Traveller Kaskus

Cerita Pejalan

Kelenteng Sam Poo Kong

Empat belas Februari, ketika sebagian orang merayakan hari kasih sayang, saya malah bertandang ke Semarang, mewakili Traveller Kaskus dalam acara Imlek Nusantara, sebuah kegiatan yang digagas Kementerian Pariwisata RI guna mengabarkan pada Indonesia tentang festival Imlek tersebut. Kami semua lima belas orang, terdiri dari travel enthusiast, travel blogger, travel buzzer, fotografer aerial, dan videografer.

Setelah pesawat yang membawa kami dari Jakarta mendarat jam sembilan pagi, perjalanan kami lanjutkan dengan menggunakan bis. Kelenteng Sam Poo Kong adalah perhentian pertama kami. Tidak terlalu jauh ternyata, untuk mencapainya hanya perlu sekitar 20 menit saja.

Kelenteng Sam Poo Kong adalah salah satu destinasi wisata unggulan Semarang yang keberadaannya menyimpan banyak cerita mengenai kedatangan etnis Tionghoa ratusan tahun silam.

Tersebutlah Cheng Ho—yang bernama kecil Ma He atau Muhammad He—seorang laksamana kenamaan yang dilahirkan dalam keluarga Muslim Yunan pada 1371. Di puncak karirnya, ia menerima perintah dari Kaisar Yongle (Dinasti Ming) untuk melakukan ekpedisi keliling dunia. Pada periode 1405-1433 tercatat tujuh kali sang laksamana memimpin pelayaran keliling dunia dengan mengemban berbagai misi—perdamaian, perdagangan, penyebaran agama Islam.

Enam di antara pelayaran tersebut membawanya ke Nusantara. Dalam sebuah pelayaran, Cheng Ho bisa membawa 300 kapal yang diawaki 30.000 prajurit. Ukuran kapal induknya dapat mencapai satu setengah kali lapangan bola. Uniknya, Cheng Ho membawa serta beberapa kapal khusus—kapal untuk pertanian, peternakan, dan untuk mengangkut persediaan air bersih. Perjalanan Cheng Ho dan pasukannya di perairan Utara Jawa membawa Kota Semarang ke dalam babak baru sejarahnya.

Tiba di area parkir kelenteng, saya bergegas turun dari bis dan menuju pintu gerbang. Ada sebuah gapura bergaya Tiongkok berwarna merah, pada bagian tengahnya tertera tulisan “Sam Poo Kong” yang ditulis dengan huruf kapital. Ada pula sepasang naga di bagian atas gapura yang tampak seakan-akan siap menyambut pengunjung. Untuk masuk, pengunjung mesti membayar Rp 3.000. Namun saya tidak perlu antre lagi sebab pihak Ind.travel sudah mengurus semuanya.

Sebuah lapangan luas adalah hal yang pertama kali terlihat begitu melewati pintu masuk. Pada bagian tengah, saya melihat sebuah panggung yang sedang dipersiapkan untuk menyambut Imlek. Tiga paviliun besar berarsitektur Tiongkok berwarna merah berdiri pada bagian samping, di bagian lainnya pendopo khas Jawa kokoh berdiri. Sebuah perpaduan yang sangat apik bukan?

Kami berkumpul di bawah sebuah pohon besar tak jauh dari pintu masuk, tempat seorang pemandu yang siap menemani kami berkeliling menunggu. Betapa beruntungnya kami hari itu sebab ternyata hanya ada satu orang pemandu di Sam Poo Kong.

IMG_20150214_102059

Ia memulai tur dengan menceritakan sejarah Kelenteng Sam Poo Kong. Dalam salah satu pelayarannya, Cheng Ho dan pasukannya singgah di Kota Semarang ketika melintasi pesisir Utara Jawa. Ketika itu, kebetulan salah seorang awak kapalnya yang bernama Ong King Ho tengah menderita sakit yang tidak memungkinkannya untuk meneruskan perjalanan. Sang juru mudi itu pun dibawa ke daratan untuk kemudian dirawat di sebuah gua. Cheng Ho tidak lupa menitahkan 200 orang prajuritnya untuk tinggal dan merawat Ong King Ho selama sakit.

Jika di masa kini wilayah sekitar Sam Poo Kong cukup hijau oleh pepohonan—meskipun sudah lumayan dipadati permukiman—ketika Ong King Ho tiba Sam Poo Kong masih terletak di area pantai. Gua pun lambat-laun berubah menjadi kelenteng. Di satu masa, gua itu pernah runtuh dan menghancurkan kelenteng. Pada 1724 barulah kelenteng kembali dibangun.

