Sehari bersama Semarjawi

1

Taksi yang saya tumpangi berhenti tepat di depan Taman Srigunting, di mana sebuah bis merah yang sudah sarat penumpang terparkir dengan manisnya—Semarjawi. Udara panas sedang melanda kota Semarang saat itu. Jejeran pohon di sekitar taman pun tampaknya belum cukup mampu untuk membantu meredam panas yang merajalela.

Minggu pagi yang terik namun ceria itu saya isi dengan berwisata keliling Kota Lama menggunakan bis Semarjawi bersama teman-teman peserta workshop Travel N Blog 3. Saya pun mempercepat langkah untuk melakukan pendaftaran ulang sebelum bergegas meloncat ke dalam bis itu.

Kota Lama Semarang sudah tidak asing lagi bagi saya sebab ini adalah kali ketiga saya menginjakkan kaki di sana. Meskipun begitu, rasa-rasanya saya tidak akan pernah bosan untuk menjelajahinya. Kini Kota Lama telah menjadi salah satu destinasi wisata unggulan di Semarang. Namun tahukah kamu bahwa kawasan ini menyimpan banyak sekali cerita dari masa lalu?

Cerita itu bermula dari sebuah kesepakatan yang terjalin antara VOC dan Kerajaan Mataram pada tahun 1677 yang dikenal sebagai Perjanjian Jepara. Buntut dari perjanjian tersebut adalah Mataram mesti rela melepaskan Semarang kepada VOC. Seterusnya, dari sebuah benteng kecil yang didirikan di muara Sungai Semarang, Kota Lama pesat berkembang. Ketika itu, VOC menguasasi perdagangan, dengan beras dan kayu sebagai komoditi utamanya.

Peranan kota ini menjadi semakin penting ketika VOC memindahkan pusat pemerintahan pesisir Timur-Laut Jawa dari Jepara ke Semarang pada 1708. VOC pun memperluas area benteng dengan menambahkan 5 bastion (bagian benteng yang menjorok ke luar, biasanya dilengkapi meriam untuk pertahanan–ed.) Lambat laun, Semarang menjadi pilihan tempat menetap masyarakat Eropa setelah Batavia, banyak permukiman yang akhirnya dibangun di luar benteng.

Keragaman cerita di balik gedung-gedung tua memang selalu manarik untuk disimak. Apalagi jika peninggalan peradaban masa lalu itu disawang dari atas moda transportasi unik seperti bis Semarjawi. Bis Semarjawi, fasilitas pariwisata terbaru Kota Semarang, adalah sebuah bis bertingkat dua berwarna dominan merah. Pada bagian bawah bis terdapat ruangan tertutup untuk pengemudinya, juga dua buah kursi untuk penumpang. Sementara sisa ruangan dalam bis dibiarkan terbuka. Rute yang ditempuhnya adalah sepanjang Kawasan Kota Lama Semarang sampai dengan Tugu Pemuda. Bis Semarjawi beroperasi pada hari Selasa, Kamis, Jumat serta akhir pekan. Semua info yang dibutuhkan bisa dilihat di www.semarjawi.com. Selain itu, kali itu kami juga ditemani oleh dua orang pemandu yang tak henti bercerita mengenai obyek-obyek yang kami lewati.

sehari_bersama_semarjawi_02

Perjalanan dimulai dari Taman Srigunting yang terletak persis di depan Gereja Blenduk, sebuah bangunan berwarna putih dengan atap seperti kubah, tiga menara kecil, dan pilar-pilar besar pada bagian depan. Gedung yang kita lihat sekarang ini telah berkali-kali mengalami restorasi. Konon empat puluh tahun sebelum Gereja Blenduk berdiri, sebuah gereja Protestan yang memiliki arsitektur rumah tradisional Jawa pernah berdiri di lokasi yang sama. Entah apa alasannya, pada 1793 sebuah gereja baru didirikan dengan bentuk ruangan segi delapan, yang memiliki sebuah kubah dan tiga pintu masuk. Gereja kembali mengalami perubahan besar pada 1893 dengan penambahan dua menara berarsitektur Barok, juga sebuah gerbang. Pimpinan proyek perubahan ini adalah H.P.A. de Wilde dan W. Westmaas. Renovasi juga sempat dilakukan kembali pada 2002 dan 2003. Beberapa peninggalan abad ke-18 yang masih bisa dinikmati adalah lantai tegel, mebel kayu, kaca patri, lampu-lampu gantung, dan sebuah orgel yang ditempatkan pada bagian balkon gereja.

