Traveller Kaskus

Van Diary

The Van Diary: Koloni Burung Kokokan

Jalan Sriwedari, Ubud, semakin mengecil. Rumah-rumah dan villa yang dibangun di atas sawah tampak semakin banyak. Jika dibandingkan dengan pusat kota Ubud yang ramai, hawa memang bertambah dingin dan suasana menjadi demikan sepi. Namun entah kenapa saya merasa suasana tetap riuh. Barangkali karena keberadaan villa-villa itu, atau pengendara motor yang tanpa henti melintas di jalan-jalan kecil itu.

Vifick, kawan saya yang telah tujuh tahun lebih menetap di Pulau Dewata, pagi ini mengajak kami pergi ke sebuah desa yang konon dihuni hewan sejenis burung kuntul yang dalam bahasa lokal disebut kokokan. Jumlahnya sangat banyak dan sejak lama bersimbiosis dengan masyarakat desa.

Semestinya kami tinggal belok kanan. Namun karena plang penunjuk jalannya sudah rusak, kami mengambil jalan lurus yang pada akhirnya mengantarkan kami ke Jl. Tegallalang yang di kanan kiri dipenuhi oleh toko penjual cinderamata – lukisan, ukiran, pajangan, dan beragam kerajinan tangan. Setelah melambung agak jauh, kami akhirnya tiba di desa itu: Petulu Gunung.

Syukron memarkir van di depan sebuah pura, sementara saya dan Vifick berjalan kaki menyusuri desa. Ketika berjalan, Vifick tiba-tiba menujuk ke depan, “itu, lihat!”

Saya mendongak dan mendapati beberapa ekor burung berjalan-jalan dengan anggun di atas jalan beraspal. Sebentar kemudian sayap mereka mulai mengepak hebat lalu terbanglah mereka ke berbagai penjuru. Ada yang menuju pohon, ada pula yang memilih untuk bertengger di kabel listrik. Kotoran-kotoran burung meninggalkan aksen berwarna putih sepanjang jalan.

Sambil memperhatikan pohon bunut dan nangka yang memagari jalan, saya susuri Petulu Gunung.

Konon, kondisi masa lalu desa ini jauh berbeda dibanding sekarang. Dahulu tempat ini terisolasi dan sulit dicapai. Lapangan pekerjaan yang kurang membuat masyarakat terjebak di bawah garis kemiskinan dan hidup serba kekurangan. Saat musim panen, mereka mengadu nasib sampai ke Singaraja, Tabanan, bahkan Bangli untuk bekerja sebagai pemetik kopi dan penyiang padi. Hidup sangat keras bagi penduduk Petulu Gunung.

Melihat fenomena itu, masyarakat desa mulai berpikir bahwa nasib mereka ini mungkin disebabkan oleh kurangnya persembahan bagi dewata. Lalu, setelah berembug, diputuskanlah untuk mengadakan upacara persembahan bagi para dewa. Pelaksanaan upacara itu direstui dan dibantu oleh Puri Ubud. Para penduduk mulai ngayah, bergotong-royong untuk mempersiapkan upacara.

Ketika masyarakat sedang sibuk inilah koloni burung kokokan muncul untuk pertama kalinya di Banjar Petulu Gunung. Tidak di sembarang tempat, mereka bertengger di sebuah pohon yang terletak di depan kediaman Mangku Desa. Tidak ada seorang pun yang menyangka bahwa burung itu akan menjadi penghuni tetap di desa mereka.

Pada Oktober 1965, sebuah upacara bernama Ngenteg Linggih pun dimulai. Meskipun kondisi perpolitikan Indonesia ketika itu sedang tak menentu, upacara berjalan dengan lancar. Lalu pada tanggal 7 November 1965, berakhirlah rangkaian upacara. Bertepatan dengan itu, kawanan burung kokokan  – dengan jumlah yang lebih banyak dari rombongan pertama – berdatangan dan bertengger di pepohonan depan rumah warga. Mereka pun percaya bahwa kedatangan burung kokokan ini adalah anugerah dari dewata sebab mereka telah berhasil melaksanakan upacara dengan baik – persembahan mereka diterima oleh langit.

Burung-burung ini lalu dipelihara oleh pura desa; dijaga dan dikeramatkan. Seiring berjalannya waktu, warga pun ikut serta untuk menjaga koloni burung kokokan yang semakin ramai di Petulu Gunung. Awig-awig (hukum) khusus pun dibuat untuk menjaga kelestarian kokokan di desa itu.

Di depan sebuah warung saya berhenti. Masih takjub oleh harmoni yang disajikan di Petulu Gunung ini; di mana manusia, hewan, dan tumbuhan hidup berdampingan dalam kedamaian. Sepertinya tiada relasi menaklukkan dan ditaklukkan di sini.

Ketika sedang asyik melamun, seorang lelaki berusia akhir tiga puluhan menghampiri. Saya membalas senyum ramahnya.

“Burung ini di sini sepanjang tahun, Pak?” Saya bertanya.

