Museum Taman Prasasti

2

Merasa sudah lama tidak mengitari Jakarta, akhir minggu kemarin saya mengajak beberapa orang teman untuk melakukannya kembali. Kali ini tujuan kami Museum Taman Prasasti. Jika ditanya kenapa pilihannya jatuh pada museum, jawabannya jelas karena kami senang sejarah, apalagi Museum Taman Prasasti baru saja mengalami revitalisasi sehingga kami penasaran akan perubahan yang terjadi. Ini juga semacam observasi kecil-kecilan. Jikalau suatu hari kami didaulat untuk memandu perjalanan wisata ke kawasan itu, kami sudah paham lokasinya.

Museum Taman Prasasti berada di Jl. Tanah Abang I, persis di samping Kantor Walikota Jakarta Barat. Tidak sulit untuk menemukan Museum ini. Rute yang paling mudah menuju ke sana menurut saya adalah melalui Museum Nasional, ada jalan kecil di samping bangunan itu yang mengarah ke Jl. Tanah Abang. Susuri saja jalan tersebut dan anda akan tiba di Museum Taman Prasasti.

Untuk masuk, pengunjung harus membeli tiket seharga Rp 5.000 untuk dewasa – mahasiswa Rp 3.000, pelajar/anak-anak Rp 2.000. Karena Museum Taman Prasasti ini merupakan museum dengan konsep outdoor yang tidak memiliki alur khusus – dan memiliki banyak sekali koleksi – jangan sungkan untuk meminta seorang petugas memandu anda.

Alkisah sebuah pemakaman yang diperuntukkan bagi orang-orang asing di Batavia dibangun pada 28 September 1795. Pembangunan Pemakaman ini diperlukan mengingat begitu banyaknya korban yang jatuh akibat wabah penyakit yang mendera Batavia. Kematian bagai virus yang bisa menyerang dengan cepat sementara lahan pemakaman yang terdapat di dalam tembok Batavia tidak lagi cukup untuk menampung jenazah. Sebidang tanah seluas 5,9 hektar di dekat Kali Krukut pun dipilih sebagai lokasi.

Lokasi yang berada di luar tembok kota Batavia ini dinilai sangat baik untuk dijadikan kawasan pemakaman. Di samping itu aliran Kali Krukut pun dimanfaatkan untuk membawa jenazah dan para pengiring dari pusat kota sebelum dilanjutkan dengan perjalanan menggunakan kereta kuda menuju pemakaman yang dinamakan Kebon Jahe Kober itu. Pemakaman ini pun kemudian menjadi rumah peristirahatan terakhir sejumlah tokoh, pejabat penting, pelaku sejarah, bahkan selebriti yang populer pada masa itu, sehingga menjadi sangat prestisius. Pemakaman Kebon Jahe Kober aktif beroperasi hingga tahun 1975. Atas kebijakan pemerintah, pemakaman ini pun beralih fungsi menjadi museum sejak tahun 1979 dengan terlebih dahulu dilakukan proses pengangkatan sisa relik antara 1975-1977.

Memasuki gerbang museum, kami disambut deretan nisan besar di dinding yang seolah langsung mengingatkan kami akan kematian. Nisan-nisan ini sebetulnya merupakan nisan yang dipindahkan dari pemakaman di belakang gereja (sekarang Museum Wayang) – kita bisa melihat tulisan HK di nisan tersebut yang berarti Holandsche Kerk (Gereja Belanda). Pemilik nisan-nisan ini dipercaya adalah para pejabat penting atau keluarga kaya raya, ini bisa kita lihat dari simbol-simbol terukir di nisan. Hampir setiap keluarga terpandang di Batavia memiliki lambang keluarga.

Museum Taman Prasasti

Selesai mengurus tiket, kami segera mulai menjelajahi museum. Hal pertama yang menarik perhatian adalah sebuah lonceng tua. Menurut penuturan penjaga yang sempat kami tanyai, lonceng tersebut berfungsi sebagi penanda bahwa ada jenazah yang akan dimakamkan pada hari itu, yang akan terus berdentang sampai jenazah tiba di pemakaman.

Penjelajahan hari itu membawa kami bertemu sejumlah tokoh, dimulai dari H.F. Roll, seorang pendiri dan direktur dari sekolah STOVIA yang kemudian hari menjadi cikal bakal Fakultas Kedokteran UI. Roll adalah orang yang menolong Soetomo (kelak dr. Soetomo – ed.) saat akan dikeluarkan dari STOVIA akibat mendirikan organisasi Budi Utomo, hingga Soetomo pun akhirnya bisa menyelesaikan pendidikannya di STOVIA.