Berhadapan dengan gereja, sebuah bangunan dengan ornamen bergaya Art-Deco berdiri dengan megahnya. Bagi saya gedung ini bisa dijadikan contoh reused heritage yang baik. Berdiri pada tahun 1916, gedung itu semula berfungsi sebagai Kantor Nederlandsch-Indische Levensverzekering- en Lijfrente-Maatschappij (NILLMIJ), perusahaan asuransi pertama di Hindia-Belanda yang di kemudian hari dinasionalisasi menjadi Asuransi Jiwasraya. Keistimewaan gedung ini terletak pada sebuah elevator yang dikontrol secara manual dengan tangan dan masih berfungsi dengan sangat baik sampai sekarang. Terbayang kan bagaimana antiknya lift tersebut?

Tepat jam 9 pagi, bis Semarjawi mulai meluncur membelah jalanan Kota Lama Semarang. Pada sebelah kiri jalan kita bisa melihat Restoran Ikan Bakar Cianjur. Bentuk bangunan restoran ini mengingatkan saya pada Toko Merah di Kawasan Kota Tua Jakarta. Bangunan itu bergaya Indisch, dengan langit-langit tinggi untuk menyesuaikan dengan iklim tropis. Jendela-jendela geser besar pada muka bangunan dengan detil hiasan pada bagian atas jendela menambah kecantikan gedung ini. Menurut informasi yang saya dapat dari pemandu, gedung ini sebetulnya merupakan kediaman resmi pendeta yang bertugas memberikan pelayanan di Gereja Blenduk. Pada periode selanjutnya bangunan ini diambil-alih oleh pemerintah Hindia-Belanda untuk dijadikan sebagai kantor pengadilan khusus bangsa Eropa. Namun gedung yang berdiri sejak 1780 ini pernah mengalami kekosongan hampir selama dua abad sebelum akhirnya direstorasi dan dijadikan sebagai restoran sejak 2007. Ini, bagi saya, adalah salah satu contoh usaha pelestarian heritage yang sangat baik.

Bis Semarjawi terus melaju. Kali ini kami melewati Jembatan Berok yang memiliki dua lajur kendaraan. Jembatan aslinya terbuat dari kayu. Tapi, walaupun sudah mengalami perubahan dan kini terbuat dari beton, ia tidak kehilangan ciri khas. Lampu-lampu bergaya Art-Deco yang ditambahkan pada tahun 1937 menambah keunikan jembatan ini.

Jembatan ini cukup istimewa karena aslinya merupakan gerbang menuju benteng VOC. Sayangnya tidak lagi tampak sisa-sisa bangunan benteng yang dimaksud. Melihat jembatan yang melintas di atas sungai, saya seperti melihat Jembatan Kota Intan di Jakarta. Imajinasi membawa saya membayangkan kapal layar kecil hilir mudik untuk menurunkan barang-barang di tepian sungai. Dermaga-dermaga kecil dibangun untuk mempermudah proses bongkar muat tersebut. Pinggiran sungai menjadi lokasi favorit untuk mendirikan gudang. Kali Semarang saat ini barangkali sudah mengalami perubahan drastis seiring dengan pendangkalan dasar sungai yang terus berlangsung, serta zaman yang terus berganti. Tetapi kita masih bisa melihat sisa-sisa kejayaan sungai ini melalui bangunan tua yang masih berdiri kokoh memagarinya.

Tak lama setelah melintasi jembatan, bis berhenti di depan Kantor Pos Johar. Bangunan itu berwarna putih dengan garis horizontal oranye pada bagian atas yang menjadi ciri khas setiap kantor pos di Indonesia. Dua kotak surat kuno masih berdiri pada bagian depan. Masing-masing di sebelah kiri dan kanan pintu gerbang. Saya membayangkan bagaimana dahulu orang-orang datang dan memasukkan surat ke sana; bagaimana senangnya si penerima menyambut Pak Pos yang mengantarkan surat yang dinantikan; atau bagaimana sibuknya kantor pos melayani pelanggan. Kemajuan pembangunan dan teknologi ternyata membawa banyak perubahan dalam hidup. Pada masa-masa awal pemerintahan VOC di Indonesia, dibutuhkan waktu 40 hari untuk mengirimkan surat dari Jawa Barat ke Jawa Timur. Waktu tersebut terpangkas menjadi enam hari saja ketika Jalan Raya Pos – Jalan yang dibangun H.W. Daendels dari Anyer ke Panarukan – selesai dibangun. Kami berhenti cukup lama di sana untuk mengambil foto.