“Iya. Mereka ada terus,” jawab bapak itu. Namun, ia menambahkan, pada bulan-bulan tertentu, ketika musim kawin, mereka menjadi lebih riuh daripada biasanya.

Pada akhir September atau awal Oktober mereka mulai membenahi sarang untuk menyambut musim kawin. Pada bulan berikutnya, November atau Desember, mereka mulai bertelur. Lalu pada akhir Desember sampai awal Januari telur-telur burung kokokan mulai menetas. Desa Petulu Gunung mendapatkan ribuan penghuni baru – sepasang burung kokokan mampu menghasilkan 4-5 telur sekali musim kawin. “Keramaian” itu akan berlangsung sampai akhir Maret, sampai kokokan-kokokan junior mampu terbang dan mencari makan sendiri. Kemudian mulai April, Petulu Gunung akan sepi di siang hari sebab kawanan kokokan akan bepergian sepanjang hari dan hanya akan ada di desa pada pagi dan sore.

“Nah, itu yang sedang membuat sarang mungkin yang malasnya,” ujar lelaki itu bergurau sambil menunjuk pada seeokor burung kokokan yang baru saja hinggap di salah satu pohon bunut yang memagari jalan. Sekarang sudah Desember, semestinya musim membuat sarang sudah berakhir.

“Di dekat tempat tinggal saya di Jogja ada juga burung kuntul, Pak,” ungkap saya. “Tapi bentuknya tidak seperti yang di pohon itu. Putih semua dan berukuran lebih besar. Migrasinya juga tidak jauh. Hanya dari kawasan Fakultas Kehutanan ke Biologi.”

Ia menimpali pertanyaan saya dengan menjelaskan bahwa sebenarnya di desa ini ada tiga jenis burung kokokan. Mereka dibedakan berdasarkan ukuran, juga warnanya. “Yang di pohon itu yang berukuran menengah,” ia menjelaskan. Warga lokal menyebutnya bangau-bangau. Ketika kecil, bulu bangau-bangau berwarna putih polos dengan tungkai jenjang berwarna hitam. Tungkai itu akan berubah perlahan menjadi merah-oranye ketika mencapai usia dewasa. Selain itu bulu-bulu di sekitar kepala akan berganti warna menjadi pirang kecoklatan seolah-olah mereka mengecatnya di salon.

Jenis yang kedua disebut kokokan. Mereka memiliki tubuh yang lebih besar. Bulu dan tungkai putih polos. Pohon yang menjadi sarang mereka lebih tinggi dari pohon tempat bangau-bangau bersarang. Sementara itu kokokan yang paling kecil disebut blekok. Warnanya hitam, ukurannya lebih kecil, dan bersarang di pepohonan yang rendah.

Kokokan sudah tidak dapat dipisahkan dari Petulu Gunung. Seolah untuk memperkuat jalinan antara desa ini dengan unggas itu, muncul beberapa urban legend.

“Ini boleh percaya boleh tidak,” ujar bapak berkacamata itu memulai cerita baru. Dahulu, ketika masyarakat membuat barong dari bulu burung kokokan, terjadi kejadian aneh yang tidak masuk akal.

Untuk membuat sebuah barong tentu saja dibutuhkan banyak bulu. Dengan sabar warga mengumpulkan bulu-bulu burung kokokan yang jatuh ke tanah dan mengumpulkannya ke dalam sebuah keranjang. Keranjang itu tidak terlalu besar. Namun ketika seniman pengrajin barong menempelkan bulu-bulu itu, mereka seolah-olah tidak pernah kehabisan bulu kokokan dan barong yang demikian besar dapat ditutupi oleh bulu kokokan yang hanya sekeranjang.

Di lain waktu, ada seorang perempuan yang lewat melintasi jalanan Petulu Gunung. Melihat aspal petulu yang putih oleh kotoran burung, ia melipir ke pinggir jalan, tempat yang kira-kira berada di luar jangkauan serangan kotoran kokokan. Namun lucunya ia malah seperti dengan sengaja dijatuhi feses oleh kokokan yang sedang terbang. Sementara itu orang lain yang tidak menghindari tahi burung bisa lewat tanpa kejatuhan satu tetes pun jua.

Masih ada kisah lain yang tak kalah menarik.

“Mereka sudah dibikinkan hutan,” ujar bapak itu. “Sudah dibikinkan pelinggih (tempat pemujaan) juga.” Namun mereka tetap saja bertahan di pepohonan di pinggir jalan, di pohon listrik, atau di pematang sawah.

Bapak itu lalu menyarankan kami untuk mengunjungi Banjar Kokokan yang dibangun khusus untuk menghormati kawanan burung itu. Mengikuti saran beliau, kami berkendara lebih dalam ke jantung Petulu Gunung. Dari atas pohon, pematang sawah, kabel listrik, ribuan burung kokokan mengamati kami. Mereka seolah meledek: “Tidak seperti kalian. Kami tak perlu alat untuk bisa terbang jauh!”

Share to social media :

Leave a Reply