Jelajah Rasa di Kota Udang

2

Kuliner Cirebon merupakan perpaduan cita rasa Jawa Barat dan Jawa Tengah. Wisata Kuliner di Kota Cirebon yang dijuluki Kota Udang ini menawarkan rasa yang unik dan tentu memikat selera.

Sebagai pecinta masakan pedas, Cirebon tidak pernah ada di dalam daftar wisata kuliner saya – karena prasangka saya adalah masakan-masakan di Cirebon pasti manis-manis. Tapi ternyata prasangka saya salah dan mengajarkan saya untuk “coba aja dulu, baru bisa menilai”.

Berbekal informasi yang didapatkan di internet, ada satu masakan terkenal dari Cirebon yaitu Empal Gentong.
“Rasanya kayak apa ya? Kalau manis yah gak doyan gw!” ungkap saya ke teman seperjalanan.

Akhirnya begitu saya dan teman-teman sampai di Stasiun Parajukan, kami pun langsung mencari angkutan umum ke daerah yang menyediakan Empal Gentong. Dan rekomendasi Empal Gentong yang kami dapatkan dari seorang penumpang angkutan umum adalah Empal Gentong Hj. Dian di Jl. Pleret.

Okesip kami ke sana.

Cukup membayar Rp 3.000 untuk ongkos angkutan umum dengan lama perjalanan lebih kurang 20 menit, kami pun sampai di Restoran Empal Gentong Hj. Dian. Sepanjang perjalanan menuju lokasi, tersedia beragam pilihan Empal Gentong. Asumsi awal kami ketika itu bahwa Empal Gentong benar-benar makanan yang terkenal di sini.

Dari luar, restoran Hj. Dian ini besar dan bersih. Tapi yang membuat kami semakin bersemangat untuk masuk ke dalam adalah bau kambing mudanya sudah tercium dari luar restorannya!

“Wuidih…baunya wangi banget!” puji seorang teman saya.

IMG_5273

Pilihan tempat makannya pun ada 2 macam, resmi di ruangan ber-AC atau lesehan dengan kipas angin. Kami pun memilih makan di lesehan agar bisa selonjoran dan lebih santai. Tidak lama, pelayan membawakan menu makanan dan kami bertiga langsung memilih menu Empal Gentong, Empal Asem, dan Sate Kambing Muda Campur (daging dan lemak) 10 tusuk – yang artinya ½ porsi. Dan ternyata ketiga makanan yang kami pesan adalah 3 menu terbaik di restoran ini. Kami semakin tidak sabar ingin mencicipinya.

Cuaca panas dan perut lapar sering membuat para pengunjung restoran menjadi tidak sabar dalam menunggu menu pesanan tersajikan. Tapi syukurlah bahwa pelayanan di Restoran Hj. Dian sangat memuaskan! Kami hanya menunggu lebih kurang 10 menit, semua menu tersajikan dengan rapi.

Saat melihat ketiga masakan tersebut di depan mata, perut kami serasa berteriak, “Ayo dimakan, tunggu apalagi?” Dan kami pun saling mencicipi ketiga makanan tersebut dan sama-sama takjub dengan rasa tersebut. Gurih, asem, segar, dan daging empuk menyatu di lidah kami, apalagi setelah ditambah dengan bawang goreng dan sambal. Dari ketiga makanan tersebut, kami menjadikan Sate Kambing Muda Campur sebagai favorit. Potongan daging yang besar, empuk, bumbu kacangnya yang meresap ke daging ditambah dengan sambal cabe ijonya berhasil membuat kami terasa sayang menghabiskannya. Ingin nambah tapi apa daya, kuota perut sudah penuh.

Perut kenyang, hati senang dan semakin terpuaskan lagi setelah mengetahui harga yang harus kami bayarkan. Masing-masing porsi cukup dibayar dengan Rp 20.000 saja! Untuk pengalaman kepuasan lidah seperti ini, rasanya Rp 20.000 menjadi harga yang cukup murah untuk dibayarkan.

Sop Bubur
“Sop Bubur?” itu reaksi saya ketika mendengar rekomendasi makanan ini dari seorang teman.
Katanya kalau ke Cirebon harus makan Sop Bubur.

Berbekal informasi, “Sop Bubur gampang kok dicari di Cirebon”, sekitar pukul 6 sore kami pun mencari Sop Bubur di sekitaran Hotel Citra Dream di Jl. Cipto – tempat kami menginap. Hasilnya? Kami harus bertanya ke kira-kira 5 orang untuk mendapatkan Sop Bubur ini.

Terletak di Jl. Tentara Pelajar, Sop Bubur dijual di sebuah gerobak tua dengan diiringi seorang pengamen yang menyanyikan lagu-lagu pop terkini dan bahkan lagu perjuangan. Okesip!

IMG_5365

Karena kami malam itu berniat ingin mencicipi beberapa makanan lagi di Cirebon, sehingga kami memutuskan untuk memesan Sop Bubur setengah porsi saja seharga Rp 9.000.

