Traveller Kaskus

Cerita Pejalan / Pilihan Editor

Mengintip Masa Kecil Bung Hatta

Kamu punya tokoh pahlawan favorit? Pernah membayangkan bagaimana rasanya mengunjungi rumah kelahirannya, tempat ia melewatkan masa kecil dan remaja?

Pahlawan favorit saya adalah Mohammad Hatta. Dari dulu saya selalu bermimpi untuk mengunjungi rumah kelahiran wakil presiden pertama Indonesia itu. Dan Agustus kemarin, saya dapat kesempatan untuk mewujudkan mimpi itu saat mengikuti fam trip Pesona Indonesia ke Sumatera Barat.

Minibus yang membawa kami—rombongan blogger—berhenti di depan pagar sebuah rumah yang halamannya tidak terlalu luas. Saya segera turun, mengalungkan kamera, dan berlari kecil mendekati rumah itu sambil berjuang menahan terik panas siang itu. Genap sudah pengalaman saya—sebelumnya saya ziarah ke peristirahatan terakhir Bung Hatta di Tanah Kusir, juga ke Museum Proklamasi, dan sekarang saya ke rumah masa kecilnya.

Rumah kelahiran Bung Hatta berlantai dua, terbuat dari kayu dan dicat putih dengan aksen abu-abu—tampak terawat walaupun cat mengelupas di beberapa tempat.

Sebenarnya Bung Hatta tidak lama tinggal di rumah ini. Ia dibesarkan dalam keluarga yang berpegang teguh pada agama dan adat. Maka sesuai tradisi masa kecil Hatta lebih banyak dihabiskan di surau. Dalam adat Minang surau memegang peranan penting dalam pembembentukan karakter anak. Di surau mereka dididik untuk menjadi muslim yang baik, yang memahami hukum Islam dan tafsir Al-Quran sebagai bekal dalam menjalani kehidupan. Tak terkecuali Hatta. Sejak berusia lima tahun ia sudah lalok di surau (tidur di surau). Selama masa lalok di surau, Hatta berguru pada Syekh Mohammad Djamil Djambek, seorang ulama terkenal di Sumatra Barat. Setiap menjelang magrib, Hatta melangkahkan kaki menuju surau yang terletak di tengah sawah tak jauh dari rumahnya dan akan pulang setelah subuh. Pelajaran yang Hatta dapatkan di surau selama bertahun-tahun membentuknya menjadi pribadi yang taat beribadah dan sangat menjaga pergaulannya—dua karakter yang ia bawa terus sepanjang hidupnya.

Di meja pendaftaran saya disambut dengan ramah oleh seorang petugas bernama Desiwarti. Ia persilakan saya masuk. Dari mulutnya lalu mengalir cerita tentang masa kecil dan remaja Bung Hatta.

“Ini ruang baca Bung Hatta,” katanya sambil mengajak saya memasuki ruangan pertama yang bersisian dengan beranda lantai satu. Selain tempat tidur dan lemari buku, di kamar itu juga ada foto-foto kunjungan Bung Hatta ke berbagai daerah selama menjabat sebagai wakil presiden. Jendela ruangan kecil itu menghadap ke Gunung Marapi. Asri sekali pemandangannya. Siapa yang tidak akan senang membaca buku sambil ditemani pemandangan indah seperti ini?

Banyak literatur soal Hatta yang bercerita soal kecintaannya pada buku. Dalam “Hatta: Jejak yang melampaui zaman” Des Alwi—salah seorang anak angkat Hatta dan Sjahrir ketika diasingkan di Banda Neira—menulis bahwa Bung Hatta punya enam belas peti berisi buku yang menemaninya selama pengasingan. Suatu hari di Januari 1942 sebuah pesawat Catalina menjemput Hatta dan Sjahrir dari pengasingannya di Banda Neira. Saat itu Bung Hatta ingin membawa semua peti buku sekaligus semua anak angkatnya. Namun pesawat itu kelebihan beban sebanyak 120 kg sehingga peti buku terpaksa tak dapat diikutsertakan. Kemudian disepakati bahwa Des Alwi akan tinggal di Banda Neira sementara waktu untuk menjaga peti buku tersebut dan membawanya ketika menyusul Bung Hatta ke Batavia tiga bulan kemudian.

Sayapun beranjak ke dalam rumah. Dinding penuh dengan foto-foto tua. Bu Desi lalu memperlihatkan foto keluarga Bung Hatta. “Ini adalah foto Siti Soleha—ibunda Bung Hatta—dan dua orang pamannya yaitu Idris dan Saleh,” jelas Bu Desi seakan mampu membaca pikiran saya.

