Menjadi Relawan di UWRF 2014

7

Pernahkah kamu membayangkan bagaimana sensasi duduk, mengobrol, dan berdiskusi bersama ribuan pecinta sastra; bagaimana rasanya ketika keinginanmu terwujud untuk sekadar bersalaman dan bertukar sapa dengan penulis favoritmu yang berasal dari negeri jauh; atau bagaimana takjubnya mendengarkan langsung suara orang yang biasanya hanya kau baca narasinya di lembaran-lembaran kertas?

Tahun lalu saya berkesempatan merasakan kedua hal tersebut. Adalah sebuah festival bernama Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) yang membukakan pintu bagi saya untuk mengalaminya. UWRF, yang dulunya bernama Ubud Writers Festival (UWF), merupakan festival tahunan tempat para penulis dan pembaca bercengkerama membicarakan sastra dan isu-isu terkini, yang diadakan di sebuah kota beratmosfir seni sangat tebal: Ubud, Bali. Biasanya diselenggarakan awal Oktober.

Oleh karena festival ini berskala internasional, harga tiket masuknya pun lumayan menguras kantung, meskipun untuk partisipan lokal panitia memberikan harga yang jauh lebih terjangkau. Pada UWRF 2014, untuk mengikuti semua rangkaian acara utama (main event) – untuk special event pengunjung mesti mengeluarkan biaya tambahan – pengunjung dalam negeri diharuskan untuk membayar Rp 600.000 untuk empat hari. Selain acara utama berupa diskusi panel, juga ada pentas seni – Pecha Kucha Night, poetry slam, nonton bareng, pentas musik, pesta pembukaan dan penutupan – dan berbagai macam workshop.

Namun tidak perlu khawatir sebab selain membayar ada alternatif lain untuk dapat ambil bagian dalam festival itu: menjadi relawan alias volunteer. Kebetulan tahun kemarin saya berkesempatan untuk bekerja menjadi relawan.

Beberapa bulan sebelum pelaksanaan acara, panitia akan mengumumkan open recruitment relawan via laman resmi festival. Seorang calon relawan diperbolehkan memilih tiga di antara banyak posisi yang ditawarkan, dari mulai ticketing, media center, documenting (sebagai fotografer), graphic designer, LO di green room (tempat para penulis bersiap menunggu giliran tampil), sampai sebagai relawan di special event. Total, ada belasan bidang yang dapat dipilih.

Pada tahap pertama saya hanya perlu mengisi formulir daring yang disediakan – biodata, alamat serta nomor kontak, bidang yang dipilih, pengalaman-pengalaman, dan tak lupa motivation letter singkat yang menunjukkan komitmen menjadi relawan.

Saya menanti sekitar sebulan sebelum panitia mengirimkan kabar baik via e-mail yang menyatakan bahwa saya diterima sebagai relawan untuk ditempatkan di National Media Center. Selain saya ada sekitar 200 orang lain, dari dalam dan luar negeri, yang ikut berpartisipasi sebagai relawan.

 

"Pernahkah kamu membayangkan bagaimana sensasi duduk, mengobrol, dan berdiskusi bersama ribuan pecinta sastra?" doc. @vifickbolang
“Pernahkah kamu membayangkan bagaimana sensasi duduk, mengobrol, dan berdiskusi bersama ribuan pecinta sastra?” doc. @vifickbolang

Pengalaman sekali seumur hidup

Sehari sebelum festival dimulai, saya tiba di Ubud. Dengan jantung berdebar seperti menjelang pertama kali bertemu kawan-kawan Kuliah Kerja Nyata (KKN), saya berjalan kaki ke Left Bank – sekretariat festival 2014 – untuk mengikuti pembekalan.

Saya tiba di lokasi beberapa menit sebelum acara dimulai, dalam keadaan basah kuyup diguyur keringat sebab jalanan Ubud lumayan berundulasi. Ketika masuk mata saya bersitatap dengan banyak mata lain yang sebagian besar memiliki wajah bukan pribumi. Ternyata sebagian besar relawan berasal dari luar negeri, hanya sebagian dari mereka yang bermuka lokal. Saya merasa seperti berada dalam sebuah kantor perusahaan multinasional. Tapi yang membuat saya terkagum-kagum adalah relawan UWRF berasal dari segala rentang usia, dari mulai remaja sampai lansia.

Setelah sambutan dan pengarahan umum – disampaikan dalam bahasa Inggris – semua relawan berkumpul bersama supervisor masing-masing untuk diberikan instruksi lebih mendalam. Saya dan kawan-kawan sesama relawan National Media Center diajak ke Indus yang terletak di samping Left Bank, ke kantor kami selama empat-lima hari ke depan.

Sebagai relawan di Media Center, tugas saya adalah menyambut para wartawan dan membantu proses registrasi mereka. Selain itu saya juga mesti membantu wartawan yang ingin melakukan wawancara dengan penulis-penulis yang mereka inginkan.

Menyenangkan sekali berada di Media Center. Salah satu pengalaman paling berkesan bagi saya terjadi pada hari kedua. Ketika itu saya baru saja kembali dari sebuah diskusi – yang panelisnya saya sudah lupa. Di depan meja registrasi, kawan-kawan relawan sedang menyambut seorang wartawan senior; tua, bertopi, dan memakai rompi. Wartawan itu tampak ramah sekali. Dengan sabar ia menunggu registrasi sembari mengajak kawan-kawan relawan mengobrol.

