Cerita Pejalan

Karnaval Kemerdekaan di Kota Khatulistiwa

Mobil yang saya tumpangi bersama rombongan Pesona Khatulistiwa Kementerian Pariwisata melaju membelah Pontianak, hari Sabtu, 22 Agustus 2015. Udara panas menyengat. Sungai Kapuas yang lebar dengan air yang mengalir tenang tak mampu menahan kesaktian matahari. Namun panas itu tak mengurangi semangat kami untuk menyaksikan puncak perayaan Hari Ulang Tahun Indonesia (HUT RI) ke-70.

Diadakan di kota yang dilewati garis khayal ekuatorial, perayaan tahun ini bertajuk Karnaval Khatulistiwa. Istimewanya, acara ini akan dibuka langsung oleh Presiden Joko Widodo. Peserta karnaval pun beragam, berasal dari 16 provinsi termasuk Kalimantan Barat sendiri.

Mendekati Rumah Radakng—replika rumah adat Dayak di Jalan Sutan Sjahrir, Kota Baru, Pontianak—yang menjadi titik awal karnaval, jalanan menjadi lumayan padat. Sebab, demi kelancaran acara beberapa ruas jalan mesti ditutup.

Setelah susah payah, mobil kami akhirnya menemukan tempat parkir. Saya langsung bergegas menuju Rumah Radakng, berlari-lari kecil di antara mobil-mobil yang dihias beraneka rupa, di antara orang-orang yang dengan antusias menanti kedatangan presiden untuk membuka acara.

Penjagaan yang ketat membuat saya enggan menerobos area Rumah Radakng lebih dalam. Alih-alih, saya mengamati keadaan sekitar—selalu ada yang menarik di karnaval. Mata saya lalu tertumbuk pada sekelompok perempuan yang berkumpul tak jauh dari pintu masuk. Bernuansa merah, atasan mereka adalah kemben yang dipadukan dengan rok pendek di atas lutut, semuanya dihiasi motif Dayak. Bagian leher dan dada diperindah oleh manik-manik aneka warna. Kepala mereka dimahkotai oleh ikat (tengkulas) berwarna merah yang dilengkapi bulu burung sebagai simbol kedekatan mereka dengan alam. Ternyata pakaian adat yang mereka gunakan berasal dari kebudayaan Dayak Kantuk yang bermukim di Kabupaten Kapuas Hulu yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Mereka sedang deg-degan menanti giliran tampil menari di atas mobil hias.

Di sudut lain, beberapa orang pria yang mengenakan rompi—dan cawat terbuat dari kulit kayu—juga sedang sibuk mempersiapkan diri. Selain tengkulas mereka juga mengenakan hiasan berbentuk tengkorak manusia. Mengenakan hiasan tengkorak itu, mereka seakan bercerita tentang praktik yang dahulunya menjadi tradisi Dayak: mengayau atau memenggal kepala.

Dahulu, persembahan seorang lelaki ketika melamar perempuan pujaannya adalah tengkorak manusia. Semakin banyak tengkorak yang dibawa, semakin besar pula kemungkinan diterima oleh calon mertua. Pun ketika berseteru dengan suku lain, pihak yang kalah akan dipenggal kepalanya oleh yang menang. Berapa jumlah kepala yang sudah dipenggal menggunakan mandau (parang khas Dayak) akan ditandai dengan semacam hiasan di gagang mandau. Namun masa-masa mengayau sudah lewat, tidak lagi dipraktikkan di masa kini.

traveller kaskus_ karnaval kemerdekaan (5)

Suara sirine membahana, pertanda presiden telah tiba dan sesaat lagi acara akan dibuka. Gelombang manusia menyerang saya dari segala arah. Semua orang berdesakan ke depan agar bisa lebih dekat dengan presiden yang sedang berjalan ke arah panggung. Paspampres agak kewalahan mencegah arus massa yang berusaha memotret atau berjabat tangan dengan presidennya. Setelah berjuang keras akhirnya saya bisa tiba di baris kedua—lumayan dekat dengan panggung. Beberapa orang cukup beruntung bisa berjabat tangan dengan Jokowi, seperti ibu-ibu yang berdiri tepat di depan saya, yang sukses membuat saya tersenyum geli ketika mendengarnya berkata bahwa ia tak akan mencuci tangannya—yang dijabat Jokowi—selama beberapa hari.

