Traveller Kaskus

Cerita Pejalan

Mengenang Masa Kecil di Langsat

Sabtu akhir Mei kemarin saya melangkahkan kaki menuju Taman Langsat yang berlokasi di kawasan Blok M demi memenuhi undangan dari sebuah brand. Kebetulan tema yang diusung siang itu cukup menarik yaitu permainan anak-anak, sehingga tidak rugi rasanya jika saya datang. Memasuki taman, saya melihat beberapa orang sedang sibuk mempersiapkan properti acara sementara yang lainnya justru sedang seru bermain.

Menghadiri acara ini saya seperti kembali ke masa kecil. Kami dipersilakan untuk mencoba berbagai permainan yang ketika kecil dulu kerap kami mainkan. Permainan pertama yang saya coba adalah ludo. ‘Lawan’ main saya adalah Duta dan Isti. Permainan kami mulai dengan melakukan hompimpa guna menentukan urutan bermain. Setelahnya kami berusaha keras, mencoba mengingat-ingat cara bermain ludo—ujung-ujungnya kami malah membuat peraturan sendiri. Saya sangat menikmati permainan ini, walaupun sesekali muncul kerutan di kening ketika memikirkan strategi supaya menang.

Suci Rifani_Mengenang Masa Kecil di Langsat 1

Suci Rifani_Mengenang Masa Kecil di Langsat 2

Suci Rifani_Mengenang Masa Kecil di Langsat 3

Rampung bermain ludo, saya menghampiri beberapa orang yang sedang berdiri melingkar di tengah taman. Di tengah-tengah ada sebuah papan yang diletakkan di tanah, penuh dengan berbagai jenis gasing yang dapat kita mainkan. Sejujurnya saya tidak pernah bisa memainkan gasing sejak dulu, namun tidak ada salahnya mencoba. Pertama saya diajak untuk mencoba bermain jenis gasing yang berasal dari Yogyakarta, yang bentuknya seperti tabung terbuat dari bambu dengan kayu yang disematkan pada bagian tengah berfungsi sebagai poros. Hebatnya gasing ini dapat mengeluarkan bunyi-bunyian yang merdu. Tak sulit untuk sekadar memainkannya. Tantangannya justru pada bagaimana melemparkan gasing ini tepat di atas papan permainan.  Saya pun sempat mencoba beberapa macam gasing lain meskipun pada akhirnya mesti rela melambaikan bendera putih tanda menyerah.

Bergeser ke permainan berikut ada bakiak dan egrang. Saya memilih bermain bakiak saja—bahkan kami sempat membuat kelompok dengan masing-masing anggota berjumlah tiga orang. Sayang badan saya yang gendut ini sedikit mempersulit gerakan sehingga permainan berujung pada kekalahan.

Suci Rifani_Mengenang Masa Kecil di Langsat 4

Di sela-sela kecerian yang tercipta siang itu, ingatan saya kembali ke masa kecil. Saya ingat betul, setiap sore saya pasti keluar rumah untuk bermain. Kebetulan rumah saya dulu berada di Kompleks Perumnas yang jauh dari lapangan sehingga saya dan teman-teman harus puas bermain di tengah jalan. Biasanya kami mulai bermain sekitar pukul empat sore. Seorang teman akan mencari pecahan batu bata atau genteng dan menggunakannya untuk mencoret jalan, membuat garis permainan gobak sodor atau galasin. Kadang kami juga bermain petak umpet, tak jongkok, benteng, atau bermain batu tujuh. Lalu ketika azan berkumandang ibu akan keluar dari rumah dan menyuruh saya untuk berhenti bermain lalu mandi. Masa kecil memang indah, sayang sekarang saya jarang melihat anak-anak kecil bermain seperti yang dulu saya kerap lakukan.

