Kemarau di Gunung Merbabu

6

Mendaki gunung bukanlah hal baru bagi saya. Sejak masih sekolah menengah dulu saya sudah jatuh cinta pada ketinggian, pada dingin yang menusuk tulang, pada persahabatan dalam hangatnya tenda. Sejak musim hujan tahun lalu saya selalu menunggu datangnya kemarau—lelah sudah saya menahan rindu pada gunung. Rasa itu semakin menjadi-jadi setiap kali saya melihat foto Gunung Merbabu beredar di linimasa media sosial.

Maka ketika seorang teman lama di TravellerKaskus mengajak mendaki Gunung Merbabu, saya langsung menyanggupi dengan bersemangat. Pada hari yang ditentukan, bersama Arif, Imam, dan Ojan, saya berangkat ke Base Camp Selo.

Traveller Kaskus Gunung Merbabu

Masuk dalam wilayah Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, Kecamatan Selo berada di lembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Menuju Selo perlu waktu sekitar 2-3 jam dari Yogyakarta, lewat Muntilan, lalu terus ke Sawangan. Di persimpangan sebelum Ketep Pass, saya dan kawan-kawan berbelok ke kanan, menukik ke lembah. Mulai dari sana perjalanan menjadi lebih seru; jalan semakin sempit, menanjak, berliku, yang diselingi turunan. Mendekati Selo, kebun sayur menjadi semakin luas dan pemandangan lebih hijau, meskipun ronanya tidak sesegar saat musim hujan.

Tulisan “New Selo” tampak dari kejauhan seperti tulisan ‘Hollywood’ yang termasyhur. Pasti para pendaki Merapi sedang bersiap-siap di sana. Tapi bukan itu yang kami tuju, melainkan Base Camp Merbabu yang terletak lebih jauh lagi ke arah timur. Tak berapa jauh dari pasar, kami masuk jalan kecil terjal lalu melaju pelan di antara rumah-rumah penduduk. Kemudian setelah melewati kuburan, motor kami berjumpa lawan pamungkasnya: tanjakan terakhir sebelum base camp yang saking miringnya sering membuat motor bebek meraung-raung.

Menuju Gunung Merbabu

Tiba di base camp pukul 7 malam, kami beristirahat sejenak sebelum memulai pendakian, sekalian mengisi perut yang kelaparan dengan sepiring nasi goreng telur ceplok yang di tempat berhawa dingin semacam ini secara misterius menjadi lebih menggiurkan.

Base Camp Selo berada di sebuah perkampungan sederhana di kaki gunung. Sebagian besar masyarakat di sini adalah petani yang menanam berbagai macam sayuran untuk dijual sekitar Solo. Namun, sebagian lain mulai menggantungkan hidup pada kunjungan para pendaki. Dengan cara membuka rumah untuk dijadikan base camp pendakian, mereka menjual makanan dan minuman, pernak-pernik, serta peralatan yang dibutuhkan pendaki, selain—tentu saja—‘keramahan.’

OTW Pendakian Gunung Merbabu

Yang menarik bagi saya, base camp beserta fasilitasnya—kamar mandi dan lincak atau bale-bale tempat para pendaki dapat merebahkan tubuh—itu disediakan secara gratis. (Air sangat melimpah di Base Camp Selo. Dari mata air di lereng Gunung Merbabu, air dialirkan ke desa melalui selang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari masyarakat setempat. Tidak mengherankan jika fasilitas kamar mandi diberikan secara cuma-cuma.)

Tidak banyak base camp pendakian yang memberikan pelayanan cuma-cuma seperti ini, barangkali hanya di gunung-gunung sekitar Jawa Tengah seperti Merapi, Gunung Merbabu, Gunung Sumbing, Gunung Sindoro, dan Gunung Slamet. Sekilas, memberikan fasilitas tanpa pungutan biaya tampak tidak akan mampu menghidupi pemilik rumah. Tapi keramahtamahan yang disuguhkan kemudian akan bisa menjadi magnet penarik pengunjung—orang-orang yang akan memesan makanan dan minuman, atau sekadar membeli oleh-oleh untuk dibawa pulang.

Pendakian Gunung Merbabu

Memang tidak banyak rumah yang dijadikan base camp. Namun, tiap base camp seolah mengikuti sebuah standar. Mereka dilengkapi fasilitas yang relatif sama—karpet tempat beristirahat, etalase di bagian depan rumah untuk menjual berbagai kebutuhan pendakian, menu makanan dan minuman yang bervariasi, kamar mandi dengan air yang melimpah, dan dapur dengan tungku berbahan bakar kayu tempat siapapun bisa nimbrung untuk menghangatkan badan.

Meskipun base camp-base camp di Selo ditujukan bagi para pendaki, siapapun diperkenankan berkunjung. Dahulu, saya dan teman-teman sering mengunjungi Base Camp Selo sekadar untuk mengobati rasa kangen pada hawa dingin. Enggan mendaki, kami hanya ngobrol ngalor-ngidul ditemani kopi hangat yang asapnya mengepul, sambil memperhatikan para pendaki yang datang dan pergi memanggul ransel sebesar kulkas, sampai akhirnya tertidur. Kemudian keesokan paginya kami pulang ke rumah masing-masing.

