Kisah dari Mapetah Suei Nyumat

3

Menyusuri jalanan Kalimantan yang panas dan berdebu, dengan rumah-rumah yang terlihat seadanya di kiri-kanan jalan, dengan sungai yang tampak kian coklat di tepi jalan, serupa menyaksikan barisan demonstran dengan kritik paling pedas atas pemerataan pembangunan. Barangkali masyarakat di sini merasa baik-baik saja dengan jalanan yang tidak terlalu besar, dengan angkutan umum yang nyaris tak tampak, dengan harus mengantri membeli bensin walau tempat ini adalah salah satu sumber bahan bakar itu sendiri, barangkali. Tapi, bukankah itu menjadi tidak adil bagi mereka? Saya menghembuskan napas kuat-kuat, sekadar menepis resah yang tiba-tiba saja datang. Sementara motor yang saya tumpangi masih melaju dengan kecepatan sedang.

Setelah bermotor sekira satu jam dari pusat kota Tabalong, Kalimantan Selatan, akhirnya saya tiba di perbatasan Kalimantan Selatan-Kalimantan Tengah. Saya memandangi langit Desa Pasar Panas, Barito Timur, Kalimantan Tengah, yang hari itu biru sekali. Tepat di dekat tugu perbatasan Kalimantan Selatan-Kalimantan Tengah, terdapat kompleks rumah adat yang berseberangan dengan Kantor Dinas Pariwisata. Satu dari rumah adat itu difungsikan sebagai museum.

Untitled-1

Museum Lewu Hante, begitu ia dinamai. Dalam kosa kata Dayak Maanyan, Lewu Hante sendiri berarti rumah besar.
Jika ditilik dari bentuknya, Lewu Hante ini adalah rumah adat suku Dayak seperti yang kerap kita kenal dengan Betang, atau Rumah Betang, begitu sering kali orang menyebutnya. Rumah ini berbentuk panggung dan memanjang. Panjangnya bisa mencapai 30-150 meter dengan lebar bisa mencapai 10-30 meter. Saya sempat berpikir, untuk apa membuat rumah sebesar itu? Ternyata, satu rumah memang tidak dihuni oleh satu kepala keluarga, melainkan beberapa kepala keluarga, bahkan konon penghuni satu Betang atau Lewu Hante dapat mencapai 100-150 orang!

Selain rumah adat, tentu hal yang menarik dari suku Dayak adalah seni merajah tubuh. Bagi suku Dayak, rajah atau tato tentu bukan perkara gaya hidup, namun memiliki makna khusus. Alih-alih seperti yang dilabelkan oleh masyarakat kita dewasa ini, bahwa seseorang yang memiliki rajah di tubuhnya adalah cerminan dari moral yang kurang baik, bagi suku Dayak rajah justru sebuah kehormatan, bahkan keharusan.

“Tato ini harus. Misal ketika lelaki Dayak beranjak dewasa, ia harus dirajah sebagai penanda, ada yang dirajah dengan gambar cicak atau burung, atau gambar lain. Begitu juga ketika menikah, ia harus dirajah sebagai penanda ia tak lagi lajang. Gambarnya nanti macam-macam,” tutur Alfirdhaus Mapetah Suie Nyumat, “seniman” suku Dayak Maanyan yang saya jumpai di Lewu Hante.

Rajah dengan motif burung Enggang-resize

Dhaus –begitu dia biasa disapa- menunjukkan tato burung Enggang di lengan kirinya. Burung Enggang adalah burung endemik Kalimantan yang dikeramatkan. Tidak semua orang Dayak dapat dirajah dengan gambar burung Enggang. Motif ini hanya lazim digunakan untuk kaum bangsawan. Tak heran jika Dhaus memiliki tato dengan motif tersebut. Berdasarkan marga yang tersemat di belakang namanya, kita bisa tahu bahwa Dhaus masihlah keturunan Kerajaan Nan Sarunai. Alfirdhaus Mapetah Suei Nyumat, begitu nama lengkapnya. Mapetah Suei Nyumat berarti keturunan kesembilan yang dilempar jauh. Dikatakan dilempar jauh karena keberadaan mereka telah semakin jauh dari keberadaan Kerajaan Nan Sarunai pada mulanya.

Sampai kini, sebagian besar masyarakat Dayak masih memegang adat merajah tubuh. “Jika ingin dirajah juga, boleh saya buatkan,” kata Dhaus sambil menunjukkan motif-motif rajah khas Dayak. Sebenarnya, akan menarik sekali jika bisa dirajah oleh seorang suku Dayak asli dengan motif khas Dayak tentu saja. Sayang sekali, keinginan itu harus saya simpan hingga kembali pulang.

Barangkali ini soal saya yang belum berani melawan stigma masyarakat tentang tato atau lebih dalam lagi saya takut menjadi kesulitan berdialog dengan Tuhan karenanya. Walaupun selalu saja terbersit pertanyaan di benak saya, apakah benar Tuhan menolak didekati jika di tubuh ini ada rajah?*

 

3 COMMENTS

  1. tabe..mantap! sya mau tanya apkh tattoo/tutang/rajah yg dimksud adlh tattoo original Ma’anyan atau adopsi/influence tato Dayak yg lain? seandainya mmng Ma’anyan punya sya sngt trtrik sklu!! tato (tutang) tradisionl
    Dayak Ma’anyan. sjauh ini sya hnya mlakukn
    pncrian d intrnt sja. yg sya tmukn byk sumber
    (ex. wikipedia, folks of Dayak, dll) mnyimpulkn
    Ma’anyan tdk mngnl budya tato, sperti saudara
    serumpunnya, Meratus. klaupn ad dktakn ad
    sbuah tnda + seprti cucak/cacak burung. tp info tsb
    blum jls. tdk dihrusknnya praktek
    tsb diantranya dsbbkn alsn Ma’anyan tdk
    mmprktkn pengayauan/ headhunting. nmun, sya
    msh pnsarn, mngapa sub suku Dayak lain mmiliki
    budaya tattoo? atw Ma’anyan sbnrnya tdk trmsuk
    sub suku Dayak? atw ada alsn lain?! atw sya trllu
    naif dan mmksakn khndak? apabila ada
    kmungkinan pling kcil sklipun trhdp eksistensi &
    dinamikanya – bila memng ada- atw mmng tdk
    ada- atw punah. sya mhon bantuan info apapun
    mngacu hal tsb sngt dinantikn.
    d sisi lain sya sdng mngumpulkn koleksi buku2
    pnjljah brat/eropa tmpo dlu dlm frmt pdf. hrpn
    sya mdh2n dpt mnmukn kmungkinnan tutang
    Ma’anyan. sya brencna mmbuat tlisan ttg tato
    Ma’anyan sbgai sbuah krya ilmiah/krya tlis akhir.
    mohon bntuannya.
    Tarime kasis pulaksana’i.
    tabe. semangArt!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

[+] kaskus emoticons nartzco