Ketika Waktu Berhenti di Bumi Perkemahan Loji

7

Berkemah bukan sekadar menghabiskan waktu dengan bidang tanah lain di belahan bumi lain.

Dalam perjalanan ke arah Bogor, saya mengamati jarum jam yang bergerak lebih cepat dari biasanya. Tak jauh dari saya, Eka dan Like masih berdiri berdesakan dengan penumpang lain di kereta. Saat itu pukul 3 sore. Matahari akan tumbang beberapa jam lagi. Tapi kami tak dikejar waktu.

Nofy mengirimi kami bertiga sebuah pesan yang sama, “Sudah sampai mana? Aku baru sampai Universitas Pancasila.” Sedikit lega karena ternyata dia berada di kereta di belakang kami. Sudah lama sekali rasanya ketika terakhir kali terlambat dan justru merasa lega karena yang lain juga tertinggal. Hidup di Jakarta tampaknya tak membuat orang menyia-nyiakan waktu, sebab mereka sadar bahwa selain uang waktu adalah hal yang paling dicari.

Nofy bergabung dengan kami di Stasiun Bogor yang selalu ramai di hari-hari libur. Seakan-akan semua orang Jakarta ingin pergi ke Bogor, lalu berkemah.

“Ah, shit! Sama aja ini. Macet-macet juga nanti ke Loji,” pikir saya. Segera kami berempat mengeluarkan ponsel dan membandingkan harga taksi online yang paling murah. Walaupun sepertinya hanya orang edan yang mau menerima orderan konyol kami ke pelosok gunung. Beberapa kali percobaan order sebelum akhirnya seorang driver bernama Pak Jaya menerima orderan kami. Entah sial atau justru beruntung, ia dengan senang hati mengantar kami menuju basecamp Loji.

Kami sengaja mencari lokasi paling lengang di antara puluhan tenda yang telah mendahului kami hari itu/dok. Ridho Mukti

Jalan-jalan Bogor yang kecil sepertinya tidak sebanding dengan jumlah kendaraan yang memadati kota. Plat nomor Jakarta cukup mendominasi.

Langit sore pucat khas kota hujan ini membuat saya gelisah. Mungkin memang begitulah setiap hari di Bogor. Tapi saya sedikit bisa melupakan kecemasan ketika angka 80 ribu tertera di tarif taksi online kami. “Ah, murah. Ditambah tip kalau dibagi 4 jadi 25 ribulah, ya.”

Saya masih ingat ketika tiga bulan lalu menyewa angkot melewati gang-gang kecil untuk memotong waktu tempuh kami menuju sisi lain kaki Gunung Salak. Berlainan dengan sekarang, mobil yang kami tumpangi lebih nyaman sehingga kami tidur pulas sampai tiba di jalanan yang mulai menanjak dan berbelok.

Bangunan sekolah menyambut kami di pertigaan menuju parkiran Loji. Jalanan berbatu harus kami tempuh dari sini. Papan bertuliskan “Suaka Elang” mengarahkan mobil Pak Jaya ke arah kanan. Sangat berbeda dibanding ketika kali terakhir saya bertandang ke sini. Untungnya Like meredakan kegelisahan saya yang tampak kebingungan dengan jalan baru ini. Perkebunan milik swasta memaksa jalur lama ditutup untuk umum, meskipun jalur tersebut jauh lebih singkat dibanding jalur baru ini.

Menyusuri jembatan gantung kayu yang ikonik di Loji/dok. Ridho Mukti

Tiba-tiba saya teringat kenangan setahun lalu ketika saya mula-mula tinggal di Jakarta. Diiming-imingi liburan ke Baduy Dalam dengan jalur yang ringan, nyatanya kami harus jalan kaki menaiki bukit nan licin selama 5 jam! “Pakai sandal aja bisa, kok. Gampanglah pokoknya ke Baduy,” tegas Mawski. Harapan palsu.

