Sketsa Catatan Sang Pengendara

0

Fifan Wisdawantoro mengabadikan momen perjalanannya dengan cara tidak biasa—membuat sketsa. Dengan apik ia mengisahkan petualangannya mengendarai motor selama tujuh hari melintasi Jawa, Bali, dan Lombok.

Aku tak berhenti menganga ketika menonton The Motorcycle Diaries, kisah perjalanan panjang Che Guevara melintasi Amerika Selatan mengendarai motor bersama seorang kawan untuk merayakan ulang tahun sang teman. Namun petualangan itulah yang pada akhirnya mengubah pandangan hidup Che. Seketika itu pula aku langsung berniat mengikuti jejaknya.

Akhirnya kesempatan itu tiba. Jika tokoh revolusioner itu menjelajah Amerika Selatan, aku dan seorang sahabat memilih untuk menjelajah sebagian saja dari Nusantara. Hal lain yang membuat perjalanan kami berbeda adalah motor yang digunakan. Che dengan motor gede, kami hanya menumpang bebek.

“Tidak akan kusia-siakan waktu yang singkat ini,” pikirku ketika itu. Karena hanya punya waktu satu minggu, kami menetapkan tujuan yang realistis: Bali dan Lombok. Flores, tanah yang semula menjadi tujuan, bisa menyusul.

Perjalanan dimulai dari Jogja tercinta, kota di mana kami tinggal dan menuntut ilmu. Terus ke Timur kami meluncur. Sepanjang jalan, kenangan kami abadikan melalui gambar sketsa secara live, secara jujur dan apa adanya. Barangkali ada yang bilang sketsa adalah bentuk purba media pengabadian kenangan. Tapi, bagaimanapun, itulah yang akan kamu lihat di sini. Jika para pujangga mengatakan puisi itu lebih dari sekadar kata-kata, bagiku sketsa lebih dari sekadar gambar—ada unforgettable moment di baliknya.

Hari ke-1

Jam sudah menunjukkan pukul 23.00. Jalanan telah lengang, mata kami pun mulai mengantuk. Traffic light memerah. Kami berhenti, menunggunya hijau dalam selimut malam Caruban. Belum sempat lampu menjadi hijau, temanku menyuruh mendongak ke atas dan…

Gusti!!!

motorcycle_diary_01

Burung-burung berjejer rapi memenuhi kabel listrik dan gedung di sekitar kami. Sebentar kemudian mulai terdengar kepakan sayap, lalu beberapa di antara mereka menyeruak ke angkasa. Sungguh pemandangan yang membuat mata mustahil terpejam. Segera kami parkir sepeda motor di sebelah gedung dan beraksi.

Hari ke-2

Perut yang selalu terguncang adalah konsekuensi yang kami terima ketika bepergian menggunakan motor. Itulah barangkali yang membuat kami selalu lapar sehingga hampir selalu mampir di setiap alun-alun kota yang kami lewati. Tak terkecuali di Kabupaten Probolinggo. Sayang sekali kami tidak menemukan makanan khas daerah ini. Akhirnya yang masuk ke perut adalah es dawet dan sega Bali.

motorcycle_diary_02

Livin’ it up at the Hotel Merah Putih. Such a lovely place, such a lovely….

Hotel merah putih adalah nama lain yang diberikan temanku kepada SPBU Pertamina. Kami mesti berterimakasih kepada perusahaan ini. Karena fasilitas yang disediakannya kami bisa beristirahat, melepas kantuk sejenak, membersihkan diri, bahkan bermalam for free!

motorcycle_diary_03

Hari ke-3

motorcycle_diary_05Taru menyan (pohon harum) adalah penyebab fenomena unik di desa ini. Mayat yang diletakkan di dekat pohon ini menjadi tidak tercium aromanya. Konon, dahulu kala aroma taru menyan sampai ke tanah Jawa.

Tulang belulang jenazah warga Desa Trunyan dikumpulkan. Tengkorak dan tulang pahanya ditaruh berjejer di undakan ini. Beberapa di antaranya kehijauan, ditumbuhi lumut, terlihat begitu natural.

Tidak semua warga Trunyan yang meninggal bisa diprosesi seperti ini. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, di antaranya tidak boleh meninggal dalam keadaan tidak wajar—bunuh diri, kecelakaan, dan lain sebagainya.