Mengenakan pakaian khas Dayak, Joko Widodo secara resmi membuka Karnaval Khatulistiwa. Setelahnya ia naik ke atas sebuah mobil hias yang diberi nama Enggang Gading. Seperti namanya, mobil ini dihias seperti Burung Enggang atau Rangkong.

Ketika Semua Berkumpul Merayakan Kemerdekaan

Melaju pelan di belakang barisan marching band, Enggang Gading yang ditumpangi Jokowi pun bergerak pelan di jalanan. Di belakangnya empat mobil hias lain yang juga dinaiki oleh pejabat—Arief Yahya dan Anies Baswedan—ikut mengiringi. Di momen-momen seperti inilah baru bisa disaksikan interaksi langsung antara rakyat dan pengelola negara.

traveller kaskus_ karnaval kemerdekaan (3)

Selain mereka ada lebih dari 100 rombongan lain yang ikut menyemarakkan acara. Dari mulai utusan dari berbagai provinsi yang mempersembahkan kekayaan budaya daerah masing-masing, komunitas sepeda onthel berkostum jadul, sampai artis ibukota seperti Olga Lydia, Ello, Saykoji, dan Putri Indonesia Lingkungan.

Dari sekian banyak peserta pawai yang lewat, beberapa menarik perhatian saya. Salah satunya mobil hias Provinsi Papua Barat, yang di bagian depannya bertengger ornamen berupa burung kasuari berkuran raksasa. Burung berbetis besar itu tampak benar-benar hidup—bulu hitamnya, lehernya yang berwarna oranye, jambul di kepala, juga tatapan matanya yang tajam.

traveller kaskus_ karnaval kemerdekaan (2)

Provinsi Jawa Timur lain lagi. Berbeda dengan Papua Barat yang menonjolkan kekayaan hayati, Jawa Timur mempertunjukkan kekayaan budaya dengan menampilkan kuda lumping dan reog, selain beberapa orang anak kecil memakai kostum Jawa lengkap dengan blangkon.

Lalu terdengar alunan musik gondang, pertanda rombongan Sumatera Utara akan segera lewat. Tidak seperti rombongan lain yang menggunakan mobil berukuran kecil, mereka memakai truk yang dilengkapi dengan pengeras suara yang dipasang di segala penjuru. Pada sisi truk yang berhiaskan motif kain ulos itu terbentang sebuah spanduk bertuliskan Keluarga Masyarakat Batak. Melihat beberapa orang berpakaian adat menari tor-tor di atas truk, saya spontan berteriak: “Horas!!!

Di belakang Sumatera Utara, mobil hias bernama-lambung Sultan Hamid II milik PDAM Tirta Khatulistiwa berjalan pelan. Tidak seperti rombongan lain yang menyajikan kehebohan, Sultan Hamid II menawarkan pengetahuan dengan cara mengajak penonton untuk belajar sejarah. Di atas mobil, seorang pencerita menarasikan sepak terjang Sultan Hamid II yang, selain Raja Kesultanan Al-Kadriah, Pontianak, juga adalah perancang lambang negara—Garuda Pancasila. Sebagai penggemar sejarah saya tidak mau melewatkan kesempatan ini. Meskipun harus berkeringat sebab mesti berlari-lari kecil, dengan bersemangat saya mengikuti mobil itu selama beberapa menit.

traveller kaskus_ karnaval kemerdekaan (4)

Kemudian sebuah mobil hias penuh lampion merah dan pita emas lewat. Rombongan Yayasan Bhakti Suci itu menyemarakkan pawai dengan membawa dua barongsai yang menari-nari sepanjang jalan dalam alunan tabuhan perkusi oriental. Setiap beberapa saat, ketika diajak berfoto bersama penonton, mereka berhenti untuk berpose. Seiring dengan kembalinya kedua barongsai tersebut ke kandang, berakhir pula pawai darat Karnaval Khatulistiwa 2015. Malam nanti acara masih akan dilanjutkan dengan karnaval laut—yang menampilkan 1500 perahu hias—dan panggung hiburan.

Saya bergegas balik ke Rumah Radakng demi bergabung kembali dengan kawan-kawan Pesona Khatulistiwa. Menurut rencana, kami akan ke alun-alun di pinggir Sungai Kapuas untuk menyaksikan karnaval laut. Namun malang, semua orang sepertinya juga ingin menonton karnaval itu sehingga kami terjebak macet. Akhirnya, bukannya menyaksikan ribuan perahu, kami malah putar arah dan mengganti misi: menjajal kuliner khas Pontianak.

Comments (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *