Senyum Tulus Masyarakat Flores

2

Kenapa Flores? Pertanyaan pertama yang muncul saat menghadiri konferensi Pengembangan Ekowisata Berbasis Masyarakat di Flores, yang dilaksanakan di Hotel Akmani Jakarta, 28 Januari 2016. “Flores itu punya potensi, next after Bali,” sebut Ary Suhandi, Executive Director dari Indonesia Ecotourism Network (INDECON).

Next after Bali itulah yang memberikan INDECON stimuli untuk membuat program INFEST (Innovative Indigenous Flores Ecotourism for Sustainable Trade). Program yang garis besarnya adalah meningkatkan perkembangan pariwisata di setiap daerah di Flores yang berpotensi untuk pengembangan pariwisata yang berkelanjutan.

Apa yang kita tahu dari Flores? Pulau Komodo, ya. Labuan Bajo, ya. Danau Kelimutu, ya. Hanya tiga itu saja yang familiar terdengar di masyarakat luas. Padahal, dari ujung Labuan Bajo hingga ujung Larantuka, seluas lebih 14.000 km2, terbentang luas pemandangan indah nan asri yang dapat dinikmati dan dihargai lebih dalam.

Pulau Rinca_Rendy

Mari mulai dari lokasi terdekat dari Labuan Bajo. Liang Ndara dan Tado di kawasan Manggarai Barat, yang memiliki keunikan alam dan budaya seperti Lingko –sawah yang berbentuk sarang laba-laba– dan tarian tradisional dari masyarakat Manggarai yaitu Caci. Ke arah utara sedikit bisa kita temui Cunca Wulang, Cunca artinya air terjun, pasti sudah mengira apa yang khas di daerah ini. Turun lagi sedikit ke selatan kita bisa menjumpai desa tradisional yang mulai dikenal dunia yaitu Wae Rebo.

Jalan lagi ke arah tengah Pulau Flores, kita bisa mampir untuk menyapa masyarakat Kabupaten Ngada, khususnya Jerebu’u. Salah satu kota yang cukup terkenal yaitu Ende, singkat cerita dari Taufik Rahzen, salah satu wartawan senior yang berbicara di salah satu diskusi panel acara ini, Flores adalah tempat cikal bakal Pancasila yang dirumuskan oleh Soekarno ketika dalam masa pengasingan di Ende pada tahun 1934-1938.

Jadi, apa yang dilakukan sebenarnya? Tentunya pengembangan community based tourism, implementasi yang dilakukan oleh masyarakat lokal termasuk entitas bisnis lokal, yang tujuannya mempromosikan sustainable tourism sebagai tujuan dari sustainable trade di Flores. Salah satu proses nyata yang dilakukan adalah mendirikan lembaga pengembangan pariwisata di setiap daerah.

DCIM100GOPROG0011795.

Sisi positifnya adalah masyarakat di tiap daerah di Flores berperan langsung untuk menumbuhkan dan mengembangkan jasa wisata bagi wisatawan nusantara maupun wisatawan mancanegara, sehingga pemasukan dari hasil pariwisata bisa langsung dinikmati oleh masyarakat setempat sekaligus pula masyarakat bisa menjaga keunikan budaya mereka.

Hasil riilnya tentu peningkatan jumlah wisatawan (nusantara dan mancanegara) hingga 200% di masing-masing wilayah. Hal yang perlu digaris bawahi adalah dalam membangun pariwisata sebetulnya bukan membangun wisatawannya, tetapi membangun masyarakat setempat yang lebih penting.

Tapi, tentu tetap saja ada halang rintang yang mesti dilalui oleh masyarakat setempat dalam pengembangan pariwisata di tanah kelahirannya. Salah satunya adalah Infrastruktur! beberapa yang krusial adalah listrik yang belum memadai, jalan utama rusak, hingga ketersedian air bersih untuk diminum. Tentu ini PR bagi pemerintah ya?

Lalu timbul pertanyaan “Apakah nilai budaya dan keasrian alam dapat terus terjaga dengan berkembangnya potensi pariwisata yang mengundang wisatawan dengan kuantitas yang besar?”

Taufik Rahzen mencoba menjawab dengan satu kata kuat yaitu resistance, bahwa masyarakat Flores memiliki daya tahan yang kuat sehingga tidak akan menjadi masalah jika masyarakat Flores bersentuhan dengan dunia luar.

Pink Beach_Arief

Daya tahan ini bisa tercipta karena masyarakat sangat memegang teguh nilai luhur dan tidak pelit untuk mengajarkannya kepada wisatawan yang datang.

Sekali lagi pertanyaan yang muncul, kenapa Flores? Ary Suhandi bilang “orang Flores suka menerima tamu, mereka sangat suka senyum, senyuman tulus.”

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

[+] kaskus emoticons nartzco