Hari menjelang gelap. Kamilah pengunjung terakhir Pemakaman Trunyan hari ini. Kami disarankan agar datang lebih awal lain kali apabila ingin “gambar-menggambar” di sana. Kami kembali ke desa dengan menggunakan perahu tanpa mesin yang hanya dikayuh manual dengan dayung.

Kata Pak Wayan, sang nakhoda kapal, malam ini ada acara rapat desa akhir bulan. Ia menawari kami untuk menginap di desa untuk melihat jalannya rapat. Di samping itu, jalan pulang begitu curam sehingga akan sangat berbahaya jika dilewati malam hari. Namun keterbatasan waktu membuat kami menolak tawaran beliau.

motorcycle_diary_04motorcycle_diary_06

Hari ke-4

Hari ini kami bangun pagi sebab sudah bertekad untuk mengunjungi sebuah tempat di Ceking, lokasi yang ketika kami lewati kemarin sore begitu padat dikunjungi wisatawan mancanegara. Tempat itu adalah sawah. Ya, sawah yang sering kulihat di bagian belakang kartu pos. Ada yang mengatakan Miss Universe entah tahun berapa pernah syuting di sini untuk iklan produk minuman vitamin C—entah benar entah tidak.

motorcycle_diary_07

Tidak seperti sore kemarin, pagi ini masih lengang—kurasa kami berdualah pengunjung pertama hari ini. Kupandang keindahan ini dari atas; teras-teras sawah yang meliuk, hijau, kuning, coklat tanah. Melihatnya dari atas, perasaanku menjadi damai. Kuharap keindahan ini tetap terjaga selama-lamanya, bukannya malah berubah jadi tumpukan beton.

Menjelang siang kami melanjutkan perjalanan ke Monkey Forest, Ubud. Tempat ini unik karena di tengah padatnya pertokoan, penginapan, dan restoran masih disisakan hutan yang di dalamnya terdapat populasi kera sebagai penghuni utamanya.

motorcycle_diary_08

Bukannya memerhatikan atraksi utama—kawanan kera—aku malah lebih memilih menggambar anjing liar berkalung yang sedang termangu di depan pintu masuk. Kalung itu adalah tanda bahwa seekor anjing sudah disuntik rabies. Mungkinkah ia adalah Hachiko yang sedang menunggu tuannya?

motorcycle_diary_09

Ibu penjual pisang itu berusaha membujuk setiap wisatawan mancanegara (wisman) untuk memberi makan pada kera-kera. Dengan pisang yang dijualnya tentu. Ia mengingatkan kami tidak melepaskan mata dari peralatan gambar yang kami buka. “Jangan sampai diambil oleh kera-kera usil yang ada di sini,” katanya. Hal ini pula yang membuatku mengurungkan niat untuk menggambar apapun ketika berada di Monkey Forest.

Lombok adalah tujuan kami berikutnya. Dari atas dek ferry menuju Lombok, saya lukis pemandangan Padang Bay. Dek paling atas merupakan tempat paling tepat untuk menikmati suasana. Para wisman tampaknya berpendapat sama sebab banyak dari mereka yang memilih duduk di sana.

motorcycle_diary_010

Sementara itu dek bawah penuh perempuan pedagang asongan yang berusaha menjual macam-macam—kopi, rokok, nasi, dsb. Beberapa dari mereka menawarkan dagangannya dengan sedikit memaksa, dengan raut memelas. Sungguh berat perjuangan hidup. Bukannya mendapat untung, tak jarang mereka malah digoda oleh lelaki hidung belang.

Hari ke-5

Kami ke Gili Trawangan. Setelah sepuluh tahun tak kukunjungi, pulau ini masih jelita tanpa keberadaan kendaraan bermotor. Begitu banyak pejalan mancanegara, sementara yang lokal bisa kuhitung dengan jari.

motorcycle_diary_011

Mengayuh sepeda, kami berkeliling pulau. Namun tak lama ada yang menarik perhatianku; atap bangunan villa berbentuk seperti mahkota raja dengan material yang terbuat dari jerami.