Sebetulnya rumah ini awalnya adalah milik kakek Hatta yaitu Ilyas gelar Bagindo Marah. Hatta kecil tinggal di rumah itu bersama orang tuanya, kakek, nenek, dan kedua pamannya. Kamar kedua mamaknya—mamak adalah sebutan bagi saudara laki-laki dari ibu—itu masih bisa kita lihat di lantai satu rumah ini. Hatta kecil juga cukup dekat dengan paman tertua dari pihak Ayahnya yang ia panggil Ayah Gaek. Kedekatan mereka diceritakan Hatta dalam memoarnya: “Sikap beliau itu sangat menakjubkan aku. Di situlah aku belajar bagaimana mesti hidup dan bergaul secara Islam.”

Beranjak ke halaman belakang tampak dua buah rangkiang (lumbung) untuk menyimpan padi. Dalam budaya Minang rangkiang terletak di depan rumah. Namun berhubung rumah yang ditempati keluarga Bung Hatta bukanlah rumah gadang melainkan rumah panggung biasa, maka lumbung diletakkan di belakang rumah. Ada pula sebuah paviliun memanjang—kamar Bung Hatta yang dilengkapi sebuah dapur dan sebuah kamar mandi. Kamar tidur Bung Hatta tampak sederhana, hanya ada sebuah tempat tidur, satu set meja kerja, sebuah lemari dan sebuah sepeda onthel kesayangan Bung Hatta. Sementara di samping bangunan utama terdapat istal kuda dan dua bendi (kereta kuda seperti andong yang hanya memiliki dua roda) yang kerap mengantarkan Hatta ke sekolah.

Tepat di seberang dapur ada sebuah pintu menuju ruang makan keluarga yang menyatu dengan bangunan utama. Ruang makan itu kecil. Hanya ada sebuah meja panjang, enam buah kursi, sebuah meja kecil, sebuah rak piring, dan sebuah tangga menuju beranda lantai dua.

rumah kelahiran Bung Hatta_03

Susunan ruangan di lantai dua tak tampak berbeda dari lantai satu—sebuah beranda terbuka, sebuah ruangan luas dengan sebuah meja bundar, dan empat kursi serta dua kamar tidur. Kamar pertama adalah kamar bunda Bung Hatta, tempat sang proklamator dilahirkan. Kamar tidur itu berlantai kayu yang dilapisi tikar rotan. Ada pula meja rias dan tempat tidur dari kayu. Sedangkan ruangan selanjutnya adalah milik Kakek Bung Hatta yang ia panggil dengan sebutan Pak Gaek.

Di rumah itu Hatta dibesarkan sebagai anak laki-laki satu-satunya sehingga ia mendapat limpahan kasih sayang sekaligus pengawasan ketat dari seluruh keluarga, terutama ibunya. Dari Pak Gaek, Hatta belajar bagaimana memperlakukan sesama manusia. Semua pembantunya dari mulai pelayan sampai tukang kuda diperlakukan dengan sama. “Kita sama-sama manusia,” begitu yang sering dikatakan Pak Gaek kepada Hatta muda. Selain itu Pak Gaek pun mengajarkan Hatta soal disiplin kerja, ketepatan waktu, dan kesederhanaan. Sebagai pengusaha pos, Pak Gaek memiliki komitmen tinggi soal waktu. Barangkali kebiasaan tepat waktu Hatta mulai dipupuk dan disiram semasa ia berada dalam didikan sang kakek.

Saat Hatta berusia delapan bulan, ayah kandungnya wafat. Kemudian ibunda Hatta kembali menikah. Suami barunya, Haji Ning, sangat menyayangi Hatta selayaknya mengasihi anak kandung. Latar belakang Haji Ning sebagai seorang pedagang agaknya memberikan pengaruh cukup signifikan pada Hatta sebab lambat laun ia mulai tertarik pada bidang ekonomi. Sejarah kemudian berkata bahwa suatu hari Hatta akan dikukuhkan sebagai Bapak Koperasi Indonesia.

Selesai mengelilingi lantai dua, kami kembali turun dan melepas lelah di depan paviiliun sambil ngobrol ringan bersama Bu Desi. “Jadi kalo Bapak itu hobinya apa, Bu?” Seorang kawan seperjalanan saya bertanya. “Nomor satu pastinya buku, nomor duanya sepakbola,” jawab Bu Desi. Kesukaannya pada sepak bola membuat Hatta remaja bergabung dengan klub sepakbola bernama Young Fellow dengan posisi gelandang tengah. Namun tak jarang ia bermain sebagai bek. Ketangguhannya sebagai pemain sepakbola membuatnya dijuluki onpas seerbaar (memiliki pertahanan yang sulit diterobos). Lapangan Plein van Rome (sekarang Lapangan Imam Bonjol) di depan Kantor Gementee Padang menjadi saksi bisu sepak terjang Hatta di dunia sepakbola amatir.

  • Disunting oleh FA 24/08/2016
Share to social media :

1 Comment Mengintip Masa Kecil Bung Hatta

Leave a Reply