Kusamba, Gerbang Lain Menuju Nusa

1

Tidak tampak keramaian ketika memasuki Kusamba, sebuah perkampungan antara Klungkung dan Denpasar, ketika saya tiba sebelum matahari benar-benar muncul dari timur.

Aroma garam yang menyengat, bau amis ikan segar dan ibu-ibu yang sedang duduk sembari membenahi jaring-jaring ikan dengan senyum ramah menyapa setiap orang yang lalu lalang, tak terkecuali saya. Sepertinya mereka telah terbiasa melihat orang luar yang berkunjung ke Kusamba.

Pantai terlihat kotor dan tampak sampah di setiap jengkal kaki. Sama sekali tidak menunjukkan tempat ini jadi favorit tempat berlibur akhir pekan wisatawan yang ingin menghitamkan kulit sambil bermain bola voli seperti pantai-pantai di seputaran Kuta. Ketika masuk gerbang pun saya tidak mendapati petugas yang meminta entrance fee selayaknya kebanyakan pantai di Bali.

Jaraknya yang mudah ditempuh baik dengan kendaraan roda dua maupun roda empat, 30 km dari Denpasar atau 7 km dari ibu kota kabupaten Semarapura – Klungkung, menjadikan tempat ini sebagai gerbang menuju Nusa Penida. Tiga Nusa (Nusa Penida, Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan) sendiri memang wilayah yang terpisah dari Pulau Bali dan menjadi bagian dari Kabupaten Klungkung.

Nusa Penida yang hanya bisa disambangi lewat jalur laut membuat masyarakatnya mencari jalur alternatif untuk menuju pulau kecil di tenggara Bali itu. Sanur dan Padang Bai adalah jalur penyeberangan lainnya, seiring dengan perkembangan pariwisata dan peningkatan wisatawan yang ingin menjelajahi Tiga Nusa, pelabuhan Sanur dan Padang Bai kini dikhususkan untuk wisatawan dan masyarakat umum yang dilayani dengan kapal Roro atau fast boat.

Kusamba memiliki cerita lain
Dari Kusamba kita bisa menyaksikan kerja keras pengusaha Nusa untuk membangun ekonomi yang lebih baik di tanah kelahirannya, salah satunya ibu Wayan. “Saya belanja di pasar Klungkung kemarin pagi, hari ini barang-barang harus sampai di Lembongan untuk saya jual besok di pasar pagi” Ibu Wayan menjelaskan sambil sibuk membubuhkan namanya di setiap pack barang yang akan diseberangkan oleh kapal sampan. Barang-barang tersebut sengaja diberi tulisan agar tidak tertukar dengan barang milik pedagang lain, semacaam name tag ketika menjejalkan koper di bagasi pesawat terbang.

Satu pack barang (bisa berupa satu keranjang, karung, atau kardus) dikenakan tarif sebesar Rp5.000. Barang-barang yang diseberangkan beraneka ragam, mulai dari kebutuhan pokok makanan seperti: sayur, beras, telor, air mineral, tabung gas, hingga kebutuhan upacara agama dan bahan bangunan. Pak Agus, pria bertubuh kokoh, berkulit legam terbakar matahari dengan mata teduh teruji lautan adalah pemilik kapal jukung yang melayani pedagang-pedagang yang ingin menyeberangkan barang dagangannya.

Dalam sehari, ia hanya melayani sekali angkutan, dan keesokan harinya berbalik arah mengangkut pedagang yang akan berbelanja ke pasar Klungkung. Itu pun tidak pasti karena cuaca yang terkadang kurang mendukung. Pak Agus sangat memperhatikan hal tersebut, terlebih beban angkut jukung yang terbatas. “jika salah perhitungan bisa membahayakan penumpang” ungkapnya.

Di sisi lain, kegiatan penyeberangan ini menyediakan lapangan kerja bagi masyarakat pesisir Kusamba yang pada umumnya bermata pencaharian sebagai nelayan dan petani garam tradisional. Mereka dapat membagi waktu sebab pedagang yang mengangkut barang dari pasar Klungkung menuju Kusamba menggunakan bemo tidak setiap waktu. Menyeberangkan dan mengerjakaan profesi utama saling mengisi kekosongan jadwal sehingga bisa lebih produktif.

Jika pejalan ingin berkunjung dan berwisata kuliner maka tempat ini masih menyimpan harta karunnya. Ikan bakar dan sate lilit dengan sambal khas Bali jangan sampai terlewat. Belum populer sebagai tempat wisata membuat harga makanan di sini masih terjangkau. Semua dapat ditemui dalam sajian warung-warung kecil di sekitar pantai.

Rasanya menemukan pemandangan berbeda ketika setiap pesisir pantai nenek moyang kita yang konon pelaut sudah didirikan hotel dan bangunan, kita masih bisa menemukan masyarakat yang mampu menikmati hidup sederhana, dengan air garam dan kerja keras di tengah keterbatasan.

R_MG_9228

R_MG_9347

R_MG_9354

RIMG_1648

R_MG_9251

R_MG_9267

R_MG_9280

R_MG_9313

R_MG_9319

R_MG_9323

R_MG_9337

 

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

[+] kaskus emoticons nartzco