Pendakian Merbabu

 

Debu Kemarau Gunung Merbabu

Langit luar sudah gelap. Malam. Cahaya matahari sudah lama semenjak menjadi lindap. Angin yang mulai berhembus kencang seolah mengingatkan kami untuk segera memulai perjalanan menuju Pos 4—Sabana 1—di ketinggian sekitar 2770 meter di atas permukaan laut (mpdl).

Kami mesti melalui berbagai medan untuk mencapai lokasi itu. Dimulai dengan jalan setapak landai, trek menjadi semakin curam menjelang Pos 2 sampai Sabana 1. Meskipun base camp kaya air, tidak ada sumber air sepanjang jalur pendakian. Setiap pendaki harus siap menanggung beban lebih sebab air mesti dibawa dari bawah. Ketiadaan sumber air ini tidak hanya terjadi di musim kemarau. Di musim penghujan, pendakian Gunung Merbabu via Selo juga dikenal ‘tanpa’ air. Namun ‘kekurangan’ itu diimbangi dengan pemandangan yang memesona—padang sabana.

Traveller Kaskus Pendakian Merbabu

Empat jam lebih kami menyusuri jalur kering kerontang. Berbeda dengan pendakian saya beberapa bulan lalu ketika trek masih lumayan lembab, pendakian kali ini berselimut debu. Barangkali penyebabnya adalah kemarau yang berkepanjangan tahun ini. Untungnya kami berempat sudah menyiapkan buff untuk menutupi wajah. Bila tidak, selain pernapasan kami bakal diganggu oleh debu—apalagi semakin tinggi posisi seseorang dari permukaan laut semakin sedikit pula kadar oksigen yang dapat dihirup dari udara—sekujur muka juga akan disaput aksen putih kecoklatan.

Angin kencang menemani sepanjang perjalanan hingga akhirnya kami tiba di Sabana 1. Setelah kami masuk ke dalam tendapun, ia seolah-olah tak rela kehilangan teman bermain—ia terus bertiup mengobrak-abrik tenda. (Bahkan sampai kami turun keesokan harinya, angin masih saja berhembus kencang.)

merbabu-image8

Keesokan hari, ketika mentari mulai menampakkan cahaya pagi, saya lebih memilih berdiam di dalam tenda yang panas. Keringat bercucuran di sekujur tubuh. Tapi apa boleh buat; ketika keluar tenda, hanya debu kering yang akan saya dapati. Angin yang berhembus juga terlalu dingin. Dilematis.

Secara umum cuaca di gunung memang tidak bisa ditebak. Hujan bisa saja turun menyelingi kemarau panjang. Sebaliknya ketika musim hujan bisa saja ada minggu-minggu kering yang akan membuat jalan setapak menjadi penuh debu. Namun, demi keselamatan, setiap pendaki mesti berasumsi bahwa mendaki pada musim kemarau akan penuh dengan debu yang akan membuat tenggorokan menjadi kering. Artinya, jika melakukan pendakian di musim kemarau, seorang pendaki harus mempersiapkan diri dengan bekal air minum yang cukup sebab kekurangan suplai air akan menyebabkan tubuh mengalami dehidrasi.

Puncak Gunung Merbabu

Perjalanan yang singkat adalah harapan kami ketika turun gunung. Namun kenyataan malah sebaliknya. Waktu tempuh menjadi lebih lama sebab jalan setapak cenderung berkerikil, licin, membuat kami harus melaluinya secara hati-hati. Sepatu bermerk luar pun tak kuasa melawan medan nan terjal itu.

Antara Sabana 1 menuju Pos 3, ada saat di mana saya hampir putus asa. Jalur yang curam membuat saya beberapa kali terpeleset. (Seingat saya tidak ada di antara kami yang tidak pernah terpeleset dalam perjalanan turun. Perjalanan turun yang berlangsung selama empat jam terasa lebih sulit ketimbang perjalanan naik—badan dan pakaian saya coklat oleh debu.)

Pendakian Gunung Merbabu Traveller Kaskus

Saya seperti tak kuasa menghadapi medan yang ekstrem. Dengan napas terengah-engah, saya berkata dalam hati, “Aku menyerah!”

Tapi melihat Imam, Ojan, dan Arif yang sudah jauh di bawah, meninggalkan saya di belakang, sepertinya sulit membayangkan mereka bertiga akan dengan senang hati naik kembali menjemput saya yang kepayahan. Batas antara hidup dan mati terus menggerayangi. Ternyata tekad tidak hanya diperlukan untuk menggapai puncak, ia mesti tetap dipelihara sampai kita berhasil turun dengan selamat.

Badan remuk, perut kosong, dan pakaian kotor, semuanya terbayar ketika akhirnya kami tiba kembali di Base Camp Selo, yang terasa bagai oase sejuk di tengah padang pasir gersang.

6 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

[+] kaskus emoticons nartzco