Sepuluh tahun kemudian, Cheng Ho kembali ke Semarang untuk menemui Ong King Ho, sang juru mudi. Namun ia tidak dapat menemukan sisa-sisa pasukannya sebab mereka telah berbaur dengan masyarakat setempat melalui proses perkawinan.

Pernah mendengar nama Oei Tiong Ham? Bagi para penggemar sejarah mungkin nama itu sudah tidak asing lagi. Ia adalah seorang Tionghoa kaya raya dan termasuk ke dalam jajaran orang Tionghoa pertama yang diizinkan memotong kepang serta mengenakan pakaian ala Barat. Pemilik pabrik gula, perkebunan tebu, dan pernah menjadi Kapitan Tionghoa di Semarang. Lalu apa hubungan Oei Tiong Ham dengan Sam Poo Kong?

Pada tahun 1879 tanah tempat Sam Poo Kong berdiri dibeli oleh ayah Oei Tiong Ham. Tak berhenti sampai di situ, keturunan Oei Tiong Ham juga membentuk sebuah yayasan untuk mengelola Sam Poo Kong.

Era Orde Baru merupakan masa yang menegangkan bagi Kelenteng Sam Poo Kong, tahun yang penuh pelarangan, konflik, hingga pembongkaran sepihak bangunan kelenteng. Pada tahun 2005 Kelenteng Sam Poo Kong kembali berbenah dalam rangka menyambut peringatan 600 tahun pelayaran Cheng Ho. Apa yang kita lihat sekarang merupakan hasil renovasi terakhir tersebut.

Pemandu kemudian mengajak kami melihat paviliun dalam area kelenteng. Untuk memasukinya kami mesti kembali membeli tiket. Tiap paviliun adalah tempat pemujaan bagi dewa-dewa yang berbeda.

Ada paviliun khusus untuk Thian Siang Seng Boo sang dewi pelindung para pelaut. Ada juga paviliun-paviliun khusus untuk Hok Tek Cien Sien (Dewa Bumi), Kyai Juru Mudi, dan Cheng Ho. Pada bagian belakang pavilliun Cheng Ho dipahat relief yang menceritakan sejarah perjalanan Cheng Ho mencapai Semarang. Ada pula sebuah gua yang di dalamnya terdapat mata air, gua yang diyakini sebagai tempat Kyai Juru Mudi dirawat. Kita bisa melihat detil setiap paviliunnya, namun tidak bisa mendekati patung dewa atau memasuki gua.

Saya melihat ada deretan patung kecil di depan paviliun yang menurut pemandu adalah patung Lohan (murid Dewi Kwan Im.)

samp_poo_kong_03Saya mendapatkan pula beberapa cerita mengenai berbagai simbol yang dipajang di sana. Pada masing-masing pintu masuk paviliun terdapat sepasang patung Bao Gu Shi. Sepasang patung berbentuk singa yang mencerminkan maskulinitas dan feminisme; singa jantan digambarkan sedang memegang sebuah bola dunia yang menyimbolkan pelindung dunia, sementara singa betina sedang memegang seekor bayi singa sebagai perlambang dari pelindung makhluk hidup. Saya juga melihat banyak sekali ornamen berupa naga. Masyarakat Tionghoa percaya bahwa naga adalah hewan yang paling kuat, simbol dari kebaikan, kebahagiaan, keuntungan, kemakmuran, kesuburan, keperkasaan, dan lainnya.

Selain ornamen, warna pun memiliki arti. Hampir semua bangunan di dalam kompleks Sam Poo Kong berwarna merah. Warna merah melambangkan antusiasme, semangat, keberuntungan, serta kebahagiaan. Selain merah ada sebuah pendopo di dekat loket yang justru didominasi warna hijau. Menurut cerita yang saya dapat dari pemandu, pendopo dan warna hijau merupakan bukti adanya alkulturasi. Pendopo melambangkan kebudayaan Jawa sedangkan Hijau melambangkan agama Islam.

Seusai berkeliling, saya pun beristirahat di bawah pepohonan sambil membidikkan kamera. Saya melihat beberapa pengunjung yang sedang mengabadikan momen dengan memakai kostum ala Tiongkok. Di tempat ini memang disediakan fasilitas penyewaan kostum aneka rupa khas Tiongkok. Kostum dapat digunakan untuk sesi foto, tersedia dalam berbagai ukuran dari mulai dewasa sampai anak-anak.

Sayang saya tidak bisa berlama-lama santai di bawah pepohonan rindang itu sebab acara Imlek Nusantara selanjutnya telah menanti. Kami harus segera menuju hotel, makan siang, dan mengunjungi Pasar Semawis, pusat perayaan Imlek di Semarang.

 

Share to social media :

3 Comments Kelenteng Sam Poo Kong

Leave a Reply