Rupanya jalan yang harus ditempuh untuk sampai ke lokasi berkemah Loji kian terjal dan jauh. Beberapa warung makan dengan halaman depan yang luas telah diisi oleh motor-motor yang terparkir.

Ini dia pos pendaftarannya, ujar saya dalam hati. Kegirangan saya sekonyong-konyong buyar ketika Like yang berjalan paling depan terus melangkah santai melewati pos itu, yang ternyata adalah warung.

Setelah melewati warung jalanan menurun dan kami langsung bertemu sebuah rumah berpencahayaan seadanya. Like kian mantap melaju ke depan menyisiri sungai yang ada di sebelah kanan kami. Secara morfologi, Gunung Salak memiliki banyak jurang dengan mata air yang mengalir sepanjang tubuhnya. Sungai-sungai banyak dimanfaatkan warga untuk menanam jenis-jenis dadap atau cangkring, kayu afrika, dan berbagai macam bambu. Sehingga tak heran jika di awal pendakian kami ditemani hamparan perkebunan warga.

Siapa yang akan tahan melihat “hammock” menganggur/dok. Ridho Mukti

Sesekali lapak penjual gorengan menghadang kami. Seingat saya dahulu tidak ada warung di jalur pendakian, kecuali memang pengelola telah merombak penuh kawasan mereka.

Jika melalui jalur lama, kamu hanya akan menjumpai satu sungai besar dengan jembatan yang ikonik. Sementara lewat jalur baru, kami harus melintasi tiga sungai untuk sampai ke pos jaga Taman Nasional. Di belakang bangunan utama, bekas api unggun masih menyemburkan asap tipisnya. Bangunan pos juga tampak masih baru dan rapi. Terdapat satu gazebo kecil dengan sajadah dan rak buku yang terisi Al Qur’an di sudutnya. Potongan kayu membentuk dudukan ditempatkan di bagian depan pintu. Dua orang penjaga menyambut kami dengan ramah malam itu. Mereka bersiap dengan lembaran tiket untuk kami.

Eka, Like, dan Nofy yang terlihat kepayahan mencapai pos memilih untuk memanfaatkan kursi-kursi yang ngaggur. “Berapa berempat, Mas? Sama sekalian sewa tenda dan matras, ya?” tanya saya setelah berbasa-basi dengan penjaga pos. “150 ribu, ya,” jawab petugas disusul dengan menyodorkan robekan tiket.

Selepas mengecek perlengkapan, kami bergegas mencari lokasi paling lengang di antara puluhan tenda yang telah mendahului kami hari itu. Bumi perkemahan ini lebih mirip amfiteater. Setiap lapisnya terdapat lahan untuk tenda berdiri. Sepetak tanah kosong di pojok atas sepertinya bukan favorit para pendaki. Saya dan Eka segera mengaveling tempat, sementara Like dan Nofy sibuk membongkar ransel dan mengeluarkan santapan kami selama berkemah.

Roti bakar yang secara misterius berlipat-lipat lebih enak saat berkemah/dok. Ridho Mukti

Cuaca yang saya takutkan sedari sore tadi rupanya menjadi lebih sumringah. Bintang-bintang yang berhamburan di atas kepala menemani waktu berbagi kesedihan kami malam itu. Like masih saja curhat dengan gaya khas alay-nya, sedangkan Nofy masih berkutat dengan kesendiriannya.

Dua jam lebih sibuk dengan cerita asmara kami, Eka mengakhiri obrolan klasik itu dengan mengeluarkan kamera. Setelah memasangnya ke tripod mungil, Eka membawa kameranya mengitari hutan untuk mencari spot terbaik. Saya pun turut mengikutinya, namun lensa 50mm yang saya bawa rupanya tak cukup menolong untuk malam itu. Begitu juga dengan lensa punya Eka.

Saat kami berdua kembali ke tenda dengan sedikit kecewa, kedua cewek itu masih saja sibuk mengobrol ditemani kompor yang masih menyala. Entah apa yang mereka bicarakan sedari tadi.