"Selain acara utama berupa diskusi panel, juga ada pentas seni." doc. @vifickbolang
“Selain acara utama berupa diskusi panel, juga ada pentas seni.” doc. @vifickbolang

Mengobati penasaran, saya melayangkan pandang ke name tag yang sudah tergantung di lehernya. Nama belakang: Katoppo. Sambil memicingkan mata sebab tulisan itu begitu kecil, saya bergerak ke nama depan: Aristides. Aristides Katoppo!

Saya berhadap-hadapan dengan kawan Soe Hok Gie; salah satu pendiri Sinar Harapan yang sempat di-breidel Orde Baru; anggota kehormatan Mapala UI; alumnus pendakian naas ketika Hok Gie meninggal di Semeru. Takjub sejenak, saya raih tangannya untuk bersalaman – tangan yang pernah bersentuhan langsung dengan Hok Gie si penyendiri.

Selama UWRF, bertemu tokoh ternama ketika sedang berjalan di trotoar bukanlah kejadian langka. Sekali waktu saya berpapasan dengan Bondan Winarno yang tampak kebingungan mencari sebuah tempat. Berbekal name tag relawan, secara kasual ia saya sapa dan salami. Kami berbicang sebentar, dan saya memberikan informasi yang ia butuhkan.

Di lain waktu, secara tidak sengaja, saya terlibat dalam perbincangan hangat dengan Frieda Amran – seorang wartawan senior pengarang buku Batavia, sekarang menetap di Belanda. Semula saya tidak menyangka bahwa ia adalah pengarang yang bukunya sudah saya baca. Ketika berkenalan, barulah saya paham. Dan ia sama terkejutnya dengan saya.

Buku gratis dari petualang gila

UWRF 2014 kemarin dihadiri oleh seorang petualang gila asal Australia bernama Tim Cope. Di usianya yang ketika itu 25 – sekarang 35 – ia memulai perjalanan panjang selama tiga setengah tahun dari Mongolia sampai Hungaria.

Ia menempuhnya tidak secara biasa melainkan dengan menunggang kuda. Mimpinya ialah merasakan kehidupan para nomad Asia Tengah sekaligus melakukan perjalanan napak tilas invasi imperium Mongol, yang dibangun oleh Genghis Khan, dari padang rumput Asia Tengah yang sunyi sampai Eropa Timur yang beradab. Dalam perjalanan Cope tidur di yurt, tenda, rumah penduduk, atau bangunan terbengkalai apapun yang dapat mengenyahkan udara dingin dan melindunginya dari terpaan hujan dan angin.

Via youtube, saya pernah menonton National Geographic Live! edisi presentasi perjalanan berkuda Tim Cope.

Di UWRF ia mengisi sebuah diskusi panel bertajuk Ethics, People, Place bersama dua petualang lain – Colin Thubron dari Inggris, legenda hidup dengan karya-karya bertema Asia Tengah; Carl Hoffman dari AS, yang menelusuri jejak Michael Rockefeller, putra mantan gubernur New York yang hilang dalam sebuah ekspedisi ke pedalaman Papua.

doc. @vifickbolang
doc. @vifickbolang

Sekitar satu jam mereka berdiskusi dipandu seorang moderator. Masing-masing bercerita tentang pengalaman dan berbagi tentang gagasan, semua yang mereka peroleh dari perjalanan-perjalanan yang telah mereka lakukan. Saya mendapat banyak pencerahan di sana.

Begini misalnya: bagi Colin Thubron, perjalanan bukanlah sesuatu yang dilakukan demi kesenangan melainkan untuk memahami. “You are traveling not for pleasure, you travel for understanding,” begitu ungkapnya ketika ditanya moderator tentang makna perjalanan.

Kita, manusia, memulai perjalanan dengan praduga. Lalu pada akhirnya kita akan menyadari – dalam perjalanan – bahwa kita telah membuat kesalahan, dan pada saatnya kemudian akan menemukan cara untuk memperbaikinya.

Thubron yang disebut-sebut sebagai salah satu dari 50 penulis berpengaruh Inggris pasca-perang dunia II itu juga mengungkapkan satu-dua hal menyoal penulisan perjalanan. Baginya travel writing tidak sama dengan pelajaran yang diberikan guru di sekolah – melulu mengenai definisi, geografi, demografi, dan sejenisnya – melainkan untuk mengatakan bahwa: “aku di sana pada suatu ketika.” Ia akan menceritakan apapun, meskipun memalukan, selama itu nyata.

There’s no story too disgraceful to tell,” ungkap Thubron.

Seusai diskusi adalah waktunya untuk penandatanganan buku. Saya menghampiri Tim Cope yang sedang berbicang dengan entah siapa, lalu menyodorkan jurnal saya untuk ditandatangani. Ia membawa jurnal merah kumal itu ke meja, mendandatanganinya, lalu bertanya, “Have you read my book?

No. I haven’t, Tim,” saya menggeleng. “But I’ve watched your documentary.

Ia membuka memoar perjalanan berkudanya, menandatanganinya, lalu tanpa ragu memberikannya pada saya. Saya terkejut sampai hampir lupa mengucap terimakasih. Saya salami dia, lalu berbalik arah untuk kembali ke National Media Center. Sambil berjalan keluar Neka, galeri tempat temuwicara itu dilaksanakan, saya buka buku On The Trail of Genghis Khan yang tebal itu dan menemukan sebuah kutipan darinya: “If you must rush… rush slowly.”

 

7 COMMENTS

  1. Setuju dengan perjalanan adalah untuk memahami.
    Dan pada akhirnya bukan tentang benar atau salah, tapi mungkin sepakat atau tidak sepakat. Mungkin.
    Mari lanjutkan perjalanan kawan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

[+] kaskus emoticons nartzco