Eksotis?

1

“Calling something exotic emphasizes its distance…. We call someone exotic if we aren’t especially interested in viewing them as people — just as objects representing their culture.” -N.K. Jemisin

Eksotisme sebenarnya adalah semacam luka kolonialisme. Dan kita mencetaknya besar-besar di baliho, menyebarnya lewat televisi, dan seringkali bangga dengan label “eksotis”.

Saya lupa kapan terakhir kali memakai kata “eksotis” untuk menunjuk sesuatu. Mungkin 2013. Saya menganggap “eksotis” adalah istilah yang merendahkan. Saat seseorang menyebut sesuatu sebagai eksotis, itu bukan hanya merujuk pada sesuatu yang berbeda, tapi memosisikan diri lebih tinggi dari “yang eksotis” tadi.

Secara etimologi, eksotis berakar dari kata Yunani “exotikos” yang artinya “asing” atau “dari luar”. Teks-teks orientalisme dan post-kolonialisme banyak menyebut eksotis. Eksotisme memang lekat dengan kolonialisme. Ia semacam obsesi orang-orang kulit putih terhadap “other”, terhadap “yang lain”, terhadap “orang-orang aneh berkulit bukan-putih”, terhadap “yang berbeda”, terhadap “yang tidak beradab dan perlu diajari untuk beradab”.

Peliknya, term “eksotis” masih banyak ditemukan hari ini. Terutama dalam konteks perjalanan dan pariwisata. Lihatlah brosur wisata, artikel perjalanan, atau majalah travel kelas menengah. Saya yakin anda tak akan kesulitan menemukan istilah “eksotis”, lengkap dengan pasangannya: “oh pantai yang eksotis”, “budaya eksotis yang patut dipelihara”, dan klise-klise lain.

Lebih peliknya lagi, istilah itu tak hanya dipakai orang “Barat” untuk merujuk ke sesuatu dari orient, dari bukan-Barat. Istilah “eksotis” diadopsi dan direproduksi oleh kita sendiri, orang-orang berkulit coklat, dan merujuk ke sesuatu yang terletak di dunia orang-orang kulit coklat. Secara tak langsung, kita mungkin telah diajari untuk menanam Eurosentrisme dalam kepala. Sehingga kita berpikir dan merasa seolah-olah Barat. Tapi kita bukan.

Yang lebih pelik dari itu adalah kebanggaan sebagai “yang eksotis”. Agak mengerikan kalau upaya promosi pariwisata Indonesia ke wisatawan mancanegara masih memakai istilah “eksotis”. Jualan sih boleh, tapi ya mbok nggak gitu juga. Tapi, nyatanya itu yang kerap terjadi. Tak cuma para pelaku usaha, pemerintah daerah dan nasional kerap meminjam kata “eksotis” sebagai gimmick dalam upaya mereka merayu wisatawan.

Dalam sebuah kuliah Concepts and Approaches, saya bertanya secara tertulis kepada si dosen: “why the idea and exact language of colonialism (for example, and especially, the term “exotic”) still remain today?” Sayangnya, dia tak tahu jawabannya. Alih-alih, dia justru menantang kita untuk mencari alasan mengapa “bahasa” kolonial masih bertahan di tahun 2016.

Menjawab pertanyaan itu memang tak mudah. Kita bisa bilang “karena bisnis dan industri masih menganggap term itu seksi. Wisatawan juga mudah digoda dengan term itu.” Namun, jawaban semacam itu terlalu simplistik dan tak menjelaskan genealogi persoalannya.

Kenapa upaya “othering” masih eksis? Kenapa kita masih suka memberi jarak pada benda, manusia, dan budaya? Kenapa eksotisme terus dicari?

Kenapa tempat, budaya, dan manusia terus dieksotisasi? Kenapa kita terus terkesima pada “yang aneh”, “pada yang bukan-kita”? Entahlah. Mungkin, kolonialisme memang belum berakhir.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

[+] kaskus emoticons nartzco