Mengintip Tradisi Menulis dan Menenun Unik Khas Desa Tenganan

2

Salah satu cara mengembangkan kebudayaan adalah dengan diturunkan. Menulis di atas daun lontar dan membuat kain gringsing adalah tradisi yang nyatanya masih lestari karena selalu diturunkan dari generasi ke generasi di Desa Adat Tenganan.

Saya tiba di Desa Tenganan ketika hari beranjak sore. Parkiran yang biasanya penuh kini hanya diisi sebuah mobil van yang saya dan teman-teman tumpangi serta sebuah minibus yang berisi beberapa turis asing. Jalan utama desa tampak sepi. Warga desa terpaku pada kesibukannya masing-masing seperti tak terganggu dengan kehadiran kami. Beberapa orang perempuan duduk dan mengobrol di depan kios. Ibu-ibu lain justru bersembunyi di balik pagar rumah dan sibuk menenun. Sementara beberapa petinggi adat sedang menggelar pertemuan di bale banjar yang berada di tengah desa.

Melangkah memasuki desa, saya disambut beberapa warga yang menjajakan kerajinan tangan buatannya. Mereka duduk di belakang sebuah meja dan dipayungi oleh anyaman daun yang mengering. Saya menghampiri salah satu yang buat saya paling menarik, di mana seorang ibu tengah mengajari anak lelakinya merajin. Bu Kadek, salah seorang perajin yang telah delapan tahun menekuni kerajinan menulis daun lontar, langsung menerangkan cara pembuatannya.

Daun lontar memang tidak ditanam di desa ini, ia mendapatkannya dari seorang teman di luar desa. Menurutnya, daun lontar yang digunakan adalah yang sudah tua, yang kemudian dijemur hingga berubah warna menjadi kecokelatan sebelum direndam dan dikeringkan. Prosesnya tidak berhenti sampai di situ. Daun lontar harus direbus dan dikeringkan kembali lalu ditipiskan dengan sejenis alat dari kayu. Tujuannya untuk menghasilkan daun lontar yang tidak bergelombang dan siap digunakan.

Suasana Desa Tenganan/dok. Suci Rifani

“Ini pangrupak,” ucap Bu Kadek sambil menunjukkan sebuah alat untuk menulis di atas daun Lontar, seperti pisau cutter tetapi lebih tebal. Dengan lincah ia menggores daun lontar secara perlahan membentuk nama saya. “Ini kemiri yang dibakar,” lanjutnya sambil mengoleskan kemiri tesebut ke atas daun lontar. Apa yang tertinggal kemudian adalah jejak-jejak kehitaman. Ia lalu mengambil sebuah busa yang sudah dibasahi minyak sereh dan menggunakannya untuk menghapus sisa kemiri yang dibakar. Proses ini membuat warna hitam hanya bertahta di atas goresan saja.

Daun lontar adalah media yang kerap digunakan untuk menulis sebelum manusia mengenal kertas. Di Bali, manuskrip-manuskrip tua, mantra, dan serat ditulis di atas daun lontar. Masyarakat Bali percaya bahwa lontar adalah manifestasi dari ilmu pengetahuan di mana Sang Hyang Aji Saraswati bersemayam. Lontar mengandung ilmu pengetahuan dan pengalaman hidup masyarakat terdahulu, yang dapat digunakan sebagai acuan untuk menata dan meningkatkan kehidupan spiritual dan material. Kini pengetahuan akan teknik menulis di atas daun lontar masih dilestarikan meski fungsinya berubah menjadi kerajinan tangan untuk dijajakan pada pengunjung.

“Saya diajarkan teknik menulis di atas lontar sejak kecil oleh ayah saya,” begitu kata Bu Kadek. Dan tampaknya ia pun terus melanjutkan tradisi ini dengan mengajarkan hal yang sama kepada anak lelakinya. Keluarganya memang memegang teguh budaya dan terus menurunkannya.

“Selain lontar, apa lagi yang diajarkan, Bu?” tanya saya. “Kain gringsing. Mau lihat?” jawab Bu Kadek. Saya mengangguk sambil mengikuti langkahnya menuju sebuh rumah yang tak jauh dari lapak miliknya.

Sebuah candi bentar berukuran kecil menjadi pintu masuknya. Wah, sangat Bali sekali, pikir saya. Halaman dan teras rumah berarsitektur khas Bali ini telah disulap menjadi workshop sekaligus galeri kerajinan kain gringsing.

Pengerajin kain gringsing sedang memamerkan hasil tenun dobel-ikatnya/dok. Suci Rifani

“Ini Ketut Sumiartini, kakak saya yang menggeluti pembuatan kain gringsing.” Bu Kadek memperkenalkan saya. Bu Ketut menyambut saya dengan senyuman, menghentikan kegiatan menenunnya, dan menyalami saya. “Di sini banyak yang datang untuk penelitian atau liputan. Ayo, sini saya tunjukkan alat untuk menenunnya,” sambut Bu Ketut.

Kain gringsing menggunakan teknik dobel-ikat, teknik ini hanya digunakan di Bali saja dan tidak ditemukan di daerah lain di Indonesia. Dalam teknik dobel-ikat dikenal pula istilah benang lusi yang berarti benang vertikal dan benang pakan yaitu benang yang membentuk garis horizontal.

Bu Ketut mengambil seperangkat kayu yang terikat, yang kemudian ia urai satu per satu. Alat tenun yang digunakan disebut gendongan, sebab tubuh penenunlah yang digunakan sebagai media untuk mengatur ketegangan benang. “Ini pelumbungan,” kata Bu Ketut sambil menunjukkan sebuah bambu dengan diameter yang cukup kecil, diletakkan di antara dua benang lusi sehingga membentuk rongga sebagai jalan masuk bagi benang pakan. “Kalau yang ini adalah apitan, semacam penjepit pada bagian depan por/papulayan,” lanjutnya. Apitan berbentuk pipih dengan panjang yang disesuaikan dengan lebar kain dan memiliki ceruk di ujung sebagai pegangan tali. “Yang ini pegunan. Kata dasarnya gun, kata bendanya pegunan,” kata Bu Ketut sambil menunjukkan letak pegunan pada alat tenun yang sudah terpasang. Kayu berbentuk bulat memanjang ini berfungsi untuk menarik-turunkan benang. Ada pula bagian yang disebut dengan balige. “Ini terbuat dari pohon yang menghasilkan tuak,” kata Bu Ketut. “Oh, pohon nira, Bu?” tanya saya, yang disambut dengan anggukan kepala. Berbentuk pipih panjang dengan ujung runcing dan berfungsi untuk memasukkan benang diki. Terakhir adalah por yang berfungsi sebagai penyangga badan penenun.

“Bahannya dari katun yang direndam dengan minyak kemiri selama 1,5 bulan,” begitu kata Bu Ketut. Lebih lanjut ia bercerita bahwa hitungan 1,5 bulan didasarkan pada hitungan putusnya tali pusar pada bayi. Setelah itu benang diperas, diangin-anginkan hingga kering dan digulung dengan bambu. Perendaman benang dengan minyak kemiri menghasilkan warna dasar kuning. Tahapan selanjutnya adalah membuat pola vertikal dan pola horizontal. Inilah keistimewaan kain gringsing; pengerjaan pola motif sudah dimulai sejak masih dalam bentuk benang. Caranya adalah dengan melilitkan tali rafia sesuai dengan warna dan motif yang akan dibuat. Setelah itu dimulailah proses pencelupan. Masyarakat di Desa Tenganan hanya membuat proses pencelupan dengan warna merah  (terbuat dari akar mengkudu) dan kuning saja, karena adanya aturan yang tidak memperbolehkan membuat warna biru di daerah permukiman. Sehingga untuk mendapatkan warna biru, mereka harus memprosesnya di daerah Bugbug. Sementara warna hitam dihasilkan dengan mencelup kembali warna biru dengan warna merah. Proses panjang ini berakhir dengan ditenunnya benang.

Motif-motif kain gringsing yang pembuatannya bisa memakan waktu 2-5 tahun/dok. Suci Rifani

“Kalau untuk menenunnya saja, sih, dua minggu juga selesai. Tetapi proses keseluruhannya bisa memakan waktu 2-5 tahun,” kata Bu Ketut. Ah, pantas saja harga selembar kain gringsing cukup mahal.

Tetapi proses memang tidak pernah mengkhianati hasil. Saya terkagum-kagum melihat kain-kain gringsing yang terpajang di teras rumah Bu Ketut.

“Motif apa yang paling sering dibeli, Bu?” tanya saya. “Yang ini … motif lubeng, mungkin karena ini adalah simbol Desa Tenganan,” jawab Bu Ketut. Motif menyerupai bintang dengan warna hitam, merah, dan putih ini ternyata memiliki detil yang indah dan bermakna. Motif lingkaran kecil di tengah melambangkan Desa Tenganan. Selanjutnya ada motif tapak dara yang disebut-sebut sebagai kerangka dasar wastika yang merupakan lambang jalannya matahari. Tetapi menurut Bu Ketut motif ini melambangkan bukit yang mengitari desa. Terakhir adalah motif kalajengking yang berarti empat arah mata angin, yang dimaksudkan sebagai pelindung pintu masuk Desa Tenganan.

Satu jam rasanya tak cukup untuk menjelajahi Desa Tenganan, saya bahkan baru melihat bagian depannya saja. Namun saya bisa bernafas lega meninggalkan tempat ini karena saya yakin dengan tradisi menurunkan kebudayaan yang masih dipegang teguh masyarakat Desa Tenganan, kebudayaan desa ini akan terus lestari. Sehingga kapan pun saya datang nanti saya masih bisa mempelajari tradisi-tradisi lain Desa Tenganan.

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

[+] kaskus emoticons nartzco