Selain berbagai permainan, ada pula talkshow singkat. Adalah Endi Aras, seorang kontributor beberapa surat kabar ternama, yang memutuskan untuk fokus melestarikan permainan tradisional. Ia memulainya dari kegemaran mengoleksi gasing. Menurutnya Indonesia adalah negara yang kaya akan permainan tradisional, yang menyimpan banyak nilai luhur yang dianut bangsa Indonesia, di antaranya kederhanaan. Alam Indonesia yang melimpah menyediakan bahan-bahan untuk membuat berbagai permainan. Contohnya di Pulau Muna, Sulawesi Selatan, tempat daun dapat menjadi bahan pembuatan layang-layang. Contoh lain adalah batang daun singkong yang biasa dipakai untuk membuat kalung. Saya pun tersenyum mendengar penjelasaan Pak Endi karena rasanya dulu pun saya kerap mencari daun singkong untuk dijadikan kalung.

Selain itu ada nilai kebersamaan serta kerjasama. Jika kita perhatikan hampir semua permainan tradisional dimainkan secara berkelompok dengan minimal dua orang anggota. Kerjasama antaranggota dalam kelompok akan terjalin secara alami demi mengatur strategi untuk mengalahkan lawan.

Suci Rifani_Mengenang Masa Kecil di Langsat 5

Suci Rifani_Mengenang Masa Kecil di Langsat 6

Terselip pula nilai kepatuhan. Menurut Pak Endi, kadang permainan yang sama mempunyai peraturaan yang berbeda-beda di tiap daerah. Jadi anak-anak kerap membuat peraturannya sendiri lalu mematuhinya. Namun pada saat yang bersamaan ada juga nilai kejujuran dalam mematuhi peraturan. Terakhir ada nilai lapang dada ketika mengalami kekalahan serta rendah hati saat mendapat kemenangan.

Berbagai usaha dilakukan Pak Endi untuk melestarikan permainan tradisional. Menurutnya justru orang dewasalah yang perlu diajak untuk kembali bermain. Ia sering melihat bahwa sebetulnya anak-anak jaman sekarang bukannya tidak mau bermain permainan tradisional tapi mereka tidak tahu atau memang alatnya yang tidak ada. “Coba lihat contohnya di sebelah sana,” ujarnya sambil menunjuk ke sebuah arah, tempat dua anak kecil sedang asyik bermain mobil-mobilan lacker. “Mereka mungkin baru pertama kali ini melihat mobil lacker [mobil-mobilan dari kayu, dimainkan oleh dua orang–satu orang di atas mobil, lainnya mendorong.] Tapi lihat, mereka sudah langsung mahir memainkannya,” lanjut Pak Endi.

Selain menghadiri berbagai acara, Pak Endi pun menggagas Gerakan Kebangkitan Permainan Tradisional dan membawa banyak mainan saatCar Free Day di Jalan Sudirman-Thamrin, sehingga siapun yang kebetulan lewat dapat langsung ikut bermain. Selain itu ia mengubah rumahnya menjadi semacam galeri dan membukanya lebar-lebar sehingga anak-anak dari kampung sekitar rumahnya dapat datang kapan saja. Ia membebaskan mereka mengambil mainan apa saja lalu mengembalikannya seusai bermain.

Sebelum mengkhiri sesi bincang-bincang, Pak Endi berpesan agar kita, sebagai pejalan, dapat ikut berperan dalam melestarikan permainan tradisional. Membuat dokumentasi permainan tradisional yang kita temui saat melakukan perjalanan adalah contoh hal sederhana yang dapat kita lakukan. Dokumentasi ini sesungguhnya penting bagi pelestarian permainan tradisional. Sebab menurut HAKI [Hak Atas Kekayaan Intelektual], sulit untuk mematenkan permainan tradisional mengingat banyak negara memiliki jenis permainan tradisional yang sama.

Suci Rifani_Mengenang Masa Kecil di Langsat 7

Acara selesai ketika senja datang. Saya berpamitan dengan teman-teman yang hadir dan tak lupa berfoto bersama. Sambil menjabat tangan saya, Pak Endi berpesan bahwa permainan tradisional adalah sebuah mahakarya Indonesia dengan banyak nilai luhur yang sudah seharusnya kita lestarikan. Saya mengangguk, tersenyum seraya berjanji dalam hati akan mengajak teman-teman Traveller Kaskus untuk berkunjung dan bermain di galeri milik Pak Endi.

Share to social media :

3 Comments Mengenang Masa Kecil di Langsat

Leave a Reply