Ketika di Ende

1

Hotel tempat saya menginap di ketika di Ende memang cocok sekali dinamakan Ikhlas sebab tarifnya hanya berkisar antara lima puluh ribu rupiah per malam sampai sembilan puluh ribu, tergantung pada jenis kamar. Saya memilih yang paling murah; kamar berukuran kecil dengan dua dipan, minus kamar mandi. Saya tidak peduli, yang penting ia punya kipas angin yang akan menyelamatkan saya ketika kepanasan. Tidak perlu mencari yang nyaman. Toh, bukankah ketika melancong kamar hanya dipakai untuk melepas penat setelah seharian berkeliaran di kota asing?

Hari itu saya capek sekali. Perjalanan dari Labuan Bajo sungguh panjang. Saya mesti tiga kali naik-turun oto. Angkutan pertama hanya sampai Ruteng. Dari Ruteng, menjelang senja, saya menumpang oto sampai ke Bajawa. Menginap semalam di Polres Ngada, keesokan harinya saya melanjutkan perjalanan selama empat-lima jam menuju Ende. Maka ketika tubuh saya bertemu dengan kapuk, ia langsung menempel bak gel.

Ketika saya bangun, cahaya mentari sudah begitu lembut. Dari penginapan saya berjalan kaki ke pusat kota Ende. Dari jalan menurun itu saya dapat melihat Gunung Meja yang wujudnya seperti tumpeng yang sudah dipotong atasnya. Awan tipis menggantung di atas seakan sedang bersiap-siap berkongsi dengan malam untuk menyelimuti Ende dengan kegelapan.

Tidak sampai lima belas menit berjalan saya tiba di kota. Ende yang saya saksikan dengan mata tidak jauh berbeda dengan yang ada dalam bayangan saya selama ini; kota kecil nan sepi yang dibatasi oleh teluk dan diapit pegunungan hijau.

Ende bagi saya adalah kota pembuangan Soekarno, yang kerap saya baca ketika menekuni buku sejarah semasa sekolah dasar dan menengah.

Saya berbelok ke Jl. Soekarno untuk menemukan sebuah lapangan bola; sedang ada pertandingan di sana. Di trotoar yang membatasi lapangan bola dengan jalan raya, berdiri sebuah tugu peringatan gempa bumi yang meluluhlantakkan Flores pada 12 Desember 1992.

Di samping lapangan, pemerintah membangun sebuah ruang terbuka hijau yang diberi nama Taman Renungan Bung Karno. Sesuai dengan namanya, di sanalah dulu Bung Karno sering duduk sore sambil merenung di bawah pohon sukun sampai muncul ide besar bernama Pancasila. Sekarang, di bawah pohon sukun itu dibangun patung perunggu Bung Karno yang sedang duduk di atas bangku taman, yang menatap tajam ke arah Pulau Ende di kejauhan.

Tiba-tiba terjadi keriuhan; perempuan-perempuan menjerit dan orang-orang berlari ke arah lapangan bola. Sedang ada syuting rupanya. Keriuhan itu adalah orang-orang yang berebut untuk bersalaman atau berfoto bersama artis ibukota.

Matahari sudah hampir mencelupkan diri ke dasar samudera. Saya tinggalkan keramaian untuk melipir ke arah dermaga.

Di dermaga yang berhadap-hadapan langsung dengan Pulau Ende itu, beberapa orang tampak duduk atau berdiri sambil memegang pancing masing-masing. Sesekali gelombang menghantam tiang, menghasilkan buih-buih putih yang terhempas dari air laut yang menghitam ditelan kelam. Di belakang Pulau Ende sana, menjadi satu dengan jingga yang mengambang di cakrawala, adalah laut lepas; liar, penuh tanda tanya. Dari balik perbukitan di arah barat, Gunung Inerie yang tak henti-hentinya berasap mengawasi lamat-lamat.

Beberapa lama melamun di situ, tak sekalipun saya lihat mereka berhasil menangkap ikan. Jika yang mereka cari adalah ikan, pastilah mereka akan kecewa ketika pulang ke rumah dengan tangan hampa. Namun apabila yang mereka dambakan adalah suasana, barangkali rona senja sudah mampu menjawabnya.

Balada Kartu Pos

Keesokan harinya saya secara tidak sengaja berjalan kaki mengelilingi Ende. Semula saya hanya ingin pergi ke kantor pos untuk mengirimkan beberapa kartu pos untuk teman dan keluarga. Dari penginapan, saya berjalan ke arah bandara, kemudian belok kiri menyusuri jalanan yang menanjak, lewat kantor bupati dan dewan perwakilan.

Dengan keringat yang menetes hebat di jidat, saya masuk ke kantor pos dan disambut oleh satpam. Secara fisik, kantor pos sudah tampak lebih menarik dibandingkan dulu. Dindingnya diberi kapur berupa garis-garis oranye. Kusen pintu dan jendela juga diwarnai serupa jeruk. Plangnya pun diseragamkan tulisannya: Kantor Pos. Dalamnya? Siapa yang tahu.

