Mengunjungi Rumah Maeda

4

Tepat tanggal 16 Agustus 1945, kesibukan disertai ketegangan menggema ke tiap sudut sebuah rumah megah di kawasan Menteng. Tujuh puluh tahun kemudian, saat saya melangkahkan kaki memasuki halamannya, rumah Laksamana Muda Maeda itu—yang sekarang sudah berubah menjadi Museum Perumusan Naskah Proklamasi—masih menampakkan pesonanya, meski sudah tak ada lagi aktivitas berarti yang dilakukan di sini. Sepi, halaman rumah ini nyaris kosong, hanya diramaikan oleh beberapa petugas yang sedang berjaga di pos. Sebuah tiang tanpa bendera tegak berdiri di tengah halaman.

Saya tak dapat menahan diri untuk tidak memencet rana kamera untuk mengabadikan sisi luar bangunan. Rumah bergaya kolonial ini terdiri dari dua lantai. Dindingnya didominasi oleh warna putih dan dihiasi oleh jendela-jendela tinggi besar. Di lantai dua, menjorok ke luar sebuah balkon dengan susuran berwarna kuning. Ketika sedang sibuk melayangkan pandang mencari keberadaan loket tiket, saya diseret masuk ke dalam rumah oleh seorang teman. Rupanya loket tiket ada di dalam.

travellerkaskus Mengunjungi Rumah Maeda (1)

Setelah membeli lima lembar tiket kami disambut oleh seorang pemandu yang segera mengajak ke ruang audio-visual. Letaknya agak di belakang, berupa sebuah ruangan ber-AC, tidak terlalu besar namun nyaman dan dilengkapi oleh kursi-kursi memanjang berwarna merah yang dirapatkan ke dinding. Ada pula sebuah layar untuk menayangkan film pendek mengenai museum. Lampu lantas padam dan film pun tayang. Film berdurasi singkat namun kaya informasi itu menceritakan fragmen-fragmen sejarah yang pernah terjadi di rumah itu, lengkap dengan foto dan montase video.

Film selesai, kami pun dipersilakan menjelajah museum. Mengelilingi museum ini dapat dilakukan tanpa bantuan pemandu sebab pada dasarnya semua informasi yang dibutuhkan untuk memahami museum sudah disajikan dalam tayangan di ruang audio-visual.

travellerkaskus Mengunjungi Rumah Maeda (2)

Sementara lantai satu terdiri dari ruangan tempat peristiwa-peristiwa sejarah penting terjadi, lantai dua dahulunya merupakan areal pribadi Laksamana Muda Maeda. Kami memulai tur dari lantai satu, ke sebuah ruangan yang ketika Jepang berkuasa berfungsi sebagai ruang tamu sekaligus ruang kerja Maeda. Sebuah meja bundar kecil dengan tutup kaca dan empat kursi berwarna coklat bergeming di tengah ruangan. Saya penasaran percakapan macam apa yang terjadi di sana pada malam ketika naskah proklamasi dirumuskan?

Menjelang pukul 10 malam tanggal 16 Agustus 1945, rombongan Soekarno-Hatta tiba di kediaman Maeda setelah sebelumnya diamankan golongan muda di Rengasdengklok. Diantar oleh Maeda, rombongan selanjutnya bergerak ke kantor Gunseikan (Kepala Pemerintahan Militer Jepang di Hindia Belanda) untuk menemui Jenderal Moichiro Yamamoto yang saat itu menjabat sebagai Gunseikan. Sayangnya sang jendral enggan menemui rombongan. Namun informasi yang diberikan oleh kepala Departemen Urusan Umum Pemerintahan Militer Jepang sudah cukup menjelaskan keadaan yang sebenarnya. Kalah perang membuat Jepang harus mempertahankan status quo sehingga tidak mungkin memberikan kemerdekaan kepada Indonesia.

travellerkaskus Mengunjungi Rumah Maeda (5)

Kembali ke ruang tamu kediaman Maeda, rombongan pun mengutarakan kekecewaan mereka dan berharap agar Jepang tidak menghalangi usaha Indonesia untuk merdeka. Maeda menyilakan rombongan untuk menggunakan rumahnya sebagai tempat rapat persiapan proklamasi. Ia juga menjamin keamanan mereka yang berada di rumah itu. Maeda lantas mengundurkan diri ke lantai dua.

Ruangan kedua adalah ruang makan di mana proses penyusunan naskah proklamasi dilakukan. Bung Karno, Bung Hatta, dan Mr. Ahmad Soebardjo bertukar pikiran mengenai konsep naskah di ruangan ini sementara Soekarni, B.M. Diah, Sudiro, Sayuti Melik, serta para pemuda lainnya menunggu dengan sabar di ruangan lain. Di ruangan itu terdapat sebuah meja kayu panjang berbentuk oval. Sepuluh kursi mengelilingi. Saya seperti sedang meneropong ke masa lalu ketika melihat patung ketiga founding fathers perumus naskah proklamasi itu di salah satu ujung meja.

travellerkaskus Mengunjungi Rumah Maeda (3)

Bung Karno duduk di kursi paling ujung memakai kemeja putih dan peci. Bung Hatta duduk di bangku sebelah kiri mengenakan jas dan kaca mata sedangkan Mr. Soebardjo di seberangnya. Saya merinding memikirkan bahwa 70 tahun lalu yang berada di sana bukanlah benda mati, namun manusia yang hidup dan nyata, yang berdiskusi atau mungkin berdebat serius tentang masa depan Indonesia. Pasti akan keren sekali seandainya di museum ini ada semacam live historical role-play perumusan naskah proklamasi.

Sudah pukul 3 dini hari ketika Bung Karno mulai menulis naskah pada secarik kertas. Mr. Soebardjo mengusulkan kalimat pertama: “Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan kami.” Usul tersebut terinspirasi dari kalimat terakhir Piagam Jakarta yang telah dirumuskan oleh BPUPKI pada 22 Juni 1945 yaitu “… maka rakyat Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaannya.” Selanjutnya muncul ide mengenai adanya pernyataan penyerahan kekuasaan ke tangan Indonesia sehingga menjadi seperti naskah yang kita ketahui sekarang.

travellerkaskus Mengunjungi Rumah Maeda (4)

Kami lalu beranjak ke ruangan berikutnya, ruangan kecil berisi sebuah meja dengan mesin tik di atasnya, dan dua patung ukuran satu banding satu. Ruangan sempit inilah yang menjadi tempat Sayuti Melik mengetik naskah proklamasi menggunakan mesin tik milik Mayor (Laut) Dr. Hermann Kandeler yang diambil dari kantor perwakilan Angkatan Laut Jerman.

Mengenai proses pengetikan naskah proklamasi, pemandu kami mengisahkan sebuah cerita yang menarik. Malam itu, Sayuti Melik menyalin naskah sambil mengoreksi beberapa kesalahan penulisan. Setelah diketik, kertas berisi tulisan tangan Bung Karno itu diremas lalu dibuang oleh sang juru ketik ke keranjang sampah. B.M. Diah, wartawan yang saat itu mendampingi Sayuti Melik, segera memungut dan menyimpan kertas tersebut. Baru 46 tahun 9 bulan 19 hari kemudian, tepatnya 29 Mei 1992, B.M. Diah menyerahkan kembali naskah tersebut kepada negara, yang diterima oleh Presiden Soeharto. Coba bayangkan jika saat itu Diah tidak memungut naskah asli proklamasi itu, barangkali saat ini Indonesia tidak punya arsipnya.

travellerkaskus Mengunjungi Rumah Maeda (9)

Ruangan terakhir yang kami kunjungi di lantai satu adalah sebuah ruang tanpa sekat yang berada di bagian depan, berdekatan dengan loket. Di sana hanya ada sebuah meja kayu panjang, kursi, dan panel-panel berisi reproduksi benda-benda bersejarah, seperti naskah proklamasi berukuran raksasa dan foto-foto tokoh yang hadir malam itu di Rumah Maeda. (Dari 29 tokoh yang hadir malam itu, hanya 26 tokoh saja yang ada fotonya. Dan saya merasa ditampar sebab hanya dapat mengenali segelintir tokoh.) Panel-panel di dinding itu dikelilingi oleh pagar logam untuk melindunginya dari tangan-tangan tak bertanggung jawab.

Konon ketegangan muncul di ruangan ini pada pukul 4 pagi keesokan harinya. Seusai membacakan hasil diskusi perumusan naskah proklamasi, Bung Karno lalu bertanya mengenai siapa yang akan menandatangani naskah tersebut. Bung Hatta mengusulkan agar semua yang hadirlah yang menandatangani naskah tersebut. Beberapa tokoh tidak sependapat dengan usul itu. Khaerul Saleh, sebagai perwakilan pemuda yang menolak bekerja sama dengan Jepang, tidak mau ikut menandatangani sebab menurutnya PPKI adalah bentukan Jepang. Lain lagi dengan Sukarni. Menurutnya orang-orang yang tidak memberikan sumbangsih terhadap persiapan kemerdekaan yang sedang berlangsung tidak berhak ikut menyantumkan tanda tangan di naskah. Namun ketegangan tidak berlangsung lama. Seusai berdiskusi singkat, Sayuti Melik dan Sukarni mengusulkan agar Bung Karno dan Bung Hatta saja yang menandatangani naskah, yang disertai dengan pernyataan “atas nama bangsa Indonesia.” Penandatanganan pun segera dilakukan di sebuah piano tepat di bawah tangga. Sampai sekarang piano itu masih tetap diam dalam posisi aslinya.

travellerkaskus Mengunjungi Rumah Maeda (10)

Seusai mengitari lantai satu, kami meniti sebuah tangga melingkar menuju lantai dua. Tiba di atas kami belok kiri untuk memasuki ruangan pertama. Ruang-ruang di lantai dua ini dahulunya adalah kamar tidur yang kemudian dialih fungsi menjadi ruang pamer berisi berbagai panel dan poster yang terpatri di dinding—bercerita tentang peristiwa sebelum dan sesudah proklamasi, dari mulai pembentukan BPUPKI hingga masa-masa revolusi fisik—serta etalase di tengah ruangan yang berisi beragam koleksi. Semua ditampilkan berurutan secara kronologis.

Museum Perumusan Naskah Proklamasi ibarat laboratorium biologi tempat kita bisa meletakkan fragmen sejarah Indonesia dalam sebuah preparat, kemudian menelitinya di bawah mikroskop. Ruangan yang nyaman, dilengkapi pendingin ruangan, pemandu yang ramah dan berpengetahuan, serta harga tiket yang sangat terjangkau membuat saya ingin selalu kembali ke museum ini. Omong-omong, sebelum pulang saya sempat melihat seorang bapak berusia muda yang membawa serta dua orang anak yang masih kecil-kecil. Saya tersenyum. Museum ini memang tidaklah begitu ramai, namun akan selalu ada orang-orang yang meluangkan waktu untuk berkunjung. Mari teman, berkunjunglah ke museum.

 

4 COMMENTS

  1. tulisan yg sangat menarik! (y)

    seneng n bangga bisa kenal,ketemu,bertatap muka serta ngobrol santai bareng penulis seorang sosok muda yg lincah n cinta akan sejarah n budaya Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

[+] kaskus emoticons nartzco