Traveller Kaskus

Event

Pameran Foto “Living In Bali”

Syafiudin Vifick –Photo Editor travellerkaskus.com– mendapat kesempatan untuk menggelar 20 karya fotografi dalam Pameran Fotorafi Bali Klasik “LIVING IN BALI”. Bertempat di area Galeria Resto, pameran berlangsung selama 3 hari, yaitu pada tanggal 15 – 17 Mei 2015.

Pameran foto Living in Bali merupakan secuil gambaran tentang kehidupan sehari-hari di Bali. Mencoba menampilkan kembali imaji-imaji dari ‘museum hidup’ tentang keadiluhungan budaya Bali dalam konteks kekinian, yang barangkali kemurniannya belum berubah hingga hari ini. 20 karya foto hitam putih yang ditampilkan tersebut tidak bercerita tentang eksotisme Bali sebagai ‘pulau surga’ bentukan (warisan) dari kebijakan Baliseeing pemerintah Belanda pada masa itu, melainkan berupa pendokumentasian sebagian dari kebudayaan dan adat istiadat serta keseharian masyarakat Bali pada masa sekarang. Sebagaimana fungsinya sebagai media rekam, catatan-catatan visual fotografi yang dihasilkan di era sekarang tentunya akan menjadi cerita yang  menarik di masa yang akan datang, menjadi bagian penting dari sejarah Bali.

Poster_Living-in-Bali-3

 

 

“Photographing a culture in the here and now often means photographing the intersection of the present with the past.”  (Diane Arbus)

Sebagai ikon pariwisata Indonesia yang dikenal dengan ‘The island of God’, Bali memang mempunyai kebudayaan dan adat istiadat yang kuat. Ditengah gempuran globalisasi dan modernisasi, masyarakat Bali masih senantiasa mempertahankan budaya leluhur dalam kehidupan sehari-hari. Ditambah dengan pesona alamnya yang eksotis, pantas jika Bali selalu jadi idola wisatawan dari berbagai penjuru dunia.

Bermula pada awal abad ke-20, Pemerintah Belanda membuat kebijakan Baliseering yang bertujuan menjadikan Bali sebagai ‘museum hidup’, citraan atas keelokan alam, kemolekan penduduknya serta keadiluhungan budaya Bali. Para seniman barat kala itu berdatangan dan menciptakan beragam bentuk pendokumentasian visual tentang Bali, seperti lukisan, foto, postcard dan film. Melalui media-media representasi itulah citra tentang identitas dan tradisi budaya Bali diproduksi terus menerus. Sebut saja Walter Spies, Henri Cartier Bresson dan Ernt Hass. Karya-karya fotografi mereka telah berhasil membentuk imaji tentang Bali yang eksotis itu.

Kehadiran fotografi memiliki dimensi sejarah panjang dalam kebudayaan Bali dan perkembangan industri pariwisata Bali. Imaji-imaji itu tidak lain menggambarkan ‘pulau surga’ dengan kebudayaan yang murni, sebuah dunia mimpi yang bertolak belakang dengan Barat (Eropa) yang tengah dilanda bencana kemanusiaan akibat perang yang berkepanjangan saat itu. Manusia Bali dengan latar sosial dan kulturnya  adalah objek dari fotografi, objek yang tak punya kuasa pada representasi yang menghadirkan mereka. Telah terbukti, fotografi dan film adalah media yang ampuh dalam mengenalkan kebudayaan Bali di dunia internasional, hingga namanya tertanam begitu dalam sampai saat ini.

vifick_rumahkelimadotcom-51a

vifick_rumahkelimadotcom-17

vifick_rumahkelimadotcom-51

Share to social media :

Leave a Reply