“Saya mau mengirim kartu pos,” begitu saya jawab ketika satpam itu menanyakan keperluan. “Di sini ada kartu pos?”

Satpam itu mengarahkan saya ke loket pengiriman. Sekali lagi saya menyatakan keperluan saya kepada pegawai pos, yang kemudian bertanya pada temannya, yang kemudian bertanya pada rekannya yang lain. Akhirnya muncul seorang perempuan yang tampak memiliki otoritas, menjawab: “Maaf, Mas. Kami tidak punya kartu pos. Kalau sekedar mengirimkan, kami bisa.”

Satpam kemudian memberi petunjuk jalan ke Percetakan Nusa Indah. “Coba saja tanya di sana, Mas,” ujarnya sambil menunjuk ke arah kedatangan saya. “Beberapa puluh meter setelah perempatan.”

Dengan bersemangat saya ke Percetakan Nusa Indah di Jl. El Tari hanya untuk menemukan bahwa benda yang saya cari tidak ada. Alih-alih saya malah menebus sejilid Aku karya Sjumandjaja.

“Di pasar barangkali ada, Mas,” Wanita penjaga toko menyarankan. “Coba lihat di studio foto.”

doc. @djongiskhan
“Kemudian, di sebuah pertigaan saya melipir ke sebuah jalan kecil bernama Jl. Perwira, tempat Bung Karno diasingkan pemerintah kolonial lebih dari enam puluh tahun silam.” doc. @djongiskhan

Nasib. Saya diumpan lambung hanya untuk kembali dioper ke tempat lain. Mau tak mau saya mesti mencari benda pos itu ke pasar; sekali layar terkembang, surut kita berpantang. Sudah terlanjur, sekalian tercebur. Tapi tahukah kau? Ini berarti saya akan jalan kaki mengelilingi Ende kota, yang jalannya naik-turun berlurah-lembah dan, meskipun malam hari lumayan dingin, siang harinya panas luar biasa sebab berbatasan langsung dengan samudra.

Lagian, saya hampir selalu menyempatkan diri berjalan-kaki jarak jauh ketika melakukan perjalanan panjang. Jalan kaki biasanya akan membawa saya ke tempat yang tak terduga, melakukan aktivitas yang tak terbayangkan, atau bertemu orang-orang luar biasa. Pun tidak, minimal saya bisa mengeluarkan racun yang terpendam dalam tubuh lewat keringat. Syukur-syukur juga membantu menghilangkan sedikit lemak jahat yang akhir-akhir ini menumpuk di perut.

Dari El Tari saya berbelok ke kiri, terus berjalan sampai tiba di Jl. Pahlawan. Enak juga jalan kaki di Ende. Trotoarnya masih sangat nyaman untuk dipakai berjalan. Tidak seperti kota-kota besar yang sisi jalannya – yang seharusnya diperuntukkan bagi pejalan – digunakan sebagai tempat parkir, lapak kaki lima, atau tempat menaruh papan reklame – bayangkan!

Kemudian, di sebuah pertigaan saya melipir ke sebuah jalan kecil bernama Jl. Perwira, tempat Bung Karno diasingkan pemerintah kolonial lebih dari enam puluh tahun silam.

Rumah Pengasingan Putra Sang Fajar

Di pagar bangunan itu berjejer bendera seperti marawa (bendera panjang khas Ranah Minang). Alih-alih hitam-kuning-merah, bendera itu berwarna perselingan merah-putih. Memasuki pagar, saya disambut lantai kayu plafon berkesan elegan yang menuntun jalan ke pintu masuk bangunan rumah pengasingan.

Rumah permanen itu tak begitu besar namun terkesan damai. Ia diperindah oleh kanopi strip biru-putih yang sudah lekang oleh cuaca. Belakangan, dalam perjalanan menuju Moni saya insyaf bahwa rumah pengasingan Bung Karno itu menyontoh pada model rumah penduduk Ende kebanyakan: persegi panjang, dengan pintu di tengah yang diapit oleh jendela. Di bawah pohon jambu yang rindang di samping bangunan utama, terpampang sebuah plang bertuliskan “Situs Rumah Pengasingan Bung Karno di Ende.”

Begitu masuk saya langsung beradu pandang dengan sebuah lukisan berjudul Pura Bali yang dilukis oleh Bung Karno tahun 1935. Benar kata orang-orang bahwa Bung Karno memiliki bakat dan jiwa seni yang tinggi.

