Menikmati masakan Papua di Jakarta

0

Saya punya harapan dan mimpi suatu hari nanti ingin menginjakan kaki di Papua. Ingin menikmati wisata alamnya, belajar budayanya dan mencicipi masakannya.

Ibarat pepatah pucuk dicinta ulam pun tiba. Tak disangka-sangka seorang teman mengajak di sebuah grup whatsapp untuk datang ke Belanga Indonesia untuk icip-icip kuliner Papua walau bukan di Papua tapi di Jakarta. “Wow!” teriak saya.

Mungkin ini salah satu cara tuhan untuk membiasakan dan mengenalkan terlebih dahulu dengan cita rasa masakan Papua. Menurut saya ini dapat membangun ikatan emosional terlebih dahulu. Katanya bagi orang yang tak punya ikatan emosional yang kuat akan berpikir berkali-kali untuk datang ke Papua. Begitu kata seseorang yang hadir di acara ini.

Papoea Kemang sebuah restoran yang terletak di Jalan Kemang Raya, No. 72. Gedung Sentra 72, Bangka, Jakarta Selatan adalah tujuan saya. Saya tiba ketika jarum jam menunjukan pukul 09.50, terlalu dini sebetulnya dari waktu yang telah ditentukan. Sambil menunggu saya menikmati sudut demi sudut. Kesan yang saya dapat, restoran ini sangat menggoda. Berbagai ornamen khas Papua dapat ditemukan di sana. Selain itu, pengelola juga meletakkan berbagai buku mengenai pulau di ujung timur Indonesia tersebut. Menambah suasana khas Papua semakin kental.

Icip bareng belanga ini adalah acara bulanan dari Belanga Indonesia, sebuah media komunitas yang membahas kuliner Indonesia. Mereka tidak hanya membahas resep tapi juga food science, ulasan dan kebudayaan yang berhubungan dengan makanan dan minuman yang ada di Indonesia. Belanga Indonesia ini mempunyai semangat keinginan merawat keberagaman Indonesia melalu kuliner.

Setelah sesi perkenalan dan sharing, perlahan satu persatu masakan dan makanan dari Papua dihidangkan di atas meja masing-masing peserta. Kebetulan masakan yang dihidangkan di acara icip bareng ini adalah makanan Papua yang sering ditemukan di pesisir pantai. Mulai dari papeda goreng, papeda kukus, papeda bakar, pisang noken, pisang gari roa, pisang cartenz dan secangkir kopi wamena arabica sudah tersaji di atas meja kami. Demi kebutuhan konten makanan yang sudah tersaji itu tidak langsung saya icip, tapi terlebih dahulu difoto walaupun tahu perut sudah susah diajak bekerja sama.

Makanan yang pertama saya cicipi adalah papeda goreng, cita rasanya hampir sama seperti cireng. Lalu mencicipi pisang gari roa, adalah pisang goreng yang dimakan dengan sambal roa. Tak terasa semua makanan yang disajikan lenyap seketika, bukan hanya karena lapar tapi karena saya juga menyukai makanannya.

Setelah sesi icip makanan pembuka, kami masuk ke sesi demo masak cara pembuatan papeda kuah kuning. Selama sesi demo masak ini konsetrasi pikiran saya terpecah dengan pertanyaan “Kapan ini masakan papeda kuah kuningnya selesai dimasak dan bisa disantap bareng?”. Papeda ini merupakan masakan yang berasal dari olahan pohon sagu. Pohon sagu yang sudah berumur antara 3 – 5 tahun ditebang lalu diambil sari patinya, kemudian diolah menjadi tepung sagu. Nah, tepung sagu yang telah diolah ini lah yang menjadi bahan pokok pembuatan papeda tersebut. Akhirnya setelah menanti tidak terlalu lama masakan papeda kuah kuningnya selesai juga dimasak.

Buat saya, pengalaman pertama kali icip papeda yang dicampur dengan kuah kuning ini sulit dibayangkan, unik. Memakan papeda kuah kuning ini ada tekhniknya tersendiri, memakannya menggunakan sepasang sumpit atau disebut gata-gata, yang kemudian digulung hingga berbentuk bulat lalu dilepaskan dan diletakan di atas piring atau mangkok. Papeda yang sudah berada didalam piring tersebut disiram dengan ikan kuah kuning. Masakan dan cita rasa dari papeda kuah kuning yang sangat asing buat mulut saya ini justru lezat, dan unik.

Sebenarnya cita rasa papeda itu sendiri hambar, kenyal dan lengket, tapi rasa gurihnya itu didapat dari ikan kuah kuning ini. Selain gurih, kuah kuning ini juga segar saat kita menyeruput kuahnya. Setelah selesai menyantap papeda kuah kuning para pramusaji PAPOEA KEMANG masuk membawakan makanan lagi. “Wah makanan apalagi nih yang sekarang bakal dihidangkan?” tanyaku penasaran. Yak, makanan yang tersaji saat ini adalah Nasi Bakar ikan asar. Ikan asar adalah ikan yang diasapi dari malam sampai pagi. Ini adalah salah satu cara warga Papua untuk mengawetkan ikan yang sudah mereka tangkap di pagi harinya. Makanya ikan asar sering disebut ikan dari pagi sampai pagi lagi. Dan acara #ICIPBARENGBELANGAPAPOEAKEMANG ini ditutup dengan makanan penutup yaitu kue lontar.

Siang itu saya pulang dengan perasaan kekenyangan dan tersenyum bahagia. Sekali lagi terimakasih Belanga Indonesia dan Papoea Kemang atas kesempatannya untuk mencicipi makanan khas pesisir pantai Papua.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

[+] kaskus emoticons nartzco

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.