Rumput Laut Desa Tablolong yang Mendunia

1

Tak ada yang tahu di balik keindahan Pantai Tablolong yang berjarak sekitar tiga puluh kilometer dari Kupang tersembunyi budidaya rumput laut kualitas ekspor. Desa Tablolong namanya, terletak di kecamatan Kupang Barat, Nusa Tenggara Timur.

Setelah delapan belas jam melakukan perjalanan laut dengan KM Awu, saat mentari hampir terbangun di timur aku tiba di Pelabuhan Bolok, Ende. Kelelahan tidak membuatku menolak ajakan Inda untuk mengunjungi Pantai Tablolong bersama Pras, temannya Inda, dan Ayank, adiknya Inda.

Siapa sangka persahabatan bisa cepat terjalin dalam perjalanan. Inda, perempuan baik hati yang belum pernah kutemui sebelumnya ini menjadi selayaknya keluarga selama di sini. Dua hari sebelum beranjak ke Kupang, aku sempat tinggal di rumah Encim Tuteh, Ketua Flobamora Community. Beliau yang kebetulan sedang chat dengan Inda mengabarinya rencanaku. Sesudah bertukar nomor ponsel ia bersikeras untuk menjemputku di pelabuhan walau sudah aku jelaskan akan tiba larut malam.

Pemandangan lanskap alam sepanjang perjalanan sungguh menghibur mata. Sesekali kami berpapasan dengan anak-anak SD yang berangkat sekolah, aku sapa mereka dengan lambaian tangan dari jendela mobil, mereka pun membalas dengan senyum dan lambaian tangan antusias.

Santigi (Pempis acidula) seringkali terlihat dalam perjalanan mencapai pantai tujuan kami. Tanaman perdu ini sulit ditemui lagi di pantai-pantai di Jawa karena habis diburu, sedihnya perburuan sudah sampai di sini. Menurut Inda, populasi tanaman ini sudah sangat berkurang dari beberapa tahun lalu. Memang tanaman perdu pantai asli Indonesia ini banyak diminati untuk dijadikan tanaman bonsai karena karakter cabang yang indah serta mempunyai kesan tua. Namun, tanpa kesadaran untuk mempertahankan tanaman tersebut di habitat aslinya maka tidak lama lagi mungkin anak cucu kita tidak akan bisa menemukannya lagi di alam bebas.

Pantai Pasir Putih Tablolong

Akhirnya, kami tiba di Pantai Tablolong yang berpasir putih dan airnya sebening kristal, dipercantik langit biru cerah dengan sedikit awan. Memang keunggulan berlibur di weekday adalah tidak banyak pejalan yang memadati tempat wisata. Seperti kali ini, Pantai Tablolong terasa jadi milik pribadi.

Tadi saat akan memarkirk mobil, aku melihat tumpukan rumput laut dan orang-orang yang sedang merapikannya. Inda bisa menangkap rasa penasaranku. “Selain pantainya yang indah, Tamblolong ini merupakan sentra budidaya rumput laut,” terangnya ketika masih di dalam mobil.

Setuntas berkemas kami menuju sisi pantai yang lain, di tempat warga sedang memanen rumput laut. Kami berkenalan dengan Pak Frans, Mama Lusi, dan Odi anak mereka, ketika mereka sedang menjemur rumput laut yang baru saja dipanen. Buatku, melihat dan mendengar saja tidak cukup, kita harus mengalami untuk benar-benar mengerti, maka aku memohon untuk boleh belajar sekaligus membantu mama bolak-balik mengangkat rumput laut untuk kemudian ikut larut dalam proses penjemurannya.

Tidak biasa bekerja keras dan matahari yang terik membakar membuatku cepat kelelahan. Aku mohon diri untuk beristirahat sejenak. Mama Lusi melihat keadaanku segera cepat tanggap. Ia membawakan air minum untuk kami berempat.