Olivia Mariamne Raffles, istri dari sang gubernur jenderal berkebangsaan Inggris Thomas Stamford Raffles – pencetus pembangunan Kebun Raya Bogor, yang wafat di usia yang masih cukup muda yaitu 43 tahun juga dimakamkan di sini. Sebagai bukti kecintaannya terhadap sang istri, Raffles kemudian membangun tugu peringatan di Kebun Raya Bogor. Wasiat terakhir Olivia adalah agar dimakamkan di sebelah makam sahabatnya yang bernama John Casph Leyden. Sementara itu tidak ada hal istimewa dapat diceritakan tentang J.C. Leyden, selain bahwa ia adalah sosok sahabat yang sangat dekat dengan Olivia. Hal menarik justru datang dari seuntai puisi gubahan Sir Walter Scott (pengarang novel Ivanhoe – ed.) yang menghiasi makamnya.

Ada pula Andries Victor Michiels, seorang pejabat militer di Batavia yang telah melaksanakan misi ke berbagai daerah seperti Jawa Tengah, Cirebon, Sumatera Barat, dan Bali. Sayangnya Bali menjadi misi terakhirnya sebab ia wafat di tangan para prajurit Klungkung pada 25 Mei 1849. Sebagai penghormatan dibangun juga sebuah tugu di Waterloo Plein (sekarang Lapangan Banteng)

Di Museum Taman Prasasti ini, nisan Soe Hok Gie turut menjadi koleksi. Saya rasa hampir semua pejalan mengenal sosok yang satu ini. Seorang aktivis pergerakan mahasiswa yang sangat idealis pada periode 1967-1969, serta konsisten memperjuangkan nasib rakyat saat itu. Kecintaannya terhadap alam dan aktivitas pendakian gunung membuat ia mendirikan Mapala UI. Ia wafat sehari sebelum mencapai usia 27 dalam pendakian menuju Puncak Semeru karena menghisap gas beracun. Catatan harian Hok Gie telah dibukukan dan diberi judul Catatan Seorang Demonstran. Merujuk pada buku ini, sutradara kawakan Riri Riza pun telah membuat sebuah film: Gie.

Tak jauh dari nisan Soe Hok Gie kami menemukan makam seorang legenda teater di Batavia. Ia adalah Ibu Riboet yang lebih dikenal dengan nama Miss Tjitjih. Ia memiliki jadwal bermain teater secara teratur di Pasar Baru hingga tahun 1965.

Nisan berikutnya yang menarik perhatian kami adalah nisan berbentuk seperti candi khas Jawa. Ternyata itu adalah nisan dari Dr. J.L. Andries Brandes yang sangat mencintai kebudayaan Jawa. Ia adalah peneliti yang berhasil membuka kisah-kisah di balik kitab Pararaton hingga mengungkap naskah mengenai raja-raja Tumampel sampai Majapahit. Jadi, ya, tidak aneh jika bentuk makamnya menyerupai candi.

Museum Taman Prasasti

Makam berbentuk monumen yang kokoh di salah satu sudut museum juga menarik, bukan wujudnya namun kisah orang yang dimakamkan di sana. Adalah J.H.R. Kohler, seorang panglima tertinggi militer di Batavia berpangkat Mayor Jenderal. Kohler wafat dalam salah satu ekpedisi militernya di Aceh. Sebenarnya ia berencana melakukan serangan terhadap Keraton Aceh. Namun, sayang seribu sayang, lokasi yang ia pilih ternyata keliru. Alih-alih menyerang keraton, Masjid Besar Aceh yang diserang. Ternyata ia menganggap masjid itu sebagai keraton. Masyarakat Aceh tidak tinggal diam, mereka berusaha mempertahankan Masjid dengan gagah berani. Dalam pertempuran 14 April 1873 tersebut, Kohler pun menghembuskan napas terakhir dengan lubang bekas peluru menganga di dadanya.

Selain berbagai nisan, di museum ini kita juga dapat menjumpai dua peti mati bersejarah yang membawa jenazah kedua bapak proklamator Indonesia, Soekarno dan Hatta, menuju tempat peristirahatan mereka yang terakhir. Kereta kuda yang dahulu digunakan untuk membawa jenazah pun turut dipamerkan di museum ini.

Sebelum mengakhiri sesi, kami melihat sebuah prasasti berbahasa Belanda yang lebih kurang berbunyi: “Seperti andalah aku dahulu, seperti akulah anda kemudian.”

 

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

[+] kaskus emoticons nartzco