Traveller Kaskus

Cerita Pejalan / General

Merajut Kehidupan di Kepulauan Indonesia : Desa Teluk Alulu, Maratua

Maratua, menurut cerita rakyat asal-usul namanya berasal dari mitos romantis tragis. Alkisah, kala itu ada dua keluarga yang putra-putrinya saling jatuh cinta dan rencana nya akan melangsungkan pernikahan di pulau panjang. Kedua keluarga berkumpul dan bersiap untuk berlayar menuju pulau panjang, layar pun dinaikan dan kapal siap berlayar mengarungi lautan menuju pulau panjang. Ditengah perjalanan ombak besar mendera disertai angin ribut yang menyambar-nyambar layar kekiri dan kekanan sehingga membuat kapal terombang-ambing tak karuan. Pada akhirnya kapal mereka karam menabrak karang dan menenggelamkan seluruh anggota keluarga. Anak perawan yang akan menikah tenggelam dan berubah menjadi pulau derawan (perawan) dan calon mempelai laki-laki berubah menjadi pulau sangalaki (laki-laki). Tak ketinggalan sang kakak yang berubah menjadi pulau kakaban (kakak) serta calon mertua mempelai menjadi pulau maratua (mertua). Cerita atau mitos tersebut hanya konon kata nya, nyata nya kita tahu bahwa pulau-pulau tersebut terbentuk dari peristiwa geologis yang terjadi ribuan bahkan ratusan tahun lalu.

**

Photo: https://www.instagram.com/mhusniuuwn/

Masuk dalam gugusan kepulauan Derawan, Maratua merupakan pulau terdepan berpenghuni yang sebagaian besar masyarakatnya bermata pencaharian sebagai nelayan. Seiring mulai dikenal dunia sebagai pulau dengan pasir putih menggoda dan bawah laut nan ciamik tidak lupa warna biru turquoise yang menghias bulir-bulir ombak di sepanjang garis pantai pulau tersebut, masyarakat pulau maratua mulai merambah bisnis pariwisata sebagai tambahan penghasilan sebagai nelayan atau bahkan ada yang menjadi pelaku pariwisata secara professional, karena semakin maju nya sektor pariwisata dipulau tersebut ditandai dengan banyaknya resort berkelas bintang serta sarana penunjang seperti Bandar udara dan dermaga yang memadai untuk menampung banyak kapal.

**

Indah tak selamanya bahagia, mungkin kalimat itu cukup menggambarkan sebuah kehidupan pesisir pantai yang eksotis menurut banyak orang namun berbanding terbalik yang dirasakan masyarakat lokal dengan segala keterbatasannya. Di tengah hiruk-pikuk kegiatan pariwisata pulau maratua, ada sebuah desa yang sedang berjuang untuk kemandirian ekonomi. Dengan segala keterbatasannya desa ini mampu bertahan, desa ini adalah Desa Teluk Alulu yang berpenghuni sekitar 200 jiwa. Mayoritas penduduk Desa Teluk Alulu adalah suku bajo yang tidak diragukan lagi kemampuan melautnya dan menggantungkan hampir seluruh hidupnya dari hasil laut.

Photo: https://www.instagram.com/mhusniuuwn/

Desa nan indah dengan perairan tenang dan jernih ini belum terjamah oleh kegiatan pariwisata, masih alami sebagai kampung nelayan atau mungkin sebaiknya memang dibiarkan seperti apa ada nya tanpa pembangunan resort-resort dan sarana penunjang pariwisata lainnya untuk menjaga keseimbangan ekosistem pulau. Desa Teluk Alulu melimpah akan hasil laut dan buah kelapa, namun melimpah bukan berarti tidak ada masalah. Sumber masalah kehidupan di kepulauan selalu hampir sama di Indonesia, yaitu akses, energi dan air tawar. Ketiga masalah tersebut yang selalu saja menjadi hambatan pertumbuhan ekonomi masyarakat dikepulauan,  Desa Teluk Alulu pun tak luput dari hambatan-hambatan itu, walau hampir semua sudah teratasi mulai dari akses walau tak mudah tapi tetap bisa dijangkau, air tawar yang diandalkan adalah dari hasil tampungan air hujan lalu bagaimana jika musim kemarau tiba ?.