Hamparan pasir putih di pinggir pantai Gili Trawangan merupakan tempat sempurna untuk berjemur. Bule sepertinya sangat menikmati kegiatan ini sebab mereka rela menghabiskan berjam-jam di bawah terik matahari.

motorcycle_diary_012

Di pantai Timur Trawangan, ada sebuah bangunan untuk menampung tukik (anak penyu) sebelum dilepas ke samudera. “Do you like strangers touching you?” Pertanyaan retorikal itu ditempel di tembok bangunan.

motorcycle_diary_013

Hari ke-6

Sebelum kembali ke Jawa, kami mengelilingi Kota Tua Ampenan. Konon Ampenan merupakan kota pelabuhan lama, yang sebelum Pelabuhan Lembar dibangun adalah pelabuhan utama sekaligus gerbang Barat Pulau Lombok. Bangunan bergaya kolonial bertebaran di sini seperti halnya di Kota Lama Semarang. Kawasan itu kini tampak tidak terawat. Bangunan-bangunannya kumuh, temboknya kelabu oleh debu. Selain itu beberapa bangunan tua juga direnovasi secara asal-asalan, menghasilkan bangunan berarsitektur-entah-apa yang tampak tak punya urusan di Kota Tua.

motorcycle_diary_014

Saatnya pulang. Kami menyeberangi Selat Bali. Karena pertimbangan tidak ingin melakukan perjalanan malam hari di hutan yang akan kami lewati di Jawa Timur nanti, kami memilih menghabiskan malam di Pulau Bali. Tercetuslah ide “spending a night in Kuta.”

motorcycle_diary_015Kuta tidak kehilangan daya tariknya meskipun telah dua kali dibom. Sampailah kami di Ground Zero, monumen peringatan insiden tersebut.

Meski semula ragu untuk masuk ke salah satu kafe paling terkenal di dunia itu karena penampilan kami yang janggal—pakaian gunung plus dua ransel besar plus wajah yang kucel karena kecapaian dan belum mandi seharian—ternyata melangkah ke kafe itu mempertemukanku dengan kawan lama semasa SMA yang kini menjadi captain di sana.

Band lokal melantunkan lagu-lagu populer dari mulai Reggae-nya Bob Marley sampai Britpop-nya Oasis. Sebagian pengunjung bergoyang. Sepertinya pengunjung kafe ini didominasi oleh kalangan mapan, terlihat dari penampilan dan pakaian yang mereka kenakan. Lihat saja wanita bule itu, yang sedang bercumbu rayu dengan pria lokal berpenampilan eksotis di antara hingar-bingar musik dan temaram lampu.

Saat yang tepat untuk menggoreskan kenangan. Kurogoh isi tas, kuperiksa kantong celana cargo hanya untuk menemukan bahwa buku sketsaku hilang! Yang tersisa hanyalah sepotong kertas. Kuabaikan dahulu perasaan risauku, kuabadikan dulu momen ini di atas potongan kertas itu.

 

motorcycle_diary_16

Sesudah menyelesaikan sketsa kasarku di bawah kelap-kelip lampu, aku bersikeras untuk tetap mencari hartaku. Sendirian kupacu motorku ke Ground Zero. Beberapa remaja yang kutanyai di sana mengatakan benda yang kumaksud dibawa oleh pecalang (polisi adat Bali) yang sedang patroli.

Tiga kali kususuri jalanan yang tadi kami lewati sebelum aku memutuskan untuk melapor ke kantor pecalang. Akhirnya setelah 20 menit diinterogasi mereka memutuskan bahwa aku dan barang yang kucari tidak membahayakan, pecalang yang tadi patroli datang dan mengembalikan “harta karun kami”.

Hari ke-7

Hujan mulai turun. Rintik-rintik membasahi jaketku. Letih yang terakumulasi mulai menghinggapi kami berdua, mungkin motorku juga merasakan hal yang sama. Hutan Jati Jawa Timur kami lewati saja dengan Yellow Fever, motor bebek kepunyaanku. Sampai puncaknya, Yellow Fever mulai berjalan terseok-seok. Ketika menuruni tanjakan di hutan Besuki, bannya gembos. Kira-kira dua kilometer kami berjalan sampai bertemu seorang pencari kayu bakar yang muncul dari dalam hutan. Ia menawari temanku untuk ikut dengan motornya dan mengarahkan kami ke tukang tambal ban. Itulah salah satu hal baik yang kami temukan dalam perjalanan ini: that love is everywhere!

motorcycle_diary_017

Urusan ban beres, kami kembali melaju. Di Paiton kami berhenti sepuluh menit hanya untuk membuat sketsa Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Paiton. Pipa-pipanya yang panjang dan asap yang keluar darinya membuatku begitu tertarik untuk mengabadikannya dalam warna.

motorcycle_diary_018

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

[+] kaskus emoticons nartzco