Erupsi Merapi: Perkenalan dengan Volunturisme

By | 2017-05-03T15:53:24+00:00 22nd, December, 2016|Pilihan Editor, Voluntourism|4 Comments

Perjalanan itu bukan hanya tentang berpuas diri dan volunturisme itu tentang belajar mengamalkan ilmu.

“Bagaimana awalnya hingga bisa menjalani travelling dengan volunturisme?” Pertanyaan dari Adinda, wartawan Harian Nasional, membuat saya merenung beberapa saat. Saya ingat-ingat kembali sejak kapan saya melakukan volunturisme, sebuah kegiatan perjalanan yang sarat nilai sosial. Walaupun ingatan saya tak terlalu tajam tapi samar-samar saya mulai ingat peristiwa erupsi Gunung Merapi 2010 silam.

Enam tahun lalu, menjelang akhir bulan Oktober, suasana memang sedang ramai malam itu. Linimasa Twitter ramai memberitahukan bahwa abu vulkanik sudah mulai turun seperti salju. TV Nasional menyajikan siaran langsung kondisi Jogja. Mbah Merapi memang sedang melakukan ritual empat tahunan. Tapi malam itu “batuknya” lebih besar daripada sebelumnya. Ia mengeluarkan abu hingga ke berbagai penjuru dan awan panas mulai turun ke daerah tertentu. Ribuan orang mengungsi dan disarankan menjauh dari Gunung Merapi.

Masyarakat, mahasiswa, semua bergerak ikut membantu. Saya ingat sekali ketika itu ada Gerakan 1000 Nasi Bungkus yang mengajak siapapun untuk mengumpulkan makanan agar pagi hari nanti korban pengungsian mendapatkan makanan. Setelah diumumkan sejak dini hari melalui media sosial, nasi yang terkumpul luar biasa banyak dan kemudian dikirim ke posko-posko pengungsian. Saya dan beberapa kawan yang aktif di Kaskus Regional Yogyakarta juga ikut bergerak. Kami mulai mengumpulkan informasi. Saat itu kabarnya pengungsi paling banyak berlindung di dua tempat yaitu di GOR UNY dan Stadion Maguwoharjo. Masing-masing dari kami mengambil tindakan untuk berangkat ke salah satu di antara barak itu. Insting saya memilih untuk menuju ke Stadion Maguwoharjo.

Saat tiba di posko Stadion Maguwoharjo, kami seperti menonton langsung serial Walking Dead saat para walker sedang berusaha masuk ke dalam benteng survivor. Orang-orang memaksa mengambil barang-barang bantuan. Relawan yang ada masih belum terkoordinir dengan baik sehingga belum siap menghadapi kericuhan ini. Kami mulai mendekati kerumunan itu kemudian mencoba membuat antrean sambil perlahan masuk ke dalam posko logistik. Makin malam makin ramai yang berdatangan. Kami sudah tidak bisa membedakan yang mana pengungsi yang mana bukan.

Ada informasi dari pengungsi bahwa ada beberapa orang yang mengambil bantuan lebih padahal yang lain belum kebagian. Karena itu, dengan berbagai pertimbangan, akhirnya kami mengumumkan menutup sementara posko logistik dan mengatakan kepada mereka untuk kembali ke barak yang sudah disediakan agar memudahkan kami untuk mendata. Relawan yang hadir saat itu mulai berbagi tugas. Ada yang mengurus makanan-makanan dari Gerakan 1000 Nasi Bungkus yang sudah mulai basi, ada yang mendata bantuan logistik, dan sisanya menyurvei barak-barak pengungsi untuk mengetahui kebutuhan apa yang diperlukan oleh para pengungsi.

Ketika menjadi relawan di Sinabung. (dok. Rendy Cipta Muliawan)

Dalam bencana kita akan melihat sifat manusia yang sebenarnya. Kita bisa melihat mana yang mementingkan diri sendiri dan mana yang rela berkorban untuk mereka yang bahkan tidak dikenal sekalipun. Ada perasaan getir ketika saya melihat langsung mereka yang berebut bahkan hingga berkelahi untuk sebuah alas tidur, anak yang menangis ingin pulang, dan orang tua yang panik tak siap menghadapi situasi seperti ini.

Malam itu di luar gedung ada sepasang kakek dan nenek duduk lesehan di pinggir teras. Beralaskan sarung, si nenek terlihat memegang bungkusan. Mungkin itu beberapa lembar pakaian yang sempat mereka bawa dari rumah. Kami menghampiri mereka dan menawarkan kepada kakek dan nenek itu untuk menyiapkan tempat yang layak di barak—dan kasur bila perlu—jika mereka memang belum mendapatkan tempat. Mereka menolak dengan halus apa yang kami tawarkan. Kami bingung. Tapi kebingungan kami berubah menjadi haru saat kakek itu berkata: “Itu buat yang lain aja, Nak. Kami di sini saja. Kami sudah bersyukur bisa dibawa sampai ke sini dengan selamat. Yang lain mungkin lebih membutuhkan.”

Percakapan yang mengundang haru. Masih banyak lagi kejadian-kejadian mengesankan yang kami alami, seperti ketika ada ibu-ibu pengungsi yang malah memasak makanan untuk kami, anak kecil yang dengan polosnya berniat membeli susu kotak karena berpikir kami berjualan di sana, dan kejadian saat bantuan pakaian layak pakai tiba lalu semua berebutan mengambil pakaian yang ada. Saat itu ada seorang nenek yang hanya melihat saja, saat kami bertanya apakah ia mau diambilkan sarung atau jarik, ia menjawab, “Tidak, Nak. Nenek masih punya. Sudah cukup.”

Selama dua bulan kami sebagai relawan menyaksikan konflik sosial, kecemburuan sosial, dan kepasrahan menerima nasib. Ilmu syukur dan ketabahan atas kejadian yang menimpa adalah pelajaran berharga yang kami dapat selama di sana. Kekurangan bukan berarti harus mencari lebih, kebahagiaan bukan berarti punya banyak barang. Kalau orang lain mendapat lebih, ya, itu rezeki mereka.

Sebagai relawan kami belajar bahwa kebaikan itu bukan hanya tentang memberi tapi juga menjaga diri agar tidak merasa telah berbuat baik dan meminta pamrih. Itulah yang membuat saya membuka lebar pintu rasa syukur hingga sekarang ini. Ketika ditimpa kejadian sesusah apapun, saya cukup mengingat nenek yang begitu ikhlasnya menerima apa yang dia punya tanpa meminta lebih. Itulah ilmu yang saya terapkan selama melakukan perjalanan.

About the Author:

Syukron
Berimajinasi seperti anak-anak, semangat ala pemuda, dan bijaksana layaknya orang dewasa.

4 Comments

  1. cumilebay January 11, 2017 at 5:26 AM - Reply

    Aku pengen lho ikutan jadi relawan gini, membatu sesama tapi ngak pernah klop ama jadwal nya.

  2. Andri Suanto February 27, 2017 at 4:18 PM - Reply

    :mewek terharu eyke

  3. deli April 27, 2017 at 1:11 PM - Reply

    masih nyimpen aja foto di maguwo :matabelo:

  4. Rry Rivano May 11, 2017 at 9:14 AM - Reply

    aku sedih, rupanya saat tertimpa musibah pun masih ada hal-hal egois yang terjadi ya.

Leave A Comment

[+] kaskus emoticons nartzco