Hari pun berganti; sepertinya jarum jam masih berputar terlalu kencang. Pukul 9 pagi ketika saya terbangun, Eka, Like, dan Nofy telah selesai menyantap roti mereka. Sunyi dan dinginnya malam rupanya telah menghipnotis saya dalam lelap. Melihat saya terbangun, Nofy segera kembali menyalakan kompor, memasak air untuk menyambut saya dengan segelas kopi. Eka hilang entah ke mana. Like dengan rambut kusutnya tengah menenteng handuk dan bungkusan alat mandi di tangan kirinya. Setelah selesai menyajikan kopi, Nofy menyusul Like ke kamar mandi di belakang pos penjaga. Sendiri melihat hammock yang telah terpasang di samping tenda, saya memilih untuk menidurinya.

Beberapa orang anak berenang di sungai kecil/dok. Ridho Mukti

Setelah Eka kembali—ternyata ia berburu foto—Like dan Nofy menyusulnya dari belakang. “Yuk, ah, foto-foto di jembatan,” sahut saya yang sudah bersiap dengan sebuah kamera. Ternyata tawaran saya disambut dengan anggukan.

Kami kembali menuju bawah dengan baju tidur kusut. Kursi-kursi kayu di depan pos terisi penuh oleh pendaki lain. Beberapa terlihat baru datang dengan tas ransel di punggung dan keringat di sekujur wajah. Jembatan panjang itu berada tepat di depan pos, tapi belum banyak orang yang memanfaatkannya untuk berfoto. Buru-buru kami menguasai spot favorit itu.

Tapi anak-anak kecil yang bermain air di bawah jembatan lebih menarik perhatian kami. Setelah menyeberangi jembatan, lalu belok ke kiri, kami lalu turun ke bawah tepat di depan bangunan lama yang dulunya digunakan sebagai pos penjagaan. Anak-anak masih sibuk melompat dari batu yang tinggi untuk menceburkan diri ke sungai yang tak seberapa dalam. Mereka tampak tak acuh dengan kedatangan kami, meskipun kamera telah tertuju pada mereka.

“Dik, lompat lagi, dong. Nanti aku foto,” pinta saya. Empat anak itu segera berlomba menaiki batu tertinggi, bersiap melompat dengan ancang-ancang mantap siap difoto. Dua yang lebih besar mengulanginya lagi dan lagi walaupun kami telah berkali-kali memotret.

Berpose dengan gaya kekinian adalah sebuah kemestian/dok. Ridho Mukti

Lalu perhatian saya kembali pada Like dan Nofy yang duduk di batu menunggu kami. Raut wajah mereka lesu. Kesal mungkin menunggu kami yang mengabaikan mereka berdua untuk memotret para calon atlet loncat indah tadi.

Tengah hari ketika matahari mulai sembunyi di balik mendungnya awan. Waktu kembali berlalu sangat lambat, seolah membalut kami dalam kesejukan nan damai. Masa-masa dikejar oleh rutinitas di Jakarta lenyap dan dibenamkan oleh alam itu sendiri.

Sebuah pesan singkat dari Pak Jaya menyadarkan lamunan saya siang itu. Ia memberi kabar bahwa dirinya telah berangkat untuk menjemput di depan sekolah tempat kami kemarin janjian ketemuan. Kami segera mengepak barang-barang yang berserakan, membungkusnya secepat kilat, kemudian berlari menyusuri sungai dan perkebunan warga menuju lokasi penjemputan, untuk pulang ke rutinitas Jakarta yang bergerak secepat cahaya.

Bagi saya, berkemah bukan sekadar menghabiskan waktu dengan bidang tanah lain di belahan bumi lain. Tapi, telah menjadi alegori untuk menggambarkan waktu yang berlalu deras dan merampas hakikat manusia, kemudian merenungkannya sebagai pemicu untuk menyeimbangkan hidup. Melambat bukan berarti berhenti, tapi bersiap untuk berlari lebih kencang.

7 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

[+] kaskus emoticons nartzco