Energi salah satu hambatan yang pelik bagi Desa Teluk Alulu, hasil laut yang melimpah tidak serta merta membuat mereka hidup bahagia. Hasil tangkapan mereka mempunyai nilai ekonomis rendah dikarenakan mereka tidak bisa mengawetkannya, mereka harus jauh-jauh berlayar demi sebuah membeli es balok untuk mengawetkan ikan tangkapan mereka. Jika perhitungan ekonomisnya, hasil jerih payah melaut tidak seberapa dikarenakan hasil tangkapan mereka tidak bisa bertahan lama padahal mereka bisa melaut kurang lebih selama 1 minggu, belum ditambah harga es balok dan bahan bakar untuk membelinya.

Februari 2018, akan menjadi titik balik bagi Desa Teluk Alulu karena konsorsium Javlec Indonesia dan didukung penuh oleh MCA Indonesia sedang membangun PLTS. PLTS yang dibangun akan selesai pada februari 2018, tujuan energi nya untuk pengolahan pabrik es balok yang dipuruntukan masyarakat Desa Teluk Alulu dan sekitar nya sehingga mereka tak perlu repot lagi jauh-jauh untuk membeli es balok. Dengan ada nya pengolahan es balok ini masyarakat Desa Teluk Alulu selain bisa memanfaatkan es balok untuk mengawetkan tangkapannya, juga bisa menjual es balok ini kepada nelayan sekitaran kepulauan derawan. Kenapa PLTS ini energinya hanya untuk keperluan pengelolaan es balok, karena Desa Teluk Alulu sudah mempunyai 2 buah PLTS yang mampu memasok seluruh kebutuhan sehari-hari energy namun belum mencukupi untuk pengelolaan es balok, konsorsium javlec membangun PLTS ini bertujuan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat yang bersumber dari hasil laut.

Tidak jauh dari pembangunan PLTS, ada rumah produksi minyak kelapa yang dikelola oleh wanita Desa Teluk Alulu yang di prakarsai oleh javlec Indonesia. Daerah kepulauan hampir pasti mempunyai potensi kelapa yang cukup besar, sama hal nya dengan Desa Teluk Alulu. Hampir disetiap sudut ditumbuhi dengan pohon kelapa. Setali tiga uang dengan hasil laut nya yang melimpah namun sayang potensinya belum bisa dimaksimalkan. Konsorsium Javlec didukung penuh MCA Indonesia mengembangkan proyek usaha ramah lingkungan berbasis potensi lokal di kawasan timur Kabupaten Berau, membantu masyarakat Desa Teluk Alulu membangun industri rumahan minyak kelapa yang harapannya akan mampu meningkatkan kemandirian perokonomian masyarakat.

Selama ini pengelolaan minyak kelapa dilakukan masyarakat secara individual dengan peralatan manual yang memang penggunaannya untuk keperluan pribadi dengan ada nya rumah produksi minyak kelapa ini warga sudah bisa memeras dengan mesin yang tentu hasilnya lebih maksimal. Selain diberi pelatihan penggunaan mesin pengolahan minyak kelapa, masyarakat juga diberi keterampilan dalam hal pengemasan dan pemasaran minyak kelapa tersebut. Pengolahan 100 kelapa bisa dilakukan dalam sehari dan hasil minyak kelapa dijual ke kabupaten berau dengan harga 30 ribu/liter, hasil produksi minyak kelapa Desa Teluk Alulu sudah terpampang di toko retail kota berau. Semoga dengan peran serta banyak pihak dan melibatkan masyarakat lokal, segala daya upaya untuk meningkatkan pertumbuhan masyarakat pesisir (kepulauan) bisa membantu meningkatkan taraf hidup yang lebih baik karena sudah seharusnya mereka hidup layak.

**

Berjalanlah lebih lambat, melihat sekitar, bercengkrama dengan masyarakat lokal, mempelajari kearifan lokal yang mampu menginspirasi nilai-nilai budaya. Karena berjalan lebih lambat seyogianya merawat nalar, SLOW TRAVEL.

Share to social media :

Leave a Reply