Ruang pertama dan paling besar itu adalah tempat bagi etalase-etalase berisi peninggalan Bung Karno yang digunakan selama di Ende, dari mulai biola, porselin untuk makan, setrika besi seberat 3 kg, sampai surat kawin dan cerai Bung Karno dan Bu Inggit. Dipaku di dinding adalah foto-foto serta lukisan yaang menandai jejak keberadaannya selama ia diasingkan. Melihat foto-foto itu saya serasa menumpang mesin waktu; melihat perjalanan Bung Karno dengan mata kepala saya sendiri. Kesan itu dipertegas oleh keberadaan kandil klasik yang digantung di langit-langit, yang sekarang sudah jarang dipajang di rumah-rumah model baru.

doc. @djongiskhan
doc. @djongiskhan

Menengok ke kanan, saya melihat ruang tamu dengan dua kursi kayu dan meja marmer yang dilindungi oleh kaca transparan. Barangkali di sanalah Bung Karno kerap berdiskusi dengan rekan-rekannya, atau sekadar menyeruput kopi buatan Bu Inggit sore-sore sambil merokok dan membaca salah satu dari buku-buku tebal koleksinya.

Lalu, melalui pintu yang kusennya dicat hijau tua, saya tiba di ruangan kecil yang menjadi penghubung antara kamar Bung Karno (kanan) dan kamar mertuanya (Ibu Amsi) serta anak angkatnya (Ratna Djuami).

Saya tergelak ketika melihat ke pojok. Di sana dipajang dua buah tongkat milik Bung Karno; yang satu bermotif monyet – ia gunakan di dalam kota sebagai simbol untuk menghina dan merendahkan penjajah Belanda, satu lagi polos tanpa motif – untuk dibawa ke luar kota.

Secara umum rumah itu terkesan klasik. Nuansa modern hanya muncul dari sebuah komputer interaktif – serta sebuah headset – yang diletakkan sekenanya di salah satu sudut. Seharusnya di sana pengunjung akan bisa menikmati tayangan audio-visual tentang Bung Karno. Namun apa daya; komputer itu mati.

Halaman belakangnya luas. Ada ruang semadi, lalu dapur, kamar mandi, dan sebuah sumur tua. Dari balik pagar rumah itu menjulang tiga antena parabola digital. Pastilah dulu semasa Bung Karno tinggal di sini, produk kekinian itu belum ada. Saya jadi membayangkan bagaimana dulu sepinya ketika Bung Karno diasingkan; ketika di pagi hari hanya ada suara burung; ketika malam hari hanya disinari oleh cahaya terang gemintang.

Ada etalase berisi buku di beranda belakang, di seberang ruang semadi. Isinya barangkali tampak seperti harta karun di mata para penggila atau kolektor buku: Dua jilid Di Bawah Bendera Revolusi, Revolusi Belum Selesai (Kumpulan Pidato Bung Karno), Kepada Bangsaku, Indonesia Menggugat, Tentang Marhaen dan Proletar, dan lain-lain.

Usai melihat-lihat isi rumah pengasingan itu, saya duduk di lantai beranda belakang. Pasti menyenangkan duduk-duduk santai di sini pada sore hari. Konon dahulu di bawah pohon jambu dibangun sejenis bale-bale yang bisa dipakai untuk duduk-duduk sore sambil menyantap pisang goreng hangat dan menyeruput kopi – ada yang berjualan. Sekarang sudah tidak ada. Atas nama estetika, area di bawah pohon jambu ditaburi batu lonjong-pipih berwarna putih.

Sudah lewat tengah hari ketika akhirnya saya melanjutkan perjalanan ke pusat kota. Sebelum mampir di sebuah artshop di perempatan Jl. Proklamasi untuk membeli dua lembar kartu pos, saya sempatkan dulu berkunjung ke Museum Tenun – yang pengelolaanya sebenarnya bisa dimaksimalkan.

Sore menjelang kantor pos tutup, saya kembali datang untuk mengirimkan kartu pos. Dengan sigap pegawainya membubuhi prangko dengan cap pos. Setelah urusan bayar membayar selesai, seorang pegawainya – yang tadi menyaksikan saya datang untuk pertama kali – tanpa rasa berdosa mengeluarkan beberapa kartu pos lusuh dari balik meja. Ada tulisan free di salah satu pojoknya.

“Ini kita punya beberapa, Mas,” ujarnya. “Silakan diambil.”

“…”

Jika dibilang kesal, saya akan berbohong jika mengatakan tidak. Bagaimana mungkin saya akan tertawa saja setelah dikerjai, disuruh keliling Ende untuk mencari kartu pos yang sebenarnya ada di kantor pos. Saya bukan nabi yang akan menyodorkan pipi kiri setelah pipi kanan digampar orang.

Namun enggan juga saya melabrak. Manusia tak luput dari kekhilafan, saya sadar. Barangkali mereka lupa tempat mereka meletakkan kartu pos tersebut sebab sekarang benda pos itu sudah jarang dipergunakan, jarang peminat. Tapi jika pos sendiri tidak menjual kartu pos, lebih baik namanya diubah menjadi “kartu” saja.

Ya sudahlah! Saya ambil saja dua lembar dari tumpukan kartu pos itu; satu bergambar Gili Banta, satu lagi Kupang.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

[+] kaskus emoticons nartzco