sehari_bersama_semarjawi_03

Bis kembali melaju melewati Jl. Imam Bonjol. Tak jauh dari kantor pos terdapat sebuah tugu kecil sebagai penanda titik nol kilometer Semarang. Sayang sekali, tugu yang begitu kecil itu agak sulit diamati dari atas bis. Lepas dari Jl. Imam Bonjol, bis melaju menuju Stasiun Tawang melewati Jl. Mpu Tantular, Jl. Pemuda, dan entah jalan apa lagi – saking banyaknya jalan, saya sampai lupa. Ada banyak belokan, ada banyak nama jalan, begitu juga dengan pemandangan. Saya tidak dapat mengingatnya satu persatu.

Sesekali saya membidikkan kamera ke arah bangunan-bangunan tua.

Mengelilingi sebuah kota berarti melihat bagaimana kota itu berkembang. Ada sisi di mana pelestarian bangunan diutamakan tetapi ada sisi lain yang berubah. Apabila di Jakarta kita mengenal Societeit de Harmonie sebagai lokasi berkumpulnya para pembesar Batavia, Semarang juga punya tempat serupa dengan nama yang sama. Bedanya, jika Societeit de Harmonie yang berada di Jakarta kini sudah menjadi area parkir Sekretariat Negara, maka yang di Semarang sudah berubah menjadi Mall Paragon. Saya sempat berusaha mengabadikan bangunan pusat perbelanjaan itu, namun agak sulit mengambil foto ketika bis sedang berjalan.

Bangunan lain yang juga mengalami perubahan adalah Gedung Schowburg yang berlokasi di Comediestraat (sekarang Jl. Cenderawasih.) Jika di Jakarta Gedung Schouwburg masih terjaga dengan baik dan berfungsi sebagai gedung kesenian, sebaliknya di Semarang gedung ini tinggal reruntuhannya saja. Bis sempat berhenti tepat di depan reruntuhan gedung ini. Saya melihat sebuah pintu masuk yang terbuat dari kayu. Hanya itu saja yang bisa disaksikan sebab kawasan itu sudah ditutupi oleh semak belukar dan dedaunan.

Menurut penuturan pemandu wisata, Margaretha Geertruida “Margreet” Zelle MacLeod pernah menampilkan tarian erotisnya di Gedung Schouwburg. Margreet adalah seorang penari bernama panggung Mata Hari yang sekaligus juga bekerja sebagai mata-mata Jerman dengan kode H21, yang kemudian diduga menjadi agen-rahasia ganda Jerman dan Prancis. Gedung Schouwburg memang telah hancur, namun pemerintah kemudian membangun kembali semacam replika di samping gedung aslinya. Beberapa bagian dari gedung asli ikut dipindahkan seperti plafon kayu yang menggantung di langit-langit ruangan penonton. Kini gedung hasil rekonstruksi tersebut dikenal dengan sebutan Gedung Marabunta.

Perjalanan kami mendekati akhir ketika bis berbelok menuju Taman Srigunting. Saya segera mengemasi ransel dan turun dari bis. Kami sempat mengabadikan momen, berfoto bersama seluruh peserta. Sebenarnya kami diberi waktu bebas selama satu jam untuk menjelajahi kawasan sekitar Taman Srigunting. Namun panas yang menyengat siang itu membuat saya memutuskan untuk langsung menuju lokasi Travel N Blog selanjutnya. Menjelajahi kota Semarang menumpang Semarjawi adalah pengalaman yang menyenangkan – melihat bagaimana sebuah kota dibangun; belajar sejarah Semarang dari bangunan-bangunan tua nan cantik; hingga mendengar berbagai cerita dari pemandu. Saya merasa kaya dengan pengetahuan baru, meskipun durasi tur tidaklah lama. Berwisata dengan menggunakan Semarjawi bisa jadi pilihan yang tepat dan menyenangkan bagi para penggemar sejarah atau pejalan yang memiliki waktu luang terbatas.

 

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

[+] kaskus emoticons nartzco