Sambil duduk-duduk untuk beristirahat dan berteduh Pak Frans banyak bercerita tentang usaha rumput lautnya. Siapa sangka hasil dari pertanian di desa ini sudah menembus pasar di Eropa, Amerika dan Jepang.

Pak Frans

Rumput laut yang banyak dibudidayakan oleh masyarakat lokal di Nusa Tenggara Timur adalah Eucheuma cotonii (Kappaphycus alvarezii.) “Jenis ini banyak dibudidayakan karena teknologinya mudah, harga relatif murah serta metode pasca panen tidak terlalu sulit,” ungkap Pak Frans yang sudah makan asam garam dalam budidaya rumput laut ini. Ia melanjutkan: “Selain sebagai bahan industri rumput laut jenis ini juga dapat diolah menjadi bahan makanan yang dapat dikonsumsi secara langsung baik dalam keadaan mentah ataupun dimasak sebagai sayur.”

Pak Frans semakin antusias menanggapi rasa penasaran saya tentang bagaimana cara membudidayakan tanaman yang awalnya saya kira hanya bisa jadi agar-agar ini. Langkah pertama adalah rumput laut dengan berat awal seratus gram diikat dengan tali rafia untuk selanjutnya diikat pada tali nilon sebagai tali utama. Panjang tali utama adalah enam puluh meter yang terbagi menjadi lima tali terdiri masing-masing dua belas meter, jarak antar bibit empat puluh centimeter. Jarak antara tali adalah satu meter, jumlah bibit yang ditebar pada masing-masing tali tiga puluh rumpun atau ikat. Kedua ujung tali utama diikat masing-masing dengan seutas tali yang dihubungkan dengan pemberat. Dibiarkan selama dua bulan atau delapan minggu.

“Tidak hanya ditanam dan ditunggu selama itu tetapi juga dilakukan pengawasan satu sampai dua hari sekali,” jelasnya ringkas.

Proses panen juga tidak sederhana. Pak Frans baru akan memanen setelah berat rumput laut meningkat empat kali dari berat awal atau setelah masa tanam satu setengah sampai dua bulan. “Cepat atau tidaknya panen tergantung metode dan perawatan yang dilakukan setelah bibit ditanam,” ungkapnya lugas.

Selepas proses panen maka rumput laut akan menjalani proses pengawetan. Rumput laut dimasukan ke dalam keranjang dan dibawa ke pinggir menggunakan sampan. Kemudian dijemur sampai kering di para-para yang terbuat dari bambu. Untuk mendapat rumput laut yang berkualitas tinggi dibutuhkan penjemuran selama tiga hari, keluarnya garam adalah tanda rumput laut sudah kering.

Setelah kering rumput laut akan menyusut sepuluh kali lipatnya, sementara warna rumput laut akan berubah dari hijau menjadi coklat karena serapan sinar matahari mengurangi pigmen warna. Selain itu pengeringan juga mengurangi resiko pembusukan akibat bakteri dan jamur sehingga menghasilkan kualitas rumput laut yang memiliki mutu tinggi untuk dapat diekspor ke luar negeri. Pemasaran tidak lagi menjadi masalah karena petani rumput laut di Desa Tablolong sudah memiliki pelanggan tetap dari berbagai Negara.

anak-anak Nelayan Pantai Tablolong

Sang surya mulai sedikit condong ke barat, terpaksa dan berat hati aku akhiri “kelas” budidaya rumput laut dari Pak Frans dan keluarga. Andai saja penerbangan pulang ke Surabaya bukan sore harinya, sudah aku perpanjang waktu kunjungan ke desa ini.

Usaha budidaya rumput laut terus terngiang-ngiang dalam perjalanan pulang menuju Kupang. Andai saja pengelolaan rumput laut bisa lebih diperhatikan oleh pemerintah dan pihak-pihak terkait tentu lebih bisa membawa kemakmuran untuk masyarakat Tablalong. Namun perjuangan dan semangat mereka untuk bertahan dan menikmati hidup patut diacungi jempol.

 

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

[+] kaskus emoticons nartzco