Sembari menunggu Sop Bubur, saya dan teman-teman main tebak-tebakan seperti apa makanan ini. Saya bahkan sempat kepikiran bahwa makanan ini akan mirip dengan Bubur Manado. Komposisi bubur yang sedikit dengan jumlah daun kemangi yang banyak sekali. Sehingga sering saya bilang Sop Kemangi.

Tidak sampai 10 menit, Sop Bubur kami pun datang.

Mata kami langsung terpaku kepada potongan daging ayam, taburan bawang goreng, kerupuk, taucho, bihun, seledri, daun bawang dan terakhir adalah bubur yang berada di bawah tumpukan komposisi-kompisisi itu. Saya mencoba mencicipinya dengan tidak mengaduknya dan rasanya…kuah sop segar yang terasa adem di perut tapi terasa ada yang kurang, yaitu…kurang pedas. Akhirnya, saya pun menambahkan sambal ke dalam Sop Bubur tersebut dan mengaduknya menjadi satu.

“Nah, ini baru berasa!”

Rasa yang tersajikan cukup unik. Biasanya bubur dimakan dengan kuah kaldu kuning tapi ini kuahnya adalah kuah sop ayam. Dan ada bihunnya juga. Membuat saya dan teman-teman merasa sayang untuk tidak menghabiskannya.

Mie Koclok
Tidak jauh dari tempat Sop Bubur, kami berjumpa dengan kuliner lain khas Cirebon, yaitu Mie Koclok. Ya, Mie Koclok, bukan Mie Kocok.

Namanya juga pengalaman kuliner, tidak peduli perut sekenyang apapun, kami tetap mau mencoba makanan ini tapi cukup membeli 1 porsi saja untuk 3 orang. Harganya pun terjangkau, cukup Rp 8.000.

IMG_5372

Sekilas penampilan Mie Koclok tidak menggugah selera kami. Karena yang terlihat hanya mie kuning, potongan ayam, telor rebus, bawang goreng, dan kuah tepung maizena. Tapi toh tetap kami coba. Dan begitu makanan ini menyentuh lidah, saya terasa diingatkan dengan pepatah “penampilan memang tidak melulu mencerminkan rasa”. Buktinya lidah kami bertiga cocok sekali dengan rasa Mie Koclok ini. Rasa gurih dan manis yang tidak berlebihan terasa pas dipadu padankan. Bahkan telur rebus pun sudah tidak terasa amis saat digabung dengan tepung maizena-nya. Kudos!

Nasi Jamblang
Jelajah rasa kami yang terakhir kami makan hari itu adalah Nasi Jamblang Pak Gendut. Di sepanjang dari Mie Koclok hingga Mal Grage, banyak sekali tenda Nasi Jamblang. Tapi ketika itu kami memilih Nasi Jamblang Pak Gendut, dengan alasan: lebih sepi pelanggan.

IMG_5370

Nasi Jamblang sekilas mirip dengan Nasi Kucing di Jogjakarta. Bedanya, Nasi Jamblang ini dibungkus dengan Daun Jati dan pilihan menu dampingannya lebih variatif dari goreng paru, sate kerang, ayam goreng, otak sapi, dan lain-lain. Lihat saja foto deretan menu pendampingnya.

Akan lebih bijak jika sebelum memilih menu dampingan, kita bertanya lebih dulu mengenai harganya. Karena pengalaman saya dan teman-teman, untuk Nasi Jamblang plus menu dampingan kami dikenai harga Rp 31.000 padahal nasinya sendiri hanya seharga Rp 1.000.

Jujur saja, kami tidak bertanya lebih lanjut ketika itu mengapa harganya membludak menjadi Rp 31.000 padahal kami tidak memakan menu dampingan yang berjumlah banyak. Pikiran kami ketika itu hanya, pengalaman.

***

Secara keseluruhan, lidah dan perut kami merasa sangat terpuaskan dengan kuliner di Cirebon. Dari rasa yang pas di lidah, harga yang tidak terlalu mahal di kantong, dan pengalaman mencoba masakan-masakan baru membuat kami merasa bahwa jelajah rasa di Cirebon patut untuk dicoba sekali lagi.

Sayangnya, tidak ada menu dengan berbahan udang yang kami coba di Kota Udang ini. Tunggu, selalu ada alasan untuk kembali ke Cirebon, kan? ;)

 

2 COMMENTS

  1. Kalo nasi jamblang enaknya pagi2 banget sekitar jam 6 pagi krn mereka ambil dari daerah jamblang pinggiran kota Crb jam 4 pagi… Jd kalo makan jam 6 pagi masih fress belum di pegang banyak org. Di setiap Crb banyak, bahkan ada yg pikulan, itu lebih murah atau di jln tentara pelajar yg belokkan ke pasar pagi, itu enak jamblangnya & murah sebelum toko2 buka jam 8 pagi ????

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

[+] kaskus emoticons nartzco