow travel. Orang ingin berjalan dengan lebih “pelan” dan menyadari bahwa jalan-jalan bukanlah untuk mengumpulkan cap paspor atau menceklis daftar. Harus diakui, slow travel memang terdengar romantis. Seperti peziarah yang mencari makna lewat kelana. Seperti turis mula-mula yang mengunjungi negeri lain demi pengetahuan.

Bukan demi kedangkalan-kedangkalan kita hari ini.

Share to social media :

31 Comments Slow Travel: Merawat Nalar

  1. Gallant

    Konsep slow travel memang bagus, tapi mungkin nggak semua bisa berpikir seperti itu apalagi dengan kesibukan sehari-hari. Jadi pemikirannya “yang penting liburan” meskipun nanti ya berefek panjang, seperti capek banget pas pulang.

    Reply
  2. deddot

    Sepertinya Slow travel masuk kesalah satu wisata Minat Khusus, karena ga semua orang punya waktu luang yg panjang dan motivasi melakukan perjalannya berbeda. Konsep perjalanan yang Keren.

    Reply
  3. Nadia

    Suka tulisan ini, mengena banget dan tanpa sadar menyadarkan soal “check-list travel”
    Senang bisa melihat artikel tentang pariwisata dari sudut pandang lain tidak hanya membahas destinasi saja

    Reply
  4. Evi Arbay

    Saya seringkali melakukan Yang Anda bilang Slow Travel or Checklist Travel or whatever baik Di indonesia or around the world….. TAPI saya tidak pernah terucap orang2 Yg melakukan checklist Travel or what Itu Sebagai KEDANGKALAN.

    Emang udah sejauh mana Anda pernah explore Indonesia dan the world???

    Reply
    1. Deli

      Saya pernah berkunjung ke kota A yang terkenal damai, asri, dan sangat nyaman untuk wisata keluarga.
      Suatu ketika dalam kunjungan saya yang singkat, terjadi pembunuhan di kota ini, yang membuat orang beramai-ramai membicarakannya.
      Ketidaknyamanan kunjungan saya tersebut lalu saya tuliskan di blog dan sosial media, bahwa kota A adalah kota yang penuh dengan kriminal, sangat tidak dianjurkan untuk wisata keluarga, dan lain sebagainya.
      Dibalik itu semua, pembunuhan yang terjadi ternyata merupakan fenomena langka yang ada di kota A. Hanya ada satu kasus dalam setahun. Namun, karena kunjungan yang singkat membuat saya tidak punya waktu untuk lebih mengenal kota ini, dan yang saya lihat adalah yang saya alami, maka pandangan terhadap kota A ini berubah seketika karena lawatan “sabtu – minggu” saya.

      Reply
    2. deddot

      “Emang sudah sejauh mana Anda Explore Indonesia Dan The World” ? mungkin pertanyaan ini pantasnya saya balik tanyakan kepada sdr/i Evy Arbay. Sejauh Mana kamu mengenal Objek2 atau salah-satu Yg pernah Kamu kunjungi boleh di share dong :maafaganwati ? Yang konon menurut mu kamu pernah dan sering melakukan yg namanya “SLOW TRAVEL”. :cystg

      Reply
  5. Yantoque

    Mbak Evi Arbay, dengan anda menulis “Emang udah sejauh mana Anda pernah explore Indonesia dan the world???” itu sudah menunjukan maksud kedangkalan yang ada ditulisan mas Pitor ini.

    Reply
  6. Rivai Hidayat

    Artikel yang bagus.
    semuanya harus slow, begitu juga dg jalan-jalan atau liburan.
    bukan lagi tentang sejauh mana kaki melangkah, namun seberapa dalam apa kita mengenal tempat yang dkunjungi :))

    *ijin share yaa gan :D
    :2thumbup

    Reply
  7. Sutiknyo

    Saya kurang sreg dengan mengkotak-kotakkan jenis perjalanan. Mau dia backpacker, flashpacker, traveller koper atau apapun itu semuanya punya satu tujuan yakni liburan. Nah jatah libur orang kan beda-beda, tingkat kebahagiaan orang satu sama lainnya juga beda beda. Jalau saya sendiri terkadang bahagia dengan trip bareng teman-teman yang menang punya destinasi-destinasi tertentu dan dalam waktu singkat karena keterbatasan jatah cuti mereka. Pada saat lain saya juga suka traveling ke tempat2 remote sendirian berbulan bulan. Semuanya membuat saya bahagia dan senang kok. Bukankah itu adalah esensi dari sebuah perjalanan. Salam Lestari

    Reply
  8. Ashari Yudha

    Setuju dengan Mas Sutiknyo, ada baiknya tidak mengkotak-kotakan traveller. Setiap orang punya cara berjalannya masing-masing. I try both of them (fast and slow travel), dan ternyata ada kelebihan dan kekurangannya. Belum lagi faktor cuti, keluarga, keuangan, dan tingkat kebahagiaan yang berbeda.

    So, opini saya sih nggak ada yang salah mau fast travel or solo travel, selama tidak merugikan orang lain.

    Karena tidak semua orang sama seperti kita, itu aja kuncinya.

    Reply
  9. wulan prasetyo

    ” Karena tidak semua orang sama seperti kita, itu aja kuncinya. ” itu seperti sudah menampilkan pengkotak-kotakan traveler.
    Makna perjalanan sudah berkembang luas, jaman sekarang sudah dimaknai sebagai eksistensi bagi persembahan media sosial.

    Reply
  10. Pitor

    Slow travel sebenarnya bukan pengkotak2an, tipologi, kategori. Kalo backpacker, flashpacker, solo traveler memang kotak2.

    Slow travel adalah konseptualisasi, abstraksi. Bukan kotak, tipe, kategori. Terlalu kuantitatif lah itu.

    Reply
  11. Joan M

    “Kita berjalan ke suatu tempat hanya untuk men-ceklis, bahwa tempat itu sudah pernah dijejaki.”
    Jangan berprasangka buruk mas, dosa lho.

    Reply
  12. CDS

    Menurut saya, jalan cepat atau lambat itu adalah pilihan masing-masing orang yang punya preferensi dan pilihannya sendiri. Setiap orang itu beda dan unik. Ada yang nyaman dengan tempo jalan cepat, ada yang lambat. Ada yang bisa cepat mendapat pengetahuan dengan hanya tinggal beberapa saat saja di suatu tempat. Ada yang butuh waktu lama, atau lebih memilih berada di suatu tempat dengan lama-lama. Jadi kalau saya berpendapat, ada baiknya kita tidak menghakimi atau “memaksakan” pendapat mengenai suatu pilihan. Karena pada dasarnya, tiap orang memiliki kesukaan, waktu luang, serta nominal rekening bank yang beda-beda.

    Reply
  13. Samhoed

    Mungkin Anda bangga akan ke-slow travel-an Anda. Tapi kita sama sekali tak berhak menghakimi sesuatu yang beda dan tidak sepaham dengan kita adalah dangkal. Coba merenung lagi, jangan-jangan kita sendiri yang dangkal, karena merasa sendiri paling benar..

    Reply
  14. Aya

    Menurut saya, slow travel ato check-list travel itu preferensi masing-masing. Banyak faktor yang mempengaruhi gaya travelling kita termasuk jatah cuti, biaya, keinginan tempat yang ingin dituju apakah mau shopping, wisata kuliner, dateng ke museum, atau lain-lain. Itu gaya pribadi masing-masing dan menurut gue perlu dihargai, bukan dibilang dangkal.
    Dan prinsip gue sih, selama gue seneng dengan gaya jalan2 gue dan kalian-kalian yang ngejudge ga bayarin travelling gue, so why should I bother?

    Reply
  15. Dengkul Dangkal

    Man.. This is so deep but so empty.
    Siapa yang berhak menghakimi orang lain yang mencari kebahagiaan (dan pencapaian) dengan caranya sendiri yang tak menyalahi hak orang lain, dengan sebutan “dangkal”?

    Reply
  16. morishige

    Slow. Pelan. Lambat. Pengertiannya bisa beragam tergantung pemahaman masing-masing. Yang saya pahami dari sentilan Pitor di atas adalah, bukan di pelan itu intinya, namun di sejauh mana seseorang meresapi perjalanannya. (Bukan di kontestasi tipologi2 seperti backpacking, flashpacking, atau packing2 lainnya.)

    Akhir pekan bisa saja terasa lama jika seorang pejalan melihat sekitar, sebaliknya satu tahun mungkin akan terasa cuma lima menit jika kita cuma pindah-pindah tempat menginap.

    Bagaimanapun, bertualang adalah previlege; tidak semua orang punya kesempatan untuk berkelana, untuk mengenal negeranya sendiri dan dunia. Setidaknya, kita bisa coba untuk menghargai perjalanan itu sendiri.

    Reply
  17. Rendy Cipta Muliawan

    Pak, saya cuma bisa 4 hari di Thailand. Dan ada hal menarik yang membuat kedangkalan saya menjadi berubah. Sudut pandang dan memahami suatu keunikan yang tidak ada di negara saya sendiri membuat saya lebih menghormati dan salut terhadap apa yang ada disini.
    Memang, saya memperhatikan masih banyak juga kedangkalan yang memandang sebelah mata hingga mengkucilkan keunikan tersebut, padahal mereka berasal dari negara yang sama seperti saya.
    Mereka menyebutnya “Manusia Setengah Dewa”, tapi mereka berhati dewa.

    Salam hangat,
    Reeree~

    Reply
  18. adal bonai

    tulisan ini yg lg hot d grup, saya menghargai pemikiran mas pitor tentang slow trepel atau tmn2 yg lain tentang konsep perjalanan. tp mengukur “Bukan demi kedangkalan-kedangkalan kita hari ini” kayaknya asik dibahas.
    setiap org bebas menentukan konsep, cara atau apapun apalah itu di dalam perjalanannya. asal tdk merugikan org lain dan menjaga tmpt yg dikunjunginya.
    saya mau berpikir dangkal dulu ah…
    1. beberapa kali saya bertemu artis2 sosmed di perjalanan, melihat wajah mereka aja udah kyak org mau masuk rumah sakit tp saya liat postingannya d sosmed berasa kayak di surga.
    2. ada org terkenal teriak2 lantang d tipi dan sosmed tentang “Nasionalisme”, ketika mereka berkunjung k daerah memuji-muji keindahan alam dan poto2 dgn warga lokal tp menutup mata dgn keadaan sosial masyarakat setempat. “Kita adalah sodara”, sodara dari hongkong.

    saya bisa saja menjudge perjalanan saya paling benar, tapi saya sadar akan dinamika kehidupan. warna warni kisah yg ditorehkan oleh tmn2 pejalan, yang membentuk pelangi2 perjalanan.
    asiiiiiik… jgn dihapus komen saya mimin cakeeeeep…. kecup kangen dari kawasan damai, Poso.

    Reply
  19. teman jalan

    Menurut saya penulis cerdas, dengan adanya kata2 “dangkal” tulisan tersebut menjadi naik sehingga menjadi pengundang bagi sebagian pembaca untuk berkomentar..
    Hmm.. banyak cara yang dilakukan calon seleb untuk menarik simpatik maupun citra tinggal bagaimana langkah yang dipilihnya.

    Salam pejalan

    Reply
  20. evi

    Membaca slow travel ini saya ingat pada Paul Salopek yang sedang berjalan kaki menyusuri nenek moyang kita yang keluar dari Africa. Memang dengan berjalan lambat lebih banyak yang kita dapat. membuat pandang kita lebih jernih. Berjalan lambat memungkinkan kita berpikir lebih dalam. Tak ada debaran jantung yang tak perlu gara-gara diuber waktu…

    Reply
  21. prajna

    terkesan konsep slow travel malah menciptakan personality yg judgemental haha..yg lebih konyol kalau diam diam mas -nya pelan pelan bertransformasi menjadi checklist travel ahahaha..

    Reply
  22. Pretentious tourist

    Emangnya seslow apa biar ngga dijudge dangkal? Travel di satu kota aja selama sebulan? Nanti tetep juga dikatain dangkal oleh yang travel di kota itu selama enam bulan. Udah enam bulan, masih bisa dikatain dangkal oleh expat yang hidup di sana selama empat tahun LOL.

    Reply
  23. Pretentious tourist

    Traveling bukannya sifatnya personal ya? Kok bisa men-judge apa yang terjadi di BATIN, di BENAK orang hanya dari gaya travelnya? Jadi, yang banal dan dangkal sebenernya sapa nih :D

    Reply
  24. M.T Basudewa

    Waaah, tulisannya bagus Mas hehe.

    Kalau menurut saya, slow travel di sini bukan dari berapa lama /waktu melakukan perjalanan.
    Tapi sampai titik mana, kalian bisa mendalami dan menyelam ke makna perjalanan kita sendiri. :travel

    Terus terang, saya belum bisa melakukan Slow Travel, karena terbentur dengan jadwal libur yg terbatas…

    Ditunggu karya tulis lainnya Mas! :shakehand2

    Reply
  25. Kang Gatot Kaca

    Baca tread ini

    Menarik,,, penulis tanpa basa-basi dengan bahasanya menuangkang buah pikiran kedalam tulisan yang menarik (mungkin tidak semua orang bisa). Saya terhanyut membaca isi tulisannya, seakan ingin kembali menilai perjalanan yang sudah dilalui…

    Terlepas dari kontraversinya. menurut saya biarkan mas Pitor berkreasi dengan tulisan-tulisanya.
    Apabila tidak setuju kita tingalkan dan baca yang lain (Ya, kita memang berbeda).
    Mungkin ada juga yang setuju dengan isi tulisannya (dan menanti tulisannya yang lain).

    Merenung…
    berkaca pada cermin …
    Melihat sekeliling …
    kemana arah Perjalanan Kita ???

